Reaksi Mentan Amran Ketika Dicecar Soal Impor Pangan

Pemerintah harus mengimpor daging sapi, gula mentah (raw sugar), dan bawang merah dalam rangka stabilisasi harga-harga pangan.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 12 Jun 2016, 15:45 WIB
Ratusan peti kemas di area JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (10/11). Badan Pusat Statistik menyebutkan kinerja ekspor Indonesia pada kuartal III 2015 minus 0,69 persen dan impor minus 6,11 persen dibanding tahun lalu. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengklaim stok pangan dalam negeri dalam kondisi cukup untuk memenuhi kebutuhan saat puasa dan Lebaran.

Pada kenyataannya, pemerintah harus mengimpor daging sapi, gula mentah (raw sugar), dan bawang merah dalam rangka stabilisasi harga-harga pangan.

Bagaimana tanggapan Menteri Amran?

“Impor sesuai kebutuhan bukan keinginan. Berbeda kan, karena ini sesuai arahan Pak Presiden,” tegas dia saat ditemui dalam kegiatan operasi pasar, Jakarta, Minggu (12/6/2016).

 



Amran memohon agar awak media tidak membesar-besarkan persoalan impor yang dilakukan pemerintah Indonesia. Karena fakta lainnya, Negara ini juga ekspor pangan.

“Tolong dong, kenapa sih yang seksi kata-kata impor, generasi muda kok selalu tanya impor. Tanya kek ekspor kita, seperti ekspor CPO terbesar di dunia, bukan di Asia lagi. Ekspor karet nomor 3 dunia, kita juga ekspor bawang merah. Lebih baik tanya ekspor, lebih cantik karena ucapan kan juga do’a. Jangan tanya impor terus,” pinta Amran.

Seperti diketahui, pemerintah membuka keran impor sebanyak 2.500 ton bawang merah untuk menurunkan harga jual di pasar yang menembus Rp 40 ribu per kilogram (kg). Pemerintah pun menugaskan Perum Bulog untuk importasi komoditas daging sapi.

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini telah mengantongi izn impor daging sapi 10 ribu ton. Sementara impor gula mentah atau raw sugar mencapai 380 ribu ton yang ditugaskan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X dalam rangka stabilisasi harga di tingkat konsumen. (Fik/Ndw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya