Sukses

Harga Masker dan Hand Sanitizer Naik Tak Wajar, Tokopedia: Itu Bisa Dilaporkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejak mewabahnya virus corona di sejumlah negara, harga produk kesehatan--terutama masker dan hand sanitizer--di toko online melambung tinggi.

Bahkan tak jarang, ada beberapa seller nakal yang mematok harga tidak wajar. Kondisi ini pun juga terjadi di Indonesia, terlebih ada dua WNI yang positif virus corona.

Pantauan Tekno Liputan6.com, Selasa (3/3/2020) di beberapa e-commerce, satu pack masker standar isi 50 pieces yang sebelumnya dibanderol Rp 20 ribuan, kini melambung tinggi menjadi Rp 500 ribuan.

Sementara hand sanitizer 50ml yang mulanya dipatok belasan ribu rupiah, kini harganya meroket lebih dari dua kali lipat jadi Rp 50 ribuan.

Menanggapi hal tersebut External Communications Senior Lead Tokopedia, Ekhel Chandra Wijaya, mengimbau masyakarat untuk melaporkan produk-produk dengan harga yang tidak wajar.

"Kami mengimbau masyarakat agar dapat melaporkan produk-produk dengan harga yang tidak wajar, langsung dari fitur Laporkan yang ada di setiap halaman produk," ujar Ekhel melalui pesan singkat.

Ia menuturkan Tokopedia secara aktif terus berupaya memastikan tidak ada kenaikan harga yang tidak wajar, terutama untuk produk masker kesehatan.

 

2 dari 6 halaman

Bersifat USG

Ekhel menjelaskan, sebagai upaya untuk menciptakan peluang bagi para penjual di Indonesia, marketplace Tokopedia bersifat user generated content (UGC), di mana setiap pihak dapat melakukan pengunggahan produk di Tokopedia secara mandiri.

"UGC sangat bermanfaat dan memberikan kemudahaan bagi para penjual, namun harus kami sertai dengan aksi-aksi proaktif untuk menjaga norma dan hukum yang berlaku," ucapnya memungkaskan.

3 dari 6 halaman

Hoaks Virus Corona Banjiri WhatsAp

Di sisi lain, pengguna WhatsApp dibuat panik karena hoaks tentang virus Corona (Covid-19) yang beredar di aplikasi perpesanan milik Facebook ini.

Kasus kepanikan karena hoaks tentang virus Corona ini terjadi di Lagos, ibu kota Nigeria.

Ceritanya, berjam-jam setelah Nigeria mengkonfirmasi kasus virus Corona (Covid-19) pertama, seorang aktivis kesehatan bernama Olumide Makanjuola yang tinggal di Lagos membuka aplikasi WhatsApp dan dibuat panik oleh informasi tersaji di dalamnya.

Mengutip laman The Washington Post, Selasa (3/3/2020), pengguna WhatsApp mengkopi paste dan meneruskan (forward) peringatan yang menyebut penerbangan lokal, hotel, dan sekolah di Kota Lagos kemungkinan sudah terkontaminasi virus Corona.

Dari banyaknya informasi yang beredar, tidak ada satu pun yang sudah terkonfirmasi. Namun demikian, beberapa versi informasi tersebut beredar di grup WhatsApp pribadi dengan jumlah anggota yang cukup banyak.

"Virus ini berada sangat dekat dengan kita, jauh lebih dekat dibandingkan yang kita pikirkan," demikian bunyi pesan-pesan tersebut.

Saat para pemerintah dan para ahli kesehatan berlomba mengatasi wabah virus Corona, mereka juga harus memerangi hoaks di internet yang sulit dikalahkan.

4 dari 6 halaman

Pemerintah Sulit Mengawasi

Apalagi kini hoaks beredar di WhatsApp, layanan pesan yang paling banyak dipakai dan memiliki enkripsi, sehingga sulit diawasi oleh pemerintah.

Tak hanya pengguna di Nigeria, mereka yang ada di Singapura, Brasil, Pakistan, Irlandia, dan negara-negara lain di dunia juga telah melihat banjir hoaks mengenai virus corona di WhatsApp. Misalnya tentang jumlah orang yang terinfeksi, bagaimana virus ini ditransmisikan, dan ketersediaan pengobatannya.

Pesan dan pesan suara berisi informasi mengenai virus corona ini menyebar ketakutan dan membuat pemerintah di banyak negara cukup pusing dibuatnya, termasuk di Bostwana.

Pemerintah di sana meminta masyarakat untuk lebih selektif menerima dan membagikan informasi di WhatsApp.

5 dari 6 halaman

Tanggapan WhatsApp

Sebelumnya, Facebook selaku induk perusahaan WhatsApp juga telah melakukan penghapusan konten-konten disinformasi terkait virus corona.

Namun tampaknya Facebook tidak bisa memantau WhatsApp dengan cara serupa. Pasalnya, percakapan di WhatsApp telah dienkripsi, artinya pesan hanya bisa dibaca oleh pengirim dan penerima.

Juru Bicara WhatsApp, Carl Woog, menyebut, perusahaan telah bekerja sama dengan pemerintah dan pihak-pihak lain untuk meredakan disinformasi mengenai virus corona yang beredar.

"WhatsApp merupakan alat komunikasi yang penting bagi petugas kesehatan untuk saling berkoordinasi. Kami telah melibatkan Kementerian Kesehatan di seluruh dunia untuk menyediakan cara sederhana bagi masyarakat untuk menerima informasi akurat tentang virus ini," katanya.

(Isk/Why)

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Loading