Liputan6.com, Jakarta - PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) mencatat penurunan penjualan dan laba sepanjang sembilan bulan pertama 2025.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (25/10/2025), PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) mencatat penjualan bersih Rp 13,12 triliun hingga kuartal III 2025. Penjualan bersih Perseroan turun 2,38% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 13,44 triliun.
Advertisement
Beban pokok penjualan naik 1,13% menjadi Rp 10,62 triliun hingga September 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 10,51 triliun.
Perseroan membukukan laba kotor terpangkas 14,9% menjadi Rp 2,49 triliun hingga September 2025. Pada periode sama tahun sebelumnya, Perseroan mencatat laba kotor Rp 2,93 triliun.
Perseroan membukukan beban penjualan turun menjadi Rp 726,51 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 734,35 miliar. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp 577,70 miliar hingga September 2025 dari periode sama tahun lalu Rp 528 miliar. Beban keuangan susut menjadi Rp 355,90 miliar dari Rp 446,70 miliar.
Perseroan meraup keuntungan kurs mata uang asing sebesar Rp 98,18 miliar hingga September 2025 dari rugi Rp 22,82 miliar. Perseroan mencatat laba dari entitas asosiasi sebesar Rp 10,07 miliar dari rugi Rp 14,47 miliar. Penghasilan bunga naik menjadi Rp 15,38 miliar hingga September 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 9,12 miliar.
Perseroan mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 20,11% menjadi Rp 789,69 miliar hingga September 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 988,55 miliar. Laba per saham dasar turun menjadi Rp 226,6 hingga kuartal III 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 283,7.
Aset Perseroan
Total ekuitas tercatat Rp 10,10 triliun hingga September 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 9,45 triliun. Liabilitas Perseroan naik menjadi Rp 12,20 triliun hingga September 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 11,10 triliun.
Aset Perseroan naik menjadi Rp 22,31 triliun hingga September 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 20,5 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 866,78 miliar hingga 30 September 2025.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 24 Oktober 2025, harga saham GJTL ditutup naik 6% ke posisi Rp 1.060 per saham. Harga saham GJTL berada di level tertinggi Rp 1.115 dan terendah Rp 1.000 per saham. Total frekuensi perdagangan 6.421 kali dengan volume perdagangan 407.991 saham. Nilai transaksi Rp 43,4 miliar.
Gajah Tunggal Cairkan Kredit Sindikasi Rp 4,4 Triliun
Sebelumnya, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) mencairkan fasilitas kredit pada Jumat, 10 Januari 2025. Hal ini dilakukan untuk meredam gejolak valuta asing.
Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Rabu (15/1/2025), PT Gajah Tunggal Tbk telah memakai fasilitas kredit baru senilai Rp 4,4 triliun. Fasilitas kredit itu meliputi dua tranche dengan tenor masing-masing delapan dan sembilan tahun.
Perseroan memperoleh fasilitas kredit dari sindikasi bank yang terdiri dari Bank Central Asia (BCA), PT Bank Digital BCA, PT Bank Permata Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT KEB Hana Indonesia dan PT Bank Oke Indonesia Tbk sebesar Rp 4,4 triliun.
Perjanjian Kredit Sindikasi
Adapun berdasarkan perjanjian kredit sindikasi pada 14 November 2024 di mana BCA juga berperan sebagai original mandated lead arranger dan bookrunner, serta agen fasilitas dan agen jaminan dari bank yang membiayai.
Tranche dua terdiri dari fasilitas sebesar Rp 2,8 triliun sudah dipergunakan seluruhnya oleh Perseroan untuk melunasi lebih awal seluruh jumlah terhutang berdasarkan Senior Secured Notes yang diterbitkan pada 23 Juni 2021 dengan Deutsche Bank Hongkong sebagai wali amanat dengan jumlah pokok USD 175 juta. Secured notes tersebut jatuh tempo pada 2026.
"Pelunasan lebih awal atas senior secured notes dijadwalkan pada 16 Januari 2025,” tulis Direktur Gajah Tunggal Kisyuwono.
Ia menyebutkan, dengan pencairan fasilitas kredit baru diharapkan dapat berdampak positif terhadap keuntungan Perseroan dengan meredam gejolak valuta asing. Hal ini mengingat fasilitas kredit baru selurunya dalam mata uang rupiah dan tingkat bunga lebih rendah.