Harga LNG Tangguh Naik, RI Raup Tambahan Penerimaan Rp 9 Triliun

Harga beli LNG Tangguh naik dari US$ 3,3 per juta british thermal unit (mmbtu) menjadi US$ 8 per mmbtu.

oleh Ilyas Istianur Praditya diperbarui 30 Jun 2014, 17:52 WIB
(Foto: Antara)

Liputan6.com, Jakarta
China National Offshore Oil Corporation (CNOOC), perusahaan BUMN asal China akhirnya menyetujui menaikkan harga beli gas alam cair (LNG) Tangguh di Papua Barat ke Provinsi Fujian, China. Harga beli LNG Tangguh naik dari US$ 3,3 per juta british thermal unit (mmbtu) menjadi US$ 8 per mmbtu.

“Harga gas Tangguh naik cukup signifikan dan tidak tetap, yaitu mengikuti harga minyak dunia. Ini menjadi good news untuk pemerintah ke depan,” kata Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (30/6).

Penjualan gas Tangguh ke China yang kontraknya diteken pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri dipatok pada sebesar 5,5 persen x Japan Crude Cocktail (JCC) atau berdasarkan harga minyak di Jepang. Saat itu,  harga JCC dipatok maksimum US$ 26  per barel.

Menurut Jero, hal itu membuat harga LNG Tangguh yang dijual ke China menjadi sangat rendah yaitu US$ 2,7 per juta british thermal unit (mmbtu).

Kemudian pemerintah melakukan renegosiasi dan berhasil mendongkrak harga JCC naik menjadi US$ 28 per barel, sehingga harga jual gas menjadi US$ 3,3 per mmbtu.

Tak sampai di situ, harga hasil renegosiasi masih cukup rendah. Apalagi jika dibandingkan dengan harga ekspor LNG Indonesia yang sudah menembus US$ 18 per mmbtu.

Untuk itu, pemerintah kembali melakukan renegosiasi. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai bertemu dengan Presiden China Hu Jintao guna membahas nasib harga gas Tangguh.

Akhirnya setelah melakukan renegosiasi yang cukup panjang, tercapai kesepakatan bahwa harga LNG Tangguh sudah tidak dipatok dengan JCC di angka tertentu sehingga harganya mengikuti pergerakan harga minyak.

"Mulai 1 Juli , patokan harga ekspor LNG Tangguh ke Fujian yaitu 0,065 JCC+1,5. Kalau JCC-nya US$ 100 per barel, maka harganya menjadi US$ 8 per mmbtu.  Kalau JCC-nya,  US$ 110 maka harganya menjadi US$ 8,65 per mmbtu," tutur Jero.

Dengan kesepakatan ini harga akan naik terus menjadi US$ 10,3 per mmbtu pada 2015, kemudian menjadi US$ 12 per mmbtu di tahun berikutnya dan tahun 2017 menjadi US$ 13,3 per mmbtu.

Dengan adanya harga baru ini, kata Jero Wacik, Indonesa akan mendapatkan US$ 20,8 miliar sampai 2034, Sementara dengan harga lama, jika renegosiasi gagal, Indonesia hanya akan mendapatkan US$ 5,2 miliar hingga 2013.

“Maka per tahun mulai tahun ini kita akan mendapatkan Rp 12,5 triliun per tahun dari Fujian, harga barunya. Yang lama adalah Rp 3,1 triliun per tahun, sekarang Rp 12,5 triliun jadi tambahannya adalah Rp 9 triliun per tahun,” papar Jero.

Atas keberhasilan menyelesaikan renegosiasi itu, menurut Jero, Presiden SBY mengucapkan terima kasih kepada tim negosiasi, yang di dalamnya ada tim ada SKK Migas dan  Ditjen Migas.

“Jadi mulai sekarang, mustinya tidak ada lagi komentar bahwa harga gas ke Tangguh kok murah sekali dan tetap harganya segitu tidak naik-naik, sekarang harganya segitu dan tidak tetap, terus bergerak mengikuti harga minyak dunia,” kata Jero Wacik. (Yas/Ndw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya