Terima Award di Singapura, Usahawan RI 'Disuntik' 20 Ribu Dolar

Dalam prosesnya, tim Indonesia mengadakan sesi pelatihan berkala bagi para wanita pengangguran untuk dapat dipekerjakan.

oleh Alexander Lumbantobing diperbarui 26 Okt 2016, 18:02 WIB
Dalam prosesnya, tim Indonesia mengadakan sesi pelatihan berkala bagi para wanita pengangguran untuk dapat dipekerjakan. (Sumber Edelman)

Liputan6.com, Singapura - Wirausahawan sosial muda Indonesia menjadi salah satu pemenang penghargaan Young Social Entrepreneurs 2016 (YSE 2016), yang diselenggarakan dengan dukungan Singapore International Foundation (SIF).

Penghargaan tersebut diperoleh pada Senin 24 Oktober 2016. Dengan demikian, tim Indonesia menjadi salah satu di antara 6 tim yang berhak mendapatkan suntikan dana senilai 20 ribu dolar Singapura.

Pemilihan pemenang didasarkan pada dampak, skalabilitas, dan keberlanjutan perusahaan sosial tersebut.

Tim Kama Batik dari Indonesia beranggotakan Ajeng Hilarysa Pramesti, Dyah Rasyid, dan Novi Anathasya Purba. Tim ini mengumpulkan sampah-sampah perusahaan batik dan mendaur ulangnya untuk menghasilkan produk-produk seperti kalung, gelang, tas, dan hiasan rambut.

Dalam prosesnya, tim Indonesia akan mengadakan sesi pelatihan berkala bagi para wanita pengangguran untuk dapat dipekerjakan.

Novi Anathasya (22) dari Kama Batik menyatakan, "Saya mendapatkan begitu banyak pengalaman selama mengikuti YSE. Keterampilan bisnis dan pengetahuan yang saya peroleh melalui program ini memiliki peranan penting dalam pertumbuhan bisnis Kama Batik."

"Ditambah lagi, persahabatan antar-negara yang telah saya bangun selama delapan bulan terakhir membuat saya menyadari bahwa saya tidak sendirian dalam perjalanan menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat melalui kewirausahaan," imbuhnya lagi.

Mengutip ketarangan tertulis yang diterima Liputan6.com pada Rabu (26/10/2016), tim Indonesia tersebut adalah salah satu dari 35 wirausahawan sosial muda peserta program yang terbagi ke dalam 15 tim.

Para peserta Indonesia dalam beberapa tim. Dalam prosesnya, tim Indonesia mengadakan sesi pelatihan berkala bagi para wanita pengangguran untuk dapat dipekerjakan. (Sumber Edelman)

Selama proses pembelajaran, para peserta mengikuti program bimbingan dari sejumlah relawan pembimbing dari McKinsey & Company dan Temasek International dan kunjungan belajar ke luar negeri.

Semua itu bermuara kepada acara Pitching for Change, sebagai suatu kesempatan untuk mempresentasikan beragam gagasan bisnis kepada dewan juri.

Seluruh tim yang ada mewakili delapan negara, yaitu Azerbaijan, Filipina, India, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Yaman. Mereka terpilih dari 114 peserta awal lokakarya YSE 2016, yang diadakan pada Maret tahun ini.

Selain Indonesia, pemenang lainnya adalah Nomad (Singapura), Praxium (Singapura), PsychKick (Singapura), dan Saadhan (India).

Program YSE 2016 dari SIF didukung oleh beberapa organisasi termasuk Ashoka dan Asia Philanthropic Ventures, Harvard Club of Singapore, INSEAD, Kellogg HKUST Chapter, SAP, McKinsey & Company, National University of Singapore (NUS) Business School, dan Temasek International.

Sesi penutup disertai diskusi bertajuk "Inovasi untuk Kebaikan Sosial" yang berfokus pada bagaimana sektor sosial dapat memanfaatkan teknologi, untuk mengukur dampak dan jangkauan kerja mereka.

Diskusi tersebut menghadirkan Bapak Calvin Chu Yee Ming, Managing Partner dari Eden Strategy Institute, Ibu Lee Pui Kwan, Founding Chapter Leader dari DataKind Singapore, dan Bapak Varun Mehta, Head of ASEAN dari Tata Chemicals.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya