Sukses

Peneliti Gunakan Bakteri untuk Kembangkan Beton Khusus Daerah Rawan Gempa

Liputan6.com, Jakarta - Para peneliti di Polytechnic Institute of Far Eastern Federal University (FEFU) mengembangkan beton khusus untuk daerah dengan kelembapan tinggi dan rawan gempa akibat aktivitas seismik.

Pengembangan beton tersebut melibatkan air konsentrat bakteri Bacillus cohnii, yang bertahan di pori-pori batu semen, sebagai pengganti air biasa.

Beton yang telah diawetkan diuji tekanan hingga retak. Kemudian para peneliti mengamati bagaimana bakteri tersebut memperbaiki celah-celah keretakan untuk memulihkan kekuatan beton.

"Beton tetap menjadi bahan konstruksi nomor satu di dunia karena murah, tahan lama, dan serbaguna," ujar Roman Fediuk, profesor di FEFU dikutip dari rilis pers via Eurekalert, Jumat (19/2/2021)

Namun, kata Fediuk, beton apa pun akan retak seiring waktu karena berbagai faktor eksternal.

"Itu termasuk kelembapan dan siklus pembekuan atau pencairan berulang," tutur Fediuk.

Proyek yang juga melibatkan peneliti dari India dan Arab Saudi itu terbit di jurnal Sustainability.

 

2 dari 3 halaman

Percobaan

Selama percobaan, bakteri diaktifkan ketika memperoleh akses ke oksigen dan kelembapan, yang terjadi setelah beton retak di bawah tekanan pengaturan. Bakteri yang "terbangun" sepenuhnya memperbaiki celah dengan lebar 0,2 hingga 0,6 mm dalam 28 hari.

Mikroorganisme bakteri itu melepaskan kalsium karbonat (CaCO3), yang mengkristal di bawah pengaruh kelembapan. Setelah 28 hari tekanan pelat beton eksperimental mengambil kembali kuat seperti semula. Selepas itu, bakteri itu pun kembali "tidur".

"Apa yang telah kami capai dalam eksperimen kami selaras dengan tren internasional dalam konstruksi. Ada permintaan yang mendesak untuk material dengan kemampuan mendiagnosis dan memperbaiki diri sendiri," tutur Fediuk lebih lanjut.

 

3 dari 3 halaman

Bacillus cohnii

Spora Bacillus cohnii mampu bertahan hidup di beton hingga dua ratus tahun. Secara teoritis ia dapat memperpanjang umur struktur beton untuk periode yang sama. Ini hampir 4 kali lebih banyak dari masa pakai beton konvensional yang berkisar antara 50 hingga 70 tahun.

Beton ini sangat cocok untuk konstruksi di area yang berisiko secara seismik, di mana retakan kecil akan muncul pada bangunan setelah gempa berkekuatan sedang.

Ia juga cocok di area dengan kelembapan dan curah hujan tinggi di mana banyak hujan jatuh pada permukaan vertikal bangunan.

BERANI BERUBAH: “Jangkrik Bos” Raup Jutaan Rupiah