Eksistensi Tumpeng dalam Tradisi Masyarakat Jawa, Tak Hanya dalam Bentuk Makanan

Tumpeng memang sangat identik dengan kebudayaan dan tradisi masyarakat Jawa yang jarang absen.

oleh Switzy Sabandar diperbarui 14 Okt 2022, 01:00 WIB
Ilustrasi tumpeng/credit: dream.co.id

Liputan6.com, Yogyakarta - Indonesia merupakan negara kepualauan yang kaya akan tradisi dan budayanya. Dalam setiap tradisi dan budaya, akan selalu ada suatu simbol dan keunikan yang menjadi ciri khas dari tradisi itu sendiri.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, salah satunya, identik dengan adanya tumpeng. Ya, tumpeng memang sangat identik dengan kebudayaan dan tradisi masyarakat Jawa yang jarang absen.

Tumpeng merupakan nasi yang penyajiannya berbentuk kerucut. Nasi berbentuk kerucut ini disajikan pada sebuah nampan dan diletakkan di bagian tengah.

Pada bagian pinggir nasi biasanya disajikan aneka sayur dan lauk pauk, seperti sayur urap atau gudangan, telur, ikan asin, tahu, tempe, ayam, kerupuk, dan lainnya. Terkadang beberapa jajanan pasar juga diikutsertakan, seperti pisang raja, nagasari, hingga apem.

Dalam hal ritual atau syukuran, tumpeng hadir dalam upacara mendirikan rumah, peresmian gedung, perkawinan, kelahiran, hingga kematian. Disebutkan bahwa tumpeng juga merupakan simbol religius masyarakat Jawa.

Bentuk kerucut menggambarkan sekumpulan lingkaran yang semakin ke atas semakin kecil dan lancip. Bentuk lingkaran tersebut menggambarkan tentang sekumpulan masyarakat, sementara bentuk lancip pada ujungnya menggambarkan Tuhan.

Seiring perkembangannya, tumpeng tak hanya hadir sebagai 'makanan'. Tumpeng juga hadir sebagai gunungan dalam upacara grebeg, kayon dalam pertunjukan wayang kulit, rumah joglo, stupa Candi Borobudur, serta instrumen gamelan.

Hal ini membuktikan bahwa tumpeng telah mengakar dalam kebudayaan Jawa sebagai simbol agung kebudayaan dan keselamatan.

 

Penulis: Resla Aknaita Chak

Saksikan video pilihan berikut ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya