3 Emiten RI Masuk di Jajaran Saham Lapis Dua Global

Saham-saham itu antara lain Elnusa, Sitara Propertindo dan Wijaya Karya Beton masuk di indeks saham MSCI Global Small Cap.

oleh Agustina Melani diperbarui 07 Nov 2014, 11:00 WIB
(Foto: Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah saham dari pasar modal Indonesia  masuk dalam indeks Morgan Stanley Composite International (MSCI) Global Small Cap pada November 2014.

Tiga saham lapis kedua yang masuk indeks saham MSCI Global Small Cap itu antara lain PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Sitara Propertindo Tbk (TARA), dan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON). Selain itu, ada juga saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI Global Small Cap ini.

Saham-saham lapis kedua yang dikeluarkan antara lain PT Express Transindo Utama Tbk  (TAXI), PT Minna Padi Investama Tbk (PADI), PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), dan PT Trada Maritime Tbk (TRAM).

Sepertinya tiga saham yang masuk dalam MSCI Global Small Cap ini berdampak positif untuk gerak tiga saham tersebut. Lihat saja  pada perdagangan saham Jumat (7/11/2014) pagi pukul 10.00 WIB, saham ELSA naik 4,55 persen ke level Rp 505 per saham, saham WTON menguat 4,02 persen ke level Rp 1.165 per saham, dan saham TARA cenderung stabil di kisaran Rp 407 per saham.

Indeks MSCI Global Small Cap merupakan kumpulan saham dari berbagai negara dengan jumlah saham yang diperdagangan (free float) minimal 14 persen.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menuturkan, memang pengumuman masuknya tiga saham pasar modal Indonesia dalam indeks MSCI Global Small Cap berdampak ke harga sahamnya.

Akan tetapi, ia menilai dari ketiga saham tersebut, hanya saham PT Wijaya Karya Beton Tbk memiliki prospek cukup baik dari kinerja. Hal itu mengingat pemerintah menggenjot proyek infrastruktur akan berdampak positif terhadap permintaan beton.

Adanya harapan itu berdampak terhadap harga sahamnya naik signifikan sepanjang 2014. Saham WTON naik 89,83 persen menjadi Rp 1.120 per saham sepanjang 2014. "Dari sisi volume transaksi perdagangan, saahm WTON juga cukup bagus," kata William saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, William menilai, saham TARA dan ElSA memang cukup volatile, akan tetapi lebih sering diam di bursa saham Indonesia. Oleh karena itu, ia mengingatkan pelaku pasar untuk tidak terlalu euforia terhadap sentimen indeks MSCI Global Small Cap tersebut.

Sepanjang 2014, saham TARA naik 283,96 persen menjadi Rp 407 per saham. Sedangkan saham ELSA menguat 46,3 persen menjadi Rp 483 per saham. (Ahm/)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya