Sukses

Peneliti Kembangkan Kulit Buatan yang Bisa Merespons Rasa Sakit

Liputan6.com, Jakarta - Kulit buatan bukanlah hal baru. Juga bukan hal baru kalau kulit buatan bisa dibuat untuk merasakan hal-hal yang mereka sentuh.

Terkini, para peneliti di Universitas Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia, mengambil langkah lebih jauh dengan mengembangkan kulit buatan elektronik yang bisa menimbulkan rasa sakit.

Menurut ketua peneliti Profesor Madhu Bhaskaran, tidak ada teknologi elektronik yang mampu secara realistis meniru rasa sakit yang sangat manusiawi itu, sampai saat ini.

"Kulit buatan kami bereaksi seketika saat terkena tekanan, panas atau dingin berlebih yang menyakitkan. Ini adalah langkah maju yang penting dalam pengembangan masa depan dari sistem umpan balik canggih yang kami butuhkan untuk menghadirkan prostetik dan robotika yang cerdas,” kata Bhaskaran.

Diwartakan Ubergizmo, Rabu (9/9/2020), kulit buatan itu dirancang menggunakan perangkat elektronik tipis yang dilengkapi dengan sensor tekanan, lapisan reaktif suhu, dan sel memori seperti otak.

2 dari 3 halaman

Cukup Sensitif

Tampaknya pengembangan awal telah menghasilkan kulit yang cukup sensitif, untuk membedakan rasa sakit yang mungkin kamu rasakan dengan menusuk diri sendiri menggunakan peniti.

Lalu, apa alasan ilmuwan mengembangkan kulit yang bisa 'merasakan' sakit?

Rasa sakit adalah cara yang efektif untuk menjauhkan orang dari bahaya. Jika kamu menginjak duri dan merasakan sakit, kamu tahu bahwa hal itu tidak boleh terjadi lagi.

3 dari 3 halaman

Berguna untuk Pasien Diabetes

Ini mungkin berguna untuk kasus di mana pasien diabetes telah kehilangan rasa sakit di kaki mereka. Jadi, kulit buatan yang dapat "merasakan" nyeri sangat berguna bagi mereka.

Kondisi ini mungkin akan memberi tahu mereka ketika menginjak sesuatu dan mungkin ingin memeriksanya guna mencegah infeksi pada luka untuk menghindari amputasi.

(Isk/Ysl)