Masuki Masa Sulit, Presiden Nintendo Tolak Pecat Pegawai

Kondisi keuangan Nintendo yang tak kunjung membaik, serta gagalnya penjualan konsol game portabel Wii U cukup menyusahkan Nintendo.

Diterbitkan 08 Juli 2013, 15:51 WIB
Copy Link
Batalkan

Isu pemecatan pegawai belakangan ini memang sedang menghantui industri game secara global. Setelah pada bulan April lalu studio game Electronic Arts (EA) memecat hampir seribu karyawannya, kini giliran produsen konsol game ternama asal Jepang, Nintendo yang diterpa rumor pengurangan pegawai.

Kondisi keuangan Nintendo yang tak kunjung membaik, serta gagalnya penjualan konsol game portabel Wii U membuat pembesut judul game populer Mario Bross ini diisukan bakal memecat sejumlah pegawainya. Namun, kabar itu secara tegas dibantah oleh Vice President Nintendo Satoru Iwata.

Dilansir laman Polygon, Senin (8/7/2013), pada sebuah wawancara dengan para investor Iwata mengungkapkan, meski didera kerugian yang tidak sedikit karena kegagalan Wii U, perusahaannya sama sekali tidak terpikir untuk mengurangi jumlah karyawan.

"Jika kita mengurangi jumlah karyawan demi keuntungan finansial dalam waktu dekat, maka hal itu hanya akan menurunkan moral karyawan, dan mereka tidak akan bisa lagi membuat produk yang menarik," jelas Iwata.

Jika beberapa perusahaan lain mengumumkan rencana restrukturisasi untuk memperbaiki hasil keuangan mereka dengan melepaskan sejumlah pekerja, menurut Iwata di Nintendo strategi itu tidak akan efektif dilakukan.

"Setiap pekerja memberikan kontribusi di area mereka masing-masing, jadi saya percaya bahwa pengurangan tenaga kerja tidak akan memperkuat bisnis Nintedo dalam jangka panjang," tuturnya lagi.

Lebih lanjut Iwata menjelaskan, dibandingkan harus memecat sebagian karyawannya, Nintendo lebih memilih berhemat dengan melakukan riset dan pengembangan produk yang lebih spesifik.

Langkah 'heroik' yang diperlihatkan pimpinan Nintendo ini memang bukan untuk yang pertama kalinya. Di tahun 2011 silam, Iwata beserta sejumlah anggota dewan pimpinan Nintendo rela memotong gajinya hingga 50 persen. (dhi/dew)