Persiapan Pemerintah Hadapi Ramadan dan Mudik Lebaran

Jokowi mengumpulkan menteri kabinet Kerja guna membahas secara khusus kesiapan menghadapi Ramadan dan Idul Fitri 1438 H.

oleh Ahmad Romadoni diperbarui 04 Apr 2017, 08:40 WIB
Sejumlah anak berjualan di pintu tol keluar Brebes Timur, Jawa Tengah, (3/7).Hari mudik dan libur sekolah, Sejumlah anak di kawasan tersebut berjalan untuk menjajakan barang dagangannya kepada pemudik yang terkena macet. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengumpulkan menteri kabinet Kerja guna membahas secara khusus kesiapan menghadapi Ramadan dan Idul Fitri 1438 H. Meski masih lama, Jokowi ingin kesiapan benar-benar baik.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, beberapa hal menjadi fokus Presiden agar para menteri terkait segera berbenah. Pertama terkait transportasi. Berbagai ruas jalan tol terus dibangun pemerintah dalam setahun belakangan.

"Jangan sampai Brexit yang waktu itu terjadi kembali. Sehingga persiapan dari awal lebh matang," kata Pramono di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 3 April 2017.

Tak hanya itu, harga barang pokok juga harus diperhatikan. Biasanya memasuki Ramadan dan Idul Fitri berbagai harga bahan pokok meningkat. Harga-harga ini harus dikontrol terutama beras, daging, minyak, cabai, dan bahan pokok lainnya.

Masalah keamanan juga menjadi hal yang utama. Presiden meminta Polri berkonsolidasi dengan berbagai pihak agar keamanan bisa terjaga selama Ramadan dan Idul Fitri.

"Kalau puasa, Lebaran itu tindak kekerasan dan gangguan keamanannya cukup tinggi tadi diminta kepada Polri untuk segera mengkonsolidasikan," imbuh dia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pembagian tugas antara Kemenhub, Polri, Kemen PUPR, dan berbagai intansi terkait sudah dilakukan. Di lapangan, Polri akan menjadi penanggung jawab khususnya penataan arus lalu lintas.

"Khusus Brexit kita kerja sama Polri. Kita lakukan pembatasan kapasitas dan juga mengumumkan kepada masyarakat bahwa bukan satu-satunya jalan. Bisa lewat utara, selatan. Bila terjadi kemacetan yang banyak maka kita akan lakukan penutupan dan kita akan buka di gerbang sebelumnya," jelas Budi.

Budi mengklaim, pola ini efektif untuk mengendalikan dan mengatur arus lalu lintas selama mudik Lebaran. Hal ini juga sudah dilakukan saat libur Idul Adha dan Natal tahun lalu. Dengan pengaturan ini, Budi ingin peristiwa Brexit tahun lalu tak teulang lagi.

"Enggak lah, dulu itu kan kita kurang koordinasi. Kita enggak menyangka orang mau ke Brexit. Waktu itu kita kira Brexit bisa nampung semuanya. Coba kalau orang dikasih tahu jalan darat utara, selatan bisa, enggak akan gitu," imbuh dia.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito mengatakan, stok bahan pokok aman selama Ramadan dan Idul Fitri. Dia memprediksi, harga beberapa bahan pokok justru turun, misalnya beras, cabai, dan gula.

Sedangkan, untuk kebutuhan daging, Enggar memastikan Indonesia masih mengimpor dari India.

"Daging, kita daging kerbau stand by. Dari mana lagi kalau bukan dari india. Kerbau lokal kita potong keras banget. Cuma yang ada makan di Kudus doang sama di Cirebon," kata Enggar.

Jaminan serupa juga disampaikan Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti. Dia memastikan stok aman sampai Ramadan dan Idul Fitri.

"Jawaban sederhana, kita siapkan stok cukup sebelum hari H itu terjadi," kata dia.

Saat ini stok beras untuk lebaran mencapai 2 juta ton, daging kerbau 40 ribu ton, dan gula 460 ribu ton. Sementara bahan pokok lainnya juga disiapkan dan tidak mengalami peningkatan permintaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya