IHSG Ditutup Menguat 1,76%, Tapi Masih Jauh dari 8.000

IHSG ditutup menguat 1,76% ke level 7.710 didorong aksi bargain hunting investor setelah pelemahan sehari sebelumnya.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 05 Maret 2026, 17:30 WIB
IHSG menguat seiring sentimen positif global dan aksi beli saham murah oleh investor. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Kamis sore setelah investor memanfaatkan momentum penurunan harga saham untuk melakukan aksi bargain hunting atau berburu saham murah.

Pada Kamis (5/3/2026), IHSG menguat 133,48 poin atau 1,76 persen ke posisi 7.710,54. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut naik 15,37 poin atau 1,99 persen ke posisi 787,82.

Penguatan IHSG terjadi setelah sehari sebelumnya indeks sempat melemah tajam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG yang kembali menguat memang telah diperkirakan sebelumnya.

"Sesuai perkiraan, IHSG berhasil rebound, didorong oleh sentimen positif penguatan indeks bursa global, serta aksi bargain hunting meskipun juga terjadi profit taking pada beberapa saham yang mengalami rally seperti misalnya saham sektor migas," ujar Ratna Lim dikutip dari Antara. 

IHSG dibuka menguat sejak awal perdagangan dan mampu bertahan di zona positif hingga penutupan sesi pertama.

Memasuki sesi kedua, indeks tetap berada di area hijau hingga penutupan perdagangan saham.

 

Investor Cermati Data Ekonomi Global dan Cadangan Devisa

Layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain dipengaruhi sentimen global, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Ratna Lim mengatakan investor menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia periode Februari 2026 yang berpotensi kembali mengalami penurunan seiring berlanjutnya tekanan pada nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, pelaku pasar global juga menunggu beberapa indikator ekonomi penting dari Amerika Serikat.

Data yang akan dirilis antara lain nonfarm payrolls, tingkat pengangguran Februari 2026, serta data penjualan ritel Januari 2026.

Berdasarkan konsensus pasar, data nonfarm payrolls AS diperkirakan melambat menjadi sekitar 59.000 pada Februari 2026, dari sebelumnya 130.000 pada Januari 2026.

Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap berada di level 4,3 persen.

Rilis data tersebut dinilai berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia.

 

Mayoritas Sektor Menguat

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebagian besar sektor saham mencatatkan penguatan pada perdagangan Kamis.

Penguatan dipimpin sektor barang konsumen nonprimer yang naik 3,39 persen, diikuti sektor industri sebesar 2,66 persen, serta sektor barang baku yang meningkat 2,29 persen.

Sementara itu, hanya satu sektor yang mengalami pelemahan yaitu sektor transportasi dan logistik yang turun tipis 0,01 persen.

Beberapa saham yang mencatatkan kenaikan terbesar antara lain RODA, LAND, BIPP, KOTA, dan INCF.

Sedangkan saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni ELPI, INDS, BBSS, MMLP, dan ZATA.

Sepanjang perdagangan, frekuensi transaksi saham tercatat 2,08 juta kali dengan volume perdagangan mencapai 34,46 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp17,94 triliun.

Secara keseluruhan, terdapat 597 saham menguat, 125 saham melemah, dan 96 saham stagnan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya