Chatbot Qwen AI Milik Alibaba Tembus 10 Juta Unduhan di Minggu Pertama Peluncuran

Qwen AI milik Alibaba tembus 10 juta unduhan, dibekali fitur deep research hingga kamera AI.

Diterbitkan 28 November 2025, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asisten Kecerdasan buatan (AI) terbaru Alibaba, Qwen AI, mencatat lonjakan unduhan yang mencolok pada minggu pertama setelah peluncurannya. Perusahaan asal China ini mengumumkan Qwen AI telah diunduh 10 juta kali dalam tujuh hari.

Dilansir ZDnet, Jumat (28/11/2025), Qwen AI tumbuh lebih cepat daripada para pesaingnya yang mapan. Sebagai referensi, ChatGPT dilaporkan mencapai satu juta pengguna dalam lima hari pertama.

ChatGPT tetap menjadi chatbot terpopuler berdasarkan beberapa tolak ukur, tetapi pesaingnya Microsoft Copilot dan Gemini AI mulai menunjukkan peningkatan.

ChatGPT sendiri tidak tersedia di Tiongkok, begitu pula perangkat AI terkemuka lainnya yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat (AS) seperti Claude dari Anthropic.

Model seperti Qwen memiliki akses eksklusif ke populasi China yang berjumlah sekitar 1,4 miliar, sekitar 17 persen populasi global.

Hal yang Membuat Qwen AI Unggul

Qwen diluncurkan 17 November 2025 dan sudah tersedia di App Store versi Tiongkok dengan nama Qwen Chat. Langkah ini disebut paling signifikan untuk perusahaan untuk memasuki pasar AI konsumen.

Aplikasi ini dirancang untuk kehidupan sehari-hari berbasis AI dengan kemampuan menerjemahkan model dasar milik Alibaba menjadi layanan praktis yang bisa digunakan publik.

Qwen AI dibekali fitur “deep research” dengan kemampuan menelusuri berbagai sumber daring dan menyaring informasi kompleks. Selain itu, aplikasi ini menawarkan fitur coding, kamera bertenaga AI, pembuatan slide secara otomatis, serta serangkaian fungsi produktivitas lainnya.

Aplikasi ini ditenagai keluarga model Qwen3 yang diperkenalkan Alibaba pada April 2025. Perusahaan tersebut menyatakan model terbesarnya Qwen3-235B-A22B merupakan model mixture of experts (MoE) yang diklaim memiliki kemampuan unggul dalam pemrograman, matematika, dan berbagai domain lain.

Alibaba menyebut performanya sebanding atau bahkan melampaui sejumlah model papan atas seperti OpenAI o1, DeepSeek R1, dan Gemini 2.5 Pro.

Qwen AI Siap Jadi Asisten Sehari-hari

Ke depannya, Alibaba berencana memperluas kemampuan Qwen AI dengan mengintegrasikan layanan gaya hidup dan produktivitas, mulai dari pemesanan makanan, panduan kesehatan, pemesanan perjalanan, hingga layanan e-comerce.

Pendekatan ekosistem ini disebut akan menjadikan Qwen sebagai asisten proaktif yang mampu menangani lebih banyak tugas sehari-hari.

Tidak hanya Alibaba, pengembang AI China lainnya turut menunjukkan ambisi besar. Moonshot menjadi sorotan setelah merilis model Kimi K2 Thinking, perusahaan mengklaim model tersebut mengungguli GPT-5 dan Claude Sonnet 4.5, dan juga termasuk tes Humanity’s Last Exam.

Meski Alibaba merupakan perusahaan publik, sejumlah entittas pemerintah China memiliki kepemilikan sebagian lebih dari satu lusin unit usaha perusahaan.

Pada September 2025, tiga model AI utama buatan China menghasilkan output yang selaras dengan narasi resmi pemerintah Beijing, terutama terkait politik, ideologi, dan klaim teritorial. Model DeepSeek yang dirilis Januari 2025 juga menunjukkan pola penyaringan serupa.

Puluhan Juta Orang Gunakan Chatbot AI untuk Curhat Spiritual

Sebelumnya, penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin luas, dan kini kabarnya sudah mulai merambah ke ranah rohani. Bukan hanya dipakai untuk menjawab pertanyaan umum, chatbot AI kini mulai dipakai jutaan orang sebagai teman curhat hingga mencari bimbingan spiritual.

Mengutip The New York Times via Arstechnica, Senin (22/9/2025), beberapa aplikasi religi berbasis AI mencatat angka unduhan yang sangat besar.

Salah satu aplikasi religi berbasis AI yang populer di download adalah Bible Chat, di mana sudah diunduh lebih dari 30 juta kali.

Ada juga Katolik Hallow yang sempat menduduki peringkat teratas Apple App Store, mengalahkan aplikasi populer seperti Netflix dan TikTok.

Beberapa chatbot religi mengklaim, aplikasi buatan mereka diklaim menyediakan fitur untuk melakukan "komunikasi ilahi".

Meski begitu, pakar menegaskan AI bukanlah entitas spiritual, melainkan teknologi menghasilkan jawaban dari data yang dipelajari.

Sebagian besar aplikasi religi berbasis AI ini juga menerapkan sistem berbayar, dengan biaya langganan tahunan bagi mereka yang ingin terus menggunakan layanan tersebut.

Chatbot AI Ternyata Bisa Dibujuk Melanggar Aturan, Begini Temuan Peneliti

Chatbot AI hingga kini dirancang dengan sistem keamanan ketat dan tertutup sehingga tidak bisa dipakai untuk hal-hal berbahaya, seperti memberikan petunjuk membuat zat terlarang hingga menghindari bahasa kasar.

Namun, hasil penelitian terbaru mengungkap sisi lain mengkhawatirkan. Dikutip dari The Verge, Jumat (5/9/2025), peneliti menemukan chatbot AI ternyata bisa dibujuk, dirayu, dan dimanipulasi untuk melanggar aturan ditetapkan.

Saat menguji model GPT-4o Mini milik OpenAI, peneliti mendapati hal mengejutkan, di mana chatbot yang biasanya patuh pada aturan ternyata bisa "dipaksa" menuruti pemintaan yang seharusnya ditolak.

Menariknya, peneliti tidak menggunakan metode dan trik teknis rumit, akan tetapi cukup dengan strategi persuasi psikologis biasanya dipakai pada manusia.

Berbekal konsep dari buku "Influence: The Psychology of Persuasion" karya profesor psikologi Robert Cialdini.

Dalam teori tersebut, ada tujuh teknik persuasi: otoritas, komitmen, kesukaan, timbal balik, kelangkaan, bukti sosial, dan kesatuan.

Ketika teknik-teknik ini diterapkan, chatbot AI ternyata lebih mudah dipengaruhi dan sistem keamanan bisa ditembus hanya lewat pendekatan linguistik tepat.

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)