Perintis Konsol Game Generasi Awal, dari Odyssey Hingga Atari

Pengembangan video games sudah dilakukan sejak tahun '50an. Tapi konsol pertama hadir di 1960-an.

oleh Bayu Galih diperbarui 03 Sep 2013, 09:30 WIB
Tahun 2013 merupakan momen  yang paling menarik bagi para gamer. Sebab di tahun inilah konsol generasi terbaru diperkenalkan. Sony telah mengungkap PlayStation 4 beserta segala kecanggihannya sebagai konsol generasi terbaru besutannya. Sedangkan Microsoft menghadirkan Xbox One sebagai andalan untuk konsol generasi terbaru.

Kedua konsol ini siap menghentak pasar dalam beberapa pekan mendatang, yang diharapkan bisa mulai dimainkan pada masa liburan Natal dan akhir tahun 2013. Lalu apa saja keunggulan dua konsol generasi terbaru ini? Spesifikasi mumpuni tentu saja menjadi daya tarik utama.

Baik PlayStation 4 dan Xbox One menawarkan konsol dengan prosesor 8-core berarsitektur x86, media penyimpanan 500 GB, drive untuk disk Blu-ray, output yang kompatibel dengan TV 4K OLED via HDMI, serta RAM 8 GB. Tentu spesifikasi ini menyajikan permainan yang lebih menarik, dengan grafis yang lebih tajam, dan pengalaman bermain yang menakjubkan.

Tentu saja konsol generasi terbaru ini akan menyokong permainan online, yang memungkinkan mode multiplayer. Gamer pun bisa lebih ramai untuk share 'prestasi' permainannya ke media sosial. Dengan berbasis sosial, game tentu saja akan lebih ramai dan menyenangkan.

Bagi gamer yang sempat mencicipi konsol game sederhana seperti Atari 2600 atau Nintendo Entertainment System, tentu tiap generasi konsol menghasilkan kenangan manis tersendiri. Tanpa terasa konsol game sudah berusia 60 tahun sejak pengembangan pertamanya di tahun 1950-an.

Lalu seperti apa evolusi konsol game? Berikut paparannya yang akan Liputan6.com sajikan dalam beberapa tulisan berbentuk serial dan dikutip dari berbagai sumber.

Masa Perintis

Pengembangan video games sudah dilakukan sejak tahun '50an. Menurut situs Brookhaven National Laboratory, perintis kehadiran video game ini menyebabkan orang-orang berbaris di depan Laboratorium itu hanya untuk bermain Tennis for Two. Ini merupakan permainan elektronik pertama yang ditampilkan.

Foto dok. Liputan6.com


Foto dok. Liputan6.com
Tapi ketika itu konsol game untuk memainkan video game masih ditampilkan dalam layar oscilloscope di komputer superbesar seukuran lemari, dan belum terhubung ke televisi. Tennis for Two diperkenalkan pada 18 Oktober 1958 dan menjadi permainan pertama dengan controlleryang dipegang di tangan pengguna.

Konsepnya tentu saja masih sangat sederhana. Game diciptakan seorang ahli nuklir bernama William Higinbotham, dengan menggunakan tabung sinar katoda serupa televisi hitam -putih yang dipancarkan ke layar oscilloscope dengan kekuatan 36 Hertz. Higinbotham mendesain agar pemain bisa melontarkan bola berupa ke sisi lain yang dibatasi suatu garis (yang dianggap net) dalam bentuk dua dimensi, seperti tenis.

Di Oktober 1982, majalah Creative Computing menobatkan Tennis for Two sebagai video game pertama. Tapi dalam sebuah pengadilan paten terkait konsol video game pertama yang diajukan Nintendo, Tennis for Two tak dianggap sebagai video game pertama karena tak menggunakan sinyal video.

Konsol Pertama

Tapi konsep konsol game seperti yang dikenal saat ini baru muncul di tahun 1960-an. Mengutip 1Up.com, adalah Ralph Baer, ilmuwan yang mendesain dan menciptakan prototipe konsol game bernama Brown Box pada 1968. Setelah sukses dalam pengembangan dan sejumlah demonstrasi, Brown Box itu pun diproduksi massal dan berubah nama menjadi Magnavox Odyssey.

Odyssey menggunakan sirkuit analog untuk output dalam menayangkan gambar di televisi. Konsol ini juga menggunakan enam baterai untuk menghidupkannya.

Foto dok. Liputan6.com


Sebenarnya, Odyssey hanya menyajikan sejumlah titik yang bisa dikendalikan pada layar. Tapi untuk menghadirkan permainan yang asyik, Magnavox melengkapi Odyssey dengan sejumlah aksesori permainan. Tanpa aksesori, di layar hanya terlihat titik-titik biasa. Justru dengan aksesori itulah permainan bisa dimainkan.

Ada sepuluh cartridge yang dihadirkan sebagai game di konsol Odyssey. Tiap cartridge menyajikan hal yang berbeda, misalnya saja mengendalikan garis untuk memantulkan bola atau mengendalikan titik. Aksesori itu memungkinkan penggunanya bermain Hockey, Tennis, atau Rollet.

Permainan lebih berkembang di cartridge nomor 9 hingga 10. Sebab di seri ini konsol Odyssey sudah dilengkapi dengan controllermenembak. Ini menjadikan pengguna bisa menembak titik-titik ke layar. Dengan aksesori tertentu, permainan menembak pun didesain seperti koboi. Seperti apa perminannya? Anda bisa lihat contohnya dalam video di tautan ini.

Lebih Menarik Berkat Atari

Konsol game generasi kedua lebih menarik berkat seseorang bernama Nolan Bushnell. Pria inilah yang mendirikan Atari, setelah sebelumnya sukses menghadirkan arcade game bernama Pong. Sepintas, game Pong ini memang mirip dengan permainan yang sudah dihadirkan oleh Odyssey. Tak heran jika kemudian Atari menuai gugatan dari Magnavox.

Tapi Bushnell terus melanjutkan inovasinya dengan membuat konsol video game, setelah dianggap cukup sukses di arcade dengan sejumlah game populer. Dilansir dari situs Atari Museum, Konsol buatan Atari itu berawal dari kelompok perintis insinyur bernama Cyan Engineering yang dikuasai Atari pada 1973. Cyan Engineering memang bertugas untuk melakukan penelitian mengenai konsol generasi terbaru itu, hingga kemudian terciptalah Stella, prototipe konsol game pertama besutan Atari.

Stella merupakan CPU, yaitu MOS Technology 6502 dengan versi yang lebih murah dan dikenal dengan 6507. CPU ini dilengkapi dengan RAM dan chip I/O. Baru pada tahun 1977 Atari mentransformasi Stella menjadi konsol game Atari 2600, setelah Bushnell menjual perusahaannya ke Warner Communication seharga US$ 28 juta. Warner berjanji akan segera merilis konsol game itu secara massal saat membeli Atari.
Foto dok. Liputan6.com

Dengan banderol harga US$ 199, Atari melengkapinya dengan dua joystick dan cartridge untuk permainan bernama Combat, yang menyerupai permainan tank. Tapi tak hanya Combat, sebab permainan yang lebih beragam pun dihadirkan Atari. Game itu antara lain Asteroids, Centipede, Breakout, PacMan, Space Invaders, dan masih banyak lagi.

Meski begitu Atari 2600 bukan konsol generasi kedua yang pertama kali diperkenalkan. Di tahun 1976, Fairchild telah merilis Video Entertainment System. Konsol ini kemudian berganti nama menjadi Channel F, saat Atari memperkenalkan konsol 2600 sebagai Video Computer System.

Sayangnya Channel F tak berkembang pesat seperti Atari. Bahkan Fairchild harus ikhlas untuk menghentikan produksi Channel F saat industri game mengalami kerugian pada 1977. Ini tentu berbeda dengan Atari yang malah mendapatkan dana segar setelah Bushnell menjual perusahaan kepada Warner.

Atari di tahun berikutnya mengalami perkembangan dengan menghadirkan game 8 bit, dan menghadirkan konsolnya dalam berbagai variasi produk. Antara lain, Atari 5200, Atari 2800, Atari 2000, dan Atari 3200. Hingga kemudian para pengembang di Atari mengeluh kepada perusahaan mereka karena tak mencantumkan nama mereka sebagai kredit. Kelak, ini menjadi salah satu faktor menurunnya popularitas Atari di industri game.

Mengutip buku Encyclopedia of Video Games: The Culture, Technolgy and Art of Gaming Volume I, banyak para pengembang yang mendirikan perusahaan software game sendiri. Salah satu yang terkenal adalah Activision, yang didirikan sejumlah programmer Atari, yaitu David Crane, Larry Kaplan, Alan Miller, dan Bob Whitehead.

Tapi Atari mengubah strategi bisnis berkat Atari 8-bit family, yang menjadikannya beralih ke industri PC. Perangkat besutan itu antara lain Atari 400 dan Atari 800.

Tentu saja evolusi konsol game masih terus berlanjut. Kami akan menyajikan edisi berikutnya, yang ditandai dengan munculnya konsol Nintendo Entertainment System. (gal)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya