Cerita Majelis Taklim dan Pintu Tobat PSK Kalijodo

SR bersama ibu-ibu Majelis Taklim lainnya, terus mencoba mengajak para pekerja seks itu bertobat.

oleh Muslim AR diperbarui 17 Feb 2016, 11:32 WIB
Masjid yang merupakan satu-satunya di Jalan Kepanduan II itu lebih sering digunakan masyarakat dibanding dengan tempat lain di Kalijodo. (Muslim AR/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Jangan pandang sebelah mata Kalijodo. Meski kawasan tersebut terkenal kelam dan keras oleh perjudian dan pelacuran, namun tidak sedikit Pekerja Seks Komersil (PSK) yang perlahan ingin bertobat dan beralih profesi. 

"Banyak (PSK](2437992 "")) yang ikut pengajian di sini, tapi kesadaran itu datangnya memang bertahap, kami hanya merangkul," ujar SR (35), seorang pengurus Majelis Taklim Al-Muttaqin untuk ibu-ibu kepada Liputan6.com, Rabu (17/2/2016).

Menurut SR, selama 4 tahun ke belakang semakin banyak wanita tuna susila di Kalijodo yang mengikuti pengajiannya. "Kalau dipersentasikan, ya sekitar 10 persen deh, tapi tahun ini cukup lumayan dari tahun kemarin," lanjut SR.

Menurut dia, Majelis Taklim-nya sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Mulai dari jadwal pengajian rutin, hingga belum pernah absen dari berbagai juara perlombaan antar Majelis Taklim.

Suasana Kalijodo pada siang hari di Jakarta, Kamis, (11/02). Kawasan ini merupakan tempat pelacuran kumuh yang sudah berdiri lebih dari setengah abad. (Liputan6.com/Gempur M Surya)


"Kami hanya libur Jumat, hari-hari lainnya pengajian berlanjut, untuk Kamis malam, kami adakan wirid Yassin, nah itu banyak yang di depan (para penjaja seks komersial) yang ikut," ucap SR.

Dari pengalaman SR yang tinggal sejak kecil di Kalijodo, rata-rata semua PSK yang pernah ikut pengajian bertobat dan mengganti profesi mereka.

"Tahun-tahun lalu, banyak yang akhirnya pulang kampung atau ganti profesi mereka nggak kerja kayak gitu lagi," lanjut SR.

SR bersama ibu-ibu Majelis Taklim lainnya, terus mencoba mengajak para pekerja seks itu bertobat. Mereka, kata SR tak menggunakan cara-cara menghakimi, dan menyudutkan mereka sebagai pendosa.

Malahan SR dan Majelis Taklim-nya, membuka pintu selebar-lebarnya bagi para PSK yang ingin mengenal agamanya dengan lebih dalam. Seperti seorang PSK yang tengah berdiskusi soal agama dengan SR kala Liputan6.com menghampiri.

Aktivitas warga di Kawasan Kali Jodoh, Jakarta, Selasa (16/2). Pemerintah DKI Jakarta rencananya akan merelokasi kawasan kalijodo. (Liputan6.com/Gempur M Surya)
"Kita mah nerima mereka, walau cuma sekali seminggu ikut pengajian, ada juga yang ikut pengajian tapi masih kerja begituan (melacur), ya orang sadarnya bertahap Mas, kalau dipaksakan malahan banyak yang benci, lebih baik begini, pelan-pelan, tapi mereka akhirnya sadar," jelas SR yang juga ketua RT 04/RW 05.

Sayangnya, ajakan dan rangkulan Majelis Taklim Al-Muttaqin, tak secepat bergantinya para PSK di kafe-kafe Kalijodo. Jumlah PSK terus bertambah, sementara Majelis Taklim masih didominasi warga yang menetap.

"Mereka itu (PSK) kan silih berganti datangnya, nggak semuanya lama di sini, ada yang sebulan, lalu pergi, seminggu pergi. Nah, pengajiannya tentu terputus," ucap SR.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya