OPINI: Membangkitkan Kekuatan Cloud Hybrid dengan Open Source

Kemampuan untuk memanfaatkan keseluruhan potensi data dapat menjadi faktor pembeda antara para disruptor dengan kelompok kolot.

oleh Liputan6.com diperbarui 08 Mei 2018, 18:00 WIB
Frank Feldmann, Senior Director, APAC Office of Technology, Red Hat. Dok: Abdillah

Liputan6.com, Jakarta - Data merupakan topik hangat di dunia bisnis. Jumlah data yang dihasilkan secara global diperkirakan mencapai 163 zettabyte--dengan 21 angka nol--pada tahun 2025, menurut sebuah laporan resmi berjudul 'Data Age 2025' yang diterbitkan IDC, dan dampak dari ekonomi data yang tengah berkembang ini dapat bersifat transformasional.

Ini bukan hanya tentang jumlahnya semata-mata. Banyak perusahaan yang tengah berupaya untuk mengetahui cara mengelola data tidak terstruktur, seperti ribuan foto dan video yang dihasilkan dari platform media sosial, serta aliran data mentah yang dikumpulkan oleh sensor-sensor (disisipkan ke dalam perangkat-perangkat terhubung).

Kemampuan untuk memanfaatkan keseluruhan potensi data dapat menjadi faktor pembeda antara para disruptor dengan kelompok kolot atau orang-orang yang terakhir melakukan adopsi inovasi (laggard).

Kemampuan ini dapat memberikan wawasan strategis baru bagi para pemimpin bisnis untuk melakukan penargetan secara lebih akurat dan memberikan layanan yang disesuaikan kepada para pelanggan.

Cloud hybrid memungkinkan penggunaan data yang lebih terbuka dan fleksibel guna memungkinkan perusahaan untuk menghasilkan wawasan-wawasan strategis.

"Bumbu Rahasia" Cloud Hybrid

Cloud hybrid dapat menawarkan yang terbaik dari kedua jenis cloud karena dirancang untuk menggabungkan "keterbukaan" dari cloud publik dengan keamanan yang lebih besar dari cloud pribadi.

Bagi perusahaan, hal ini bisa berarti ketersediaan layanan dan informasi penting selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, sementara data klien dan data sensitif lainnya dapat dikelola dari jarak dekat.

Open source bahkan dapat membuat cloud hybrid lebih terbuka dan fleksibel. Sebagai sistem operasi open source, Linux dirancang untuk dijalankan dari infrastruktur bare metal ke infrastruktur on-premise tervirtualisasi, yang membuatnya menjadi pertimbangan utama saat memutuskan untuk memanfaatkan portabilitas cloud.

Sementara itu, portabilitas aplikasi di seluruh cloud dapat ditingkatkan melalui container Linux, yang dapat menghadirkan tingkat virtualisasi baru guna memungkinkan pengalaman pengguna yang lebih konsisten.

Open source dapat memberi kebebasan kepada perusahaan untuk mengembangkan strategi cloud hybrid dengan cara mereka sendiri.

Open source tidak hanya membantu mereka dalam memilih infrastruktur dan layanan TI yang sesuai, namun juga memungkinkan fleksibilitas untuk memindahkan aplikasi dan data dari satu lokasi ke lokasi lain, kapan pun dan di mana pun mereka inginkan.

Mengalihkan Sumber Daya dari Pengeluaran Mutlak ke Inovasi

Selain dirancang untuk menawarkan fleksibilitas yang lebih besar dan pilihan lebih beragam, cloud hybrid dapat mengembalikan kontrol perusahaan guna mempercepat inovasi.

Cloud hybrid terbuka dapat membantu memaksimalkan sumber daya perusahaan yang sudah ada, sekaligus memungkinkan sistem, aplikasi, dan data untuk bekerja sama dengan lebih baik di seluruh lingkungan cloud berbeda.

Yang terpenting, cloud hybrid terbuka dapat memberikan nilai bisnis strategis dari komputasi cloud. Cloud hybrid terbuka menggunakan investasi TI yang ada, mencakup server fisik, beberapa platform virtualisasi, dan sejumlah pilihan cloud publik yang luas.

Hal ini dapat membantu menghapus keadaan silo dan memungkinkan perusahaan untuk berkembang menuju cloud, sekaligus membantu menghadirkan nilai TI tambahan.

Sebuah cloud hybrid terbuka dapat membantu perusahaan mengalihkan sumber daya dari pengeluaran-pengeluaran yang mutlak ke inovasi, berpotensi menghasilkan model bisnis, proses, dan peluang baru.

Adopsi Cloud Hybrid

Beberapa perusahaan enterprise telah beralih ke Red Hat sebagai mitra teknologi strategis dalam perjalanan penting mereka menuju strategi cloud hybrid.

Saat ini teknologi cloud hybrid dapat menawarkan kontrol dan kinerja yang lebih baik, sekaligus membantu mengurangi risiko dan biaya. Red Hat dengan solusi-solusi open source mulai dari OpenShift hingga OpenStack.

Ditambah kolaborasi dengan para mitra seperti IBM guna mempercepat inovasi di lingkup cloud hybrid, berada pada posisi yang tepat untuk membantu perusahaan-perusahaan dalam mencapai transformasi cloud hybrid, sehingga memungkinkan pengalaman yang lebih lancar lagi bagi para karyawan dan pelanggan mereka.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya