Presiden AS Donald Trump Beli Obligasi Rp 1,69 Triliun

Seperti investor kaya lainnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga membeli obligasi sebagai bagian dari portofolio investasinya.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 17 Januari 2026, 15:14 WIB
Dalam pengajuan keuangan terungkap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membeli obligasi pemerintah daerah dan korporasi.(Dok. AP/Evan Vucci)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membeli sekitar USD 100 juta atau Rp 1,69 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.910) obligasi pemerintah daerah dan korporasi dari pertengahan November hingga akhir Desember 2025. Pembelian obligasi itu termasuk hingga USD 2 juta atau Rp 33,81 miliar di obligasi Netflix dan Warner Bros Discovery hanya beberapa minggu setelah perusahaan-perusahaan itu mengumumkan merger.

Mengutip Yahoo Finance, Sabtu (17/1/2026), pengungkapan keuangan itu diunggah pada Kamis dan Jumat yang menunjukkan sebagian besar pembelian Trump adalah obligasi pemerintah dari kota-kota, distrik sekolah lokal, perusahaan utilitas dan rumah sakit. Namun, ia membeli obligasi dari perusahaan-perusahaan termasuk Boeing Occidental dan General Motors.

Investasi tersebut merupakan aset terbaru yang dilaporkan ditambahkan ke portofolio Trump yang terus berkembang selama masa jabatannya. Portofolio tersebut mencakup kepemilikan di sektor-sektor yang mendapat manfaat dari kebijakannya, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang konflik kepentingan.

Misalnya, Trump mengatakan pada Desember ia akan memiliki suara dalam apakah Netflix dapat melanjutkan akuisisi Warner Bros Discovery senilai USD 83 miliar atau Rp 1.403 triliun yang diusulkannya, yang menghadapi tawaran saingan dari Paramount Skydance. Kesepakatan apa pun untuk mengakuisisi Warner Bros akan membutuhkan persetujuan regulator.

Seorang pejabat Gedung Putih, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan pada Jumat bahwa portofolio saham dan obligasi Trump dikelola secara independen oleh lembaga keuangan pihak ketiga dan baik Trump maupun anggota keluarganya tidak memiliki kemampuan untuk mengarahkan, memengaruhi, atau memberikan masukan mengenai bagaimana portofolio tersebut diinvestasikan.

Seperti banyak individu kaya, Trump secara teratur membeli obligasi sebagai bagian dari portofolio investasinya. Ia sebelumnya mengungkapkan setidaknya pembelian obligasi dari akhir Agustus hingga awal Oktober senilai USD 82 juta atau Rp 1,38 triliun.

Penutupan Wall Street pada 16 Januari 2026

Pasar Saham AS atau Wall Street.Unsplash/Aditya Vyas

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan saham Jumat, 16 Januari 2026. Indeks S&P 500 melemah dan mencatatkan penurunan pekan ini seiring pelaku pasar mempertimbangkan komentar terbaru yang dibuat oleh Presiden AS Donald Trump terkait dengan the Federal Reserve (the Fed) dan geopolitik.

Mengutip CNBC, Sabtu (17/1/2026), indeks S&P 500 turun 0,06%  dan ditutup ke posisi 6.940,01. Indeks Nasdaq sedikit turun 0,06% menjadi 23.515,39. Indeks Dow Jones terpangkas 83,11 poin atau 0,17% menjadi 49.359,33.

Untuk minggu ini, S&P 500 mencatat penurunan 0,4%, sementara Dow Jones yang terdiri dari 30 saham merosot 0,3%. Indeks Nasdaq susut 0,7% pada minggu ini.

Tiga indeks utama mencapai titik terendah dalam sesi perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan di Gedung Putih pada Jumat pekan ini. Ia mengatakan lebih menyukai Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett tetap berada di posisinya saat ini dia mungkin tidak akan dipilih untuk menjadi ketua the Fed berikutnya.

“Sebenarnya saya ingin Anda tetap di posisi Anda sekarang, jika Anda ingin tahu yang sebenarnya,” kata Trump.

 

 

Sentimen Wall Street

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Hassett sebelumnya dipandang sebagai kandidat terdepat untuk menggantikan ketua the Federal Reserve Jerome Powell, yang masa jabatannya berakhir Mei. Namun, pasar prediksi mantan Gubernur the Fed Kevin Warsh unggul dalam persaingan setelah pernyataan presiden.

Pelaku pasar melihat Hasset sebagai pilihan yang lebih ramah pasar untuk menggantikan Powell. Wall Street lebih memilih Hassett ketimbang Warsh untuk mempertahankan suku bunga rendah.

“Baik itu Hassett atau orang lain, saya pikir asumsi yang kita setidaknya sebagian besar dari kita miliki adalah siapa pun itu, orang ini pasti akan memiliki motif politik dan bukan pola pikir yang lebih tradisional, yang mencoba untuk sepenuhnya objektif dalam memimpin the Federal Reserve (the Fed),” ujar Vice President of Portfolio Management Mercer Advisors, David Krakauer.

“Ancaman terhadap independensi Fed tentu saja, Anda tahu, menjadi perhatian bagi kita dan semua orang,” ia menambahkan.

 

Saham Bank Melemah

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Indeks utama baru saja mengakhiri sesi yang menguntungkan berkat kenaikan saham chip. Taiwan Semiconductor memimpin kenaikan setelah laporan kuartal keempat yang luar biasa. Lebih lanjut, AS dan Taiwan mencapai kesepakatan perdagangan di mana perusahaan chip dan teknologi Taiwan akan investasi USD 250 miliar atau Rp 4.227 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.910).

Saham Taiwan Semi dan saham chip lainnya seperti Broadcom dan Advanced Micro Devices menguat pada Jumat pekan ini.

Saham bank melemah pada periode mingguan meskipun laba kuat karena kekhawatiran seputar seruan Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit tetap ada. Saham JPMorgan Chase dan Bank of America termasuk yang tertinggal, masing-masing turun 5% selama sepekan.

Ini adalah minggu yang sibuk bagi investor. Mereka bergulat dengan serangkaian berita utama dari Washington, mulai dari kekhawatiran atas ancaman terhadap independensi Fed hingga meningkatnya risiko geopolitik di Iran dan Greenland. Risiko geopolitik diperburuk pada hari Jumat setelah Trump mengatakan dia mungkin akan mengenakan tarif pada negara-negara "jika mereka tidak mengikuti Greenland."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya