Bursa AS Tersungkur Penurunan Harga Minyak Dunia

Harga minyak mentah AS turun di bawah US$ 77 per barel ke level terendah dalam tiga tahun setelah Arab Saudi memotong harga penjualan.

oleh Nurmayanti diperbarui 05 Nov 2014, 03:51 WIB
(Foto: Bloomberg)

Liputan6.com, New York - Bursa Amerika Serikat (AS) jatuh pada penutupan perdagangan Rabu (Selasa sore) dipicu aksi jual saham energi seiring penurunan harga minyak mentah dunia selama empat hari berturut-turut, menambah kekhawatiran permintaan global.

Indeks saham S&P 500 di sektor energi turun 2,2 persen, memperpanjang penurunan, antara lain saham Energi Select Sector SPDR ETF (XLE.P) turun 2,3 persen, dan Chevron Corp (CVX.N) turun 1,3 persen, melansir laman Reuters.

Sementara indeks Dow Jones industrial average turun 13,9 poin atau 0,08 persen menjadi 17.352,34. Indeks S&P 500 kehilangan 9,7 poin atau 0,48 persen menjadi 2.008,11 dan Nasdaq Composite turun 27,40 poin atau 0,59 persen menjadi 4.611,51 poin.

Ini terjadi setelah harga minyak mentah AS turun di bawah US$ 77 per barel ke level terendah dalam tiga tahun setelah Arab Saudi memotong harga penjualan ke Amerika Serikat.

Minyak mentah turun lebih dari 30 persen dari puncak penutupan baru-baru ini dan turun 7 persen selama empat sesi terakhir.

Saham lainnya yang bernasib sama adalah Priceline.com (PCLN.O) turun 8,6 persen, terbesar pada indeks S&P 500 dan Nasdaq, setelah membukukan laba kuartalan di bawah ekspektasi Wall Street.

Sektor energi paling tertinggal tahun ini, terpukul keras oleh jatuhnya harga minyak. Indeks energi S & P adalah satu-satunya dari 10 sektor utama yang tetap negatif pada tahun ini.

Penurunan minyak "memiliki efek langsung pada sektor energi, tentu saja, tetapi juga memiliki implikasi untuk pasar yang lebih luas, mencerminkan kurangnya permintaan," kata John Kosar, Direktur Penelitian Asbury Research di Chicago.

"Dengan pasar di rekor tertinggi, Anda ingin melihat minyak berbuat lebih baik karena permintaan minyak menunjukkan ekonomi sedang bersenandung," lanjut dia.

Namun adapula saham perusahaan yang naik seperti Alibaba Group Holding (BABA.N) naik 2,3 persen menjadi US$ 104,15 setelah Cina e-commerce raksasa ini melaporkan hasil kuartalan pertama usai melantai di bursa, dengan meraup pertumbuhan pendapatan 53,7 persen. (Nrm)


Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya