Sukses

Korea Selatan Sukses Luncurkan Satelit Pakai Roket Buatan Dalam Negeri

Liputan6.com, Jakarta - Korea Selatan untuk pertama kalinya dalam sejarah, berhasil meluncurkan satelit ke orbit dengan roket buatan dalam negerinya, Nuri. Roket ini lepas landas pada Selasa kemarin pukul 4 sore waktu setempat, dari Naro Space Center di Goheung.

Roket tersebut memuat salah satunya satu set satelit yang diklaim bukan untuk tujuan militer. Diketahui, satelit verifikasi kinerja itu memiliki berat 357 pon (162 kg) dan diluncurkan ke orbit sekitar 700 km di atas Bumi.

Ketika berada di orbit, satelit ini akan menguji antena, generator, dan peralatan lainnya. Satelit itu sudah dapat mengirim data tentang statusnya kembali ke Bumi.

Satelit besar ini membawa empat satelit penelitian mini atau CubeSats, dengan masing-masing beratnya tidak lebih dari 22 pon (10 kilogram).

CubeSats dirancang untuk dapat mengorbit sendiri dengan set pertama untuk melepaskan diri dari satelit yang lebih besar adalah pada 29 Juni mendatang.

"Sains dan teknologi Republik Korea telah membuat kemajuan besar," kata Menteri Sains Korea Selatan, Lee Jong-Ho, dalam konferensi persnya, seperti mengutip AP News, Rabu (22/6/2022).

"Pemerintah akan melanjutkan langkahnya yang berani untuk menjadi kekuatan luar angkasa bersama dengan rakyat," kata Jong-Ho.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Upaya Kedua

Keberhasilan ini pun mendapatkan apresiasi dari Presiden Yoon Suk Yeol, yang melakukan konferensi video dengan para ilmuwan dan pihak-pihak yang terlibat dalam peluncuran ini.

Yoon Suk Yeol mengucapkan selamat kepada mereka atas pencapaian tersebut, dan menyatakan akan memenuhi janji kampanyenya untuk mendirikan badan antariksa negara.

Peluncuran ini membuat Korea Selatan menjadi negara ke-10 di dunia, yang menempatkan satelit ke luar angkasa dengan teknologinya sendiri.

Namun, kesuksesan ini bukan tanpa kegagalan. Peluncuran roket Nuri kemarin adalah upaya kedua, setelah dalam upaya pertama di bulan Oktober lalu gagal.

Dalam usaha pertamanya, muatan dummy roket mencapai ketinggian yang diinginkan, tetapi tidak memasuki orbit karena mesin roket tahap ketiga terbakar lebih awal dari yang direncanakan. 

3 dari 4 halaman

Rencana Peluncuran Roket Lainnya

Sejak awal 1990-an, Korea Selatan telah mengirim banyak satelit ke luar angkasa. Namun semuanya menggunakan teknologi roket atau tempat peluncuran milik negara lain.

Di 2013, Korea Selatan pertama kali melakukan peluncuran satelit di dalam negeri menggunakan roket tahap pertama buatan Rusia.

Peluncuran pekan ini pun dianggap sebagai langkah baru bagi sektor luar angkasa Korea Selatan, yang selama ini dinilai masih tertinggal dari beberapa negara Asia tetangganya seperti Tiongkok, Jepang, dan India.

Korea Selatan pun merencanakan empat peluncuran roket Nuri lagi di tahun-tahun ke depan.

Negara itu juga berharap bisa mengirim probe ke bulan, membangun kendaraan peluncuran luar angkasa generasi berikutnya, serta mengirim satelit berskala besar ke orbit.

4 dari 4 halaman

NASA Kehilangan 2 Satelit Cuaca Usai Roket Astra Gagal Meluncur

Sebelumnya, sebuah roket milik perusahaan yang bergerak di bidang luar angkasa, Astra, gagal meluncur saat membawa dua satelit pelacak cuaca milik badan antariksa Amerika Serikat, NASA.

Akibat kegagalan yang terjadi karena kematian prematur mesin di tahap kedua tersebut, NASA harus kehilangan dua satelit cuaca miliknya.

Dilansir The Verge, dikutip Selasa (14/6/2022), Launch Vehicle 0010 (LV0010) Astra sebenarnya sudah berhasil lepas landas dari Cape Canaveral Space Force Station, Florida pada Minggu siang waktu setempat.

Namun, roket tersebut mengalami kegagalan di tahap atas sekitar 10 menit setelah penerbangannya.

"Tahap atas ditutup lebih awal dan kami tidak mengirimkan muatan ke orbit," kata Astra dalam sebuah pernyataan di akun Twitternya. "Kami telah membagi penyesalan kami dengan NASA dan tim muatan."

Sementara, Thomas Zurbuchen, Associate Administrator untuk divisi sains NASA mengakui peluncuran yang gagal tersebut melalui sebuah utas di Twitter-nya. Namun ia masih menyatakan optimistis.

Zurbuchen juga menulis ini masih "menawarkan peluang besar untuk sains baru dan kemampuan peluncuran."

(Dio/Ysl)