Liputan6.com, Jakarta Harga tembaga dunia langsung melonjak setelah Freeport-McMoRan (NYSE) mengumumkan kondisi force majeur imbas insiden di tambang PT Freeport Indonesia di Papua.
Pada 8 September 2025 malam sekitar pukul 22.00 WIT terjadi longsor lumpur bijih basah di area tambang bawah tanah di kawasan Grasberg Block Cave (GBC) Extraction 28-30 Panel, Tembagapura, Kabupaten MimikaWIT. Kejadian ini menyebabkan 2 pekerja tewas.
Advertisement
Insiden ini yang memicu harga tembaga yang dikontrak dari tambang Grasberg Block Cave di Indonesia ikut melambung.
Melansir laman mining.com, Kamis (25/9/2025), harga kontrak berjangka tembaga untuk tiga bulan diperdagangkan di atas USD 10.496 per ton (USD 4,7710 per lb.) di CME, naik 2,74%.
Di London, harga tembaga untuk pengiriman tiga bulan naik sebanyak 2% menjadi USD 10.172 per ton di London Metal Exchange, level tertinggi dalam lebih dari 15 bulan.
Kondisi ini ikut menurunkan saham Freeport yang susut sebanyak 10,4% di New York. Saat ssaham pesaingnya Glencore PLC (+3%), Teck Resources (+5%), dan Antofagasta (+7,4%) justru naik.
BMO Capital Markets mengatakan pengumuman force majeur di tambang Freeport sejalan dengan ekspektasi jika terjadi penurunan produksi tembaga pada paruh kedua 2025.
Meski adanya pemangkasan produksi awal sebesar 35% terhadap prospek produksi tahun 2026 merupakan dampak negatif tambahan. Produksi Grasberg diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat sebelum insiden hingga tahun 2027.
Posisi Sulit Freeport
Para analis menggambarkan kondisi ini sebagai "perkembangan negatif jangka pendek yang kemungkinan akan menempatkan Freeport dalam posisi sulit."
Namun, BMO juga menyoroti bahwa 60% produksi tembaga Freeport berasal dari Amerika Utara dan Selatan, yang berarti perusahaan masih memiliki produksi regional yang kuat.
Pada saat yang sama, potensi kenaikan harga tembaga akibat berkurangnya pasokan sebagian dapat mengimbangi dampaknya.
Kecelakaan Fatal
Tercatat, dua pekerja tewas setelah kecelakaan yang terjadi pada 8 September di Grasberg. Menurut Freeport, kecelakaan terjadi saat datang sekitar 800.000 metrik ton aliran material basah secara tiba-tiba memasuki tambang dan menyebar dengan cepat melintasi berbagai tingkat.
Produksi di Grasberg yang merupakan tambang tembaga terbesar kedua di dunia telah dihentikan setelah kecelakaan tersebut.
Lubang bijih Grasberg Block Cave menyumbang 50% dari perkiraan cadangan terbukti dan terduga PT Freeport Indonesia per 31 Desember 2024. Serta sekitar 70% dari proyeksi produksi tembaga dan emas perusahaan sebelumnya hingga tahun 2029.