H-1 Tenggat 10 WNI, Negosiasi Terus Dilakukan dengan Abu Sayyaf

Kelompok Abu Sayyaf meminta tebusan sebesar 50 juta peso atau setara Rp 14,2 miliar untuk pembebasan para sandera.

oleh Silvanus Alvin diperbarui 07 Apr 2016, 17:52 WIB
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menghadiri raker dengan Komisi I DPR di Jakarta, Rabu (10/2). Rapat ini juga dihadiri perwakilan dari Kemenkumham dan Kemenlu. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Permintaan tebusan untuk 10 WNI yang disandera Kelompok Abu Sayyaf akan jatuh tempo pada Jumat 8 April 2016. Kelompok Abu Sayyaf meminta tebusan 50 juta peso atau setara Rp 14,2 miliar untuk pembebasan para sandera.

Namun, pemerintah terus berusaha melakukan negosiasi demi keselamatan para sandera.

"Ya kita lihat saja kan masih besok. Nanti malam entah apa, mungkin diundur lagi, kita dengerin. Tapi masih tahap nego. Nego itu kan bisa mundur-mundur ya," kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/4/2016).

Sementara itu, Ryamizard menuturkan, opsi militer merupakan pilihan paling akhir yang akan ditempuh jajarannya. Sebab, tiap operasi militer selalu ada dampak yang harus diterima. Indonesia memilih menyelesaikan masalah dengan diplomasi dan negosiasi.

"Dampak operasi militer pasti ada dampak yang mati. Kalau yang mati yang teroris enggak ada masalah, kalau yang mati rakyat kita kan disayangkan," ucap Ryamizard.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan, upaya pembebasan para sandera terus dilakukan. Hingga saat ini keadaan 10 WNI yang disandera masih sehat.

"Berdasarkan info di lapangan, di pusat, dari Manila, dari Jakarta, dari semuanya, kita juga mendapatkan info bahwa 10 WNI kita masih dalam keadaan baik," tandas Retno.‎

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya