Ilmuwan Australia: Ingin Kuak Misteri MH370? Ikuti Jejak Awan...

Seorang ilmuwan Australia mengaku punya cara menemukan MH370 yang sudah 7 bulan raib. Namun, gagasannnya ditolak.

oleh Elin Yunita Kristanti diperbarui 17 Okt 2014, 11:59 WIB
Data satelit pergerakan awan, bisa temukan MH370? (News.com.au)

Liputan6.com, Perth - Tujuh bulan lebih pesawat Malaysia Airlines MH370 menjadi misteri terbesar dunia penerbangan. Boeing 777-200 itu dan 239 orang yang ada di dalamnya raib tanpa meninggalkan jejak.

Kini seorang ilmuwan Australia mengatakan, adalah mungkin untuk menemukan MH370 dengan mengidentifikasi perubahan awan -- menggunakan jejak penguapan yang disebabkan emisi pembakaran bahan bakar pada pesawat.

Ahli hidrometeorologi sekaligus kepala konsultan lingkungan Australian Management Consolidated, Aron Gingis, mengatakan pernah menggunakan teknologi tersebut untuk menemukan sebuah bangkai kapal di utara Samudera Pasifik.

Mantan akademisi Monash University yang punya spesialisasi dalam mikrofisika awan (cloud microphysics) melakukannya dengan dengan cara mengidentifikasi 'jejak kapal' dan perubahan mikrofisika yang disebabkan oleh emisi dengan menggunakan arsip data satelit.

Gingis yang punya pengalaman lapangan selama 27 tahun dan pernah bekerja sama dengan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sudah menawarkan jasanya pada pihak Malaysia, China, juga Australia beberapa pekan setelah MH370 hilang. Semua menolak.

"Saya yakin punya peluang yang realistis untuk mengikuti jalur penerbangan  MH370, melacak jalurnya, dan kemungkinan mengidentifikasi lokasi pendaratan atau titik celakanya," kata Gingis dalam surat elektroniknya kepada Komisi Tinggi Malaysia, Eldeen Husaini yang bertanggal 3 April 2014, seperti dimuat News.com.au, Jumat (17/10/2014).

Ia menawarkan diri terbang ke Kuala Lumpur dan memberikan penjelasan kepada pihak negeri jiran. untuk mengidentifikasi dan menganalisis data satelit menggunakan metode algoritma mikrofisika awan miliknya.

Gingis mengatakan, pihak Malaysia menghargai tawarannya, namun juga tak menerimanya. Dengan alasan, sudah banyak ahli yang terlibat dalam pencarian MH370.

Proposal yang sama juga disampaikan ke Australian Transport and Safety Bureau (ATSB),  yang menjadi koordinator pencarian di Samudera Hindia -- titik yang diyakini menjadi tempat peristirahatan terakhir pesawat yang hilang dalam penerbangan dari Kuala Lumpur ke Beijing, China, 8 Maret 2014 lalu.

Pihak otoritas keselamatan transportasi balas mengajukan 11 pertanyaan. Namun, Gingis tak bersedia menjawab semua tanda tanya itu, tanpa ada perikatan atau kontrak, dengan alasan kepentingan perusahaannya.

"ATSB menanyakan detil teknik yang akan digunakan Gingis, namun ia menolak memberikan informasi tersebut atas pertimbangan kepentingan bisnisnya," demikian pernyataan ATSB.  "Kami bekerja sama dengan badan lembaga pemerintah Australia yang punya keahlian dalam analisis data satelit, yang memberikan hasilnya dalam bentuk penilaian lokasi pencarian yang diprioritaskan."

Gingis mengaku menawarkan jasanya dengan imbalan hanya 17.500 dolar Australia atau Rp 186 juta, dibanding pemerintah Negeri Kanguru yang sudah mengeluarkan uang 100 juta dolar atau lebih dari 1 triliun untuk eksplorasi dasar laut seluas 100 ribu km persegi, yang belum menghasilkan temuan meyakinkan, setidaknya hingga berita ini diturunkan.

Hujan Kritik

Foto dok. Liputan6.com


Upaya pencarian tersebut sebelumnya dihujani kritik karena mengandalkan analisis data komunikasi satelit, 'jabat tangan' (handshakes) untuk menentukan jalur penerbangan MH370 dan memperkirakan lokasi terakhir MH370.

Pekan lalu, salah satu maskapai pengguna Boeing 777 terbesar di dunia, CEO sekaligus Dirut Emirates, Sir Tim Clark, mengritik investigasi ATSB dan menduga ada yang sengaja ditutup-tutupi oleh pemerintah Malaysia.

Ia tak percaya, MH370 terbang ke arah selatan selama 5 jam, sebelum akhirnya kehabisan bahan bakar, dan berputar tak terkendali di Samudera Hindia sebelah selatan -- seperti kesimpulan ATSB yang dikeluarkan awal bulan ini.

Sementara, Sarah Bajc, yang pasangannya Philip Wood ada dalam penerbangan terakhir MH370, kepada News.com.au, mengaku heran bukan kepalang. Tawaran Gingis yang nilainya 'hanya' 17.500 dolar Australia ditolak begitu saja.

"Yang aku tahu ada banyak ilmuwan kredibel yang dituding jadi dukun di sepanjang sejarah manusia," kata dia. "Misalnya, dulu ratusan dari mereka mengungkap bahwa Bumi itu bulat, bukan datar. Namun, butuh ratusan tahun hingga pendapat itu diterima."

Ia menduga, ada 'permainan' -- entah individu, perusahaan besar, atau pemerintah -- yang terlibat dalam pencarian MH370. Sarah Bajc dan sejumlah keluarga korban kecelakaan menyewa penyelidik swasta untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi pada kapal terbang nahas itu.

Senada dengan dia, Jennifer Chong -- istri penumpang MH370 Chong Ling Tan yakin, ada data yang dirahasiakan soal nasib pesawat negeri jiran itu. "Kami tidak sedang melakukan penyangkalan," kata dia. "Saya akan minta maaf secara terbuka jika mereka benar menemukan pesawat itu di Samudera Hindia bagian selatan." (Yus)


Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya