Darurat Petani Bawang Merah

Membludaknya pasokan bawang yang tak diimbangi dengan kebutuhan pasar menjadikan bawang merah lokal tak seksi.

oleh Yusron Fahmi diperbarui 26 Nov 2017, 03:17 WIB

Liputan6.com, Cirebon - Anjloknya harga bawang merah mendorong para petani bawang berdemo di depan kantor Bupati Cirebon beberapa waktu lalu. Mereka protes dan menuntut keadilan atas kejadian yang menyengsarakan para petani bawang lokal.

Wasirudin misalnya, ia sudah puluhan tahun menggeluti dan mempelajari bercocok tanam bawang merah. Baginya distribusi bawang tidaklah mudah, butuh kerja ekstra agar bawang yang dihasilkan bisa laku di pasaran.

Panen kali ini kualitas bawang merah yang dihasilkan masuk kategori super, namun panen bawang super ini rontok di tangan tengkulak bawang merah.

Bawang merah merupakan tanaman pertanian yang banyak dikembangbiakkan di wilayah ini. Tak heran sebagian besar petani di sini bergantung hidup dari tanaman bumbu yang satu ini.

Di tanah air, bawang merah termasuk komponen pokok bumbu masak di hampir setiap hidangan masakan. Maka kebutuhannya pun cukup tinggi.

Kebutuhan bawang skala nasional mencapai 1,2 juta ton per tahun, sedangkan produksi bawang tak kurang dari 1,5 juta ton per tahunnya. Untuk produk bawang merah, Indonesia surplus sekitar 300 ribu ton.

Membludaknya pasokan bawang yang tak diimbangi dengan kebutuhan pasar menjadikan bawang merah lokal tak seksi. Harga bawang pun terjun bebas di angka Rp 6.000 hingga Rp 8.000 per kilogramnya di tingkat petani.

Saksikan selengkapnya Darurat Petani Bawang Merah yang ditayangkan Sigi SCTV, Minggu (26/11/2017), dalam tautan video di atas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya