Matur Suwun Artinya Apa? Makna, Asal-Usul, dan Penggunaannya dalam Budaya Jawa

Matur suwun artinya terima kasih dalam bahasa Jawa. Pelajari makna, perbedaan dengan matur nuwun, serta etika penggunaannya dalam budaya Jawa.

Diterbitkan 28 Juni 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Mengungkapkan rasa syukur merupakan bagian penting dari setiap bahasa, dan dalam bahasa Jawa, ada beberapa cara untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang sarat makna. Salah satu ungkapan yang paling dikenal luas adalah "matur suwun", dan banyak orang mencari tahu matur suwun artinya apa sebenarnya dalam bahasa Indonesia.

Dalam kosa-kata bahasa Jawa, ungkapan terima kasih tidak hanya berfungsi sebagai formalitas semata. Dalam konteks budaya Jawa, ungkapan ini mencerminkan nilai-nilai kesopanan, penghargaan, dan rasa syukur yang mendalam.

Memahami matur suwun artinya secara tepat akan membuka wawasan tentang kekayaan bahasa dan filosofi Jawa. Frasa matur nuwun adalah bentuk ucapan terima kasih yang tepat dalam bahasa Jawa karena mengandung makna penghormatan dan syukur, sedangkan matur suwun kurang tepat digunakan karena maknanya lebih merujuk pada permintaan.

Sebagaimana disampaikan dalam halaman\

 S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, Universitas Negeri Surabaya, kata "suwun" berarti meminta dalam bahasa Jawa, sehingga frasa matur suwun kurang tepat bila digunakan sebagai ucapan terima kasih karena maknanya lebih mengarah pada permintaan, bukan rasa syukur atau penghormatan.

Apa Arti Matur Suwun dalam Bahasa Jawa?

Secara harfiah, ungkapan "matur suwun" terdiri dari dua kata: "matur" yang berarti menyampaikan atau mengungkapkan, dan "suwun" yang secara etimologis berarti meminta atau memohon. Mengutip dari Kamus Bahasa Jawa-Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kata "suwun" adalah kata bahasa krama dari "jaluk" yang berarti pinta.

Meskipun secara linguistik maknanya lebih dekat pada "menyampaikan permohonan", dalam percakapan sehari-hari banyak penutur bahasa Jawa yang menggunakannya sebagai ucapan terima kasih. Fenomena ini terutama lazim ditemui di wilayah Jawa Timur, di mana kata-kata bahasa Jawa memiliki variasi penggunaan yang khas.

Matur suwun lebih umum digunakan di Jawa Timur, sementara matur nuwun sebenarnya adalah cara yang lebih tepat untuk mengucapkan "terima kasih". Perbedaan regional ini membuat banyak orang menganggap kedua frasa tersebut memiliki arti yang sama, padahal secara semantik keduanya berbeda. Dalam percakapan bahasa Jawa, penggunaan ucapan terima kasih sering kali disampaikan dengan kalimat "matur nuwun" atau "matur suwun", dan tidak sedikit yang menganggap kedua frasa itu sama saja—padahal itu salah kaprah.

Baca juga: Kata Mutiara Bahasa Jawa Beserta Artinya yang Penuh Makna

Perbedaan Matur Suwun dan Matur Nuwun yang Perlu Diketahui

Meskipun mirip, dua frasa tersebut mengandung makna yang berbeda secara signifikan. Berikut perbedaan mendasar antara "matur suwun" dan "matur nuwun" yang penting untuk dipahami:

  1. Arti Kata "Nuwun" — Nuwun artinya terima kasih atau bentuk penghormatan setelah menerima sesuatu. Kata ini digunakan untuk menyatakan rasa hormat dan syukur kepada orang lain yang sudah memberikan kebaikan.
  2. Arti Kata "Suwun" — Suwun dalam bahasa Jawa adalah bentuk krama dari "jaluk" atau meminta, dan bentuk lainnya adalah "nyuwun" yang artinya juga meminta atau memohon. Sehingga maknanya berbeda jauh dari "nuwun".
  3. Matur Nuwun = Terima Kasih — Matur nuwun lebih tepat digunakan untuk menyampaikan rasa terima kasih, karena "nuwun" artinya terima kasih, dan ucapan ini tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga bentuk penghormatan, rasa syukur, dan wujud kesantunan berbahasa.
  4. Matur Suwun = Menyampaikan Permohonan — Matur suwun kurang tepat digunakan sebagai ucapan terima kasih karena secara makna adalah meminta atau melakukan permintaan. Frasa ini secara linguistik lebih cocok digunakan saat seseorang ingin menyampaikan bahwa ia memohon sesuatu.
  5. Variasi Regional — Jawa Timur rata-rata menggunakan "matur suwun", sementara di daerah Jawa lain umumnya menggunakan "matur nuwun", meskipun di Jawa Timur menggunakan "matur nuwun" juga diperbolehkan. Jadi pilihan paling aman tetap "matur nuwun".
  6. Akar Bahasa Jawa Kuno — Kata "suhun" dalam bahasa Jawa kuno berarti menjunjung sesuatu di atas kepala, yang kemudian dimaknai sebagai menghormati. Evolusi kata inilah yang menyebabkan kerancuan antara "suwun" dan "nuwun" di kalangan penutur modern.
  7. Status Akademis — Jika ingin mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jawa yang benar dan santun, gunakanlah frasa "matur nuwun" bukan "matur suwun". Panduan ini didukung oleh berbagai lembaga pendidikan bahasa Jawa di Indonesia.

Baca juga: Kata-Kata Motivasi Bahasa Jawa Krama Alus yang Sarat Makna

Tingkatan Bahasa Jawa dalam Mengucapkan Terima Kasih

Setiap kalimat dalam bahasa Jawa menunjukkan tingkat tutur atau derajat kesopanan tertentu, yang diwujudkan melalui pemilihan kosakata dan penggunaan imbuhan. Memahami tingkatan ini sangat penting agar ucapan terima kasih seperti "matur suwun" atau "matur nuwun" digunakan pada konteks yang tepat. Tingkat tutur dalam bahasa Jawa berfungsi untuk menunjukkan derajat formalitas dan rasa hormat yang dirasakan pembicara terhadap lawan bicaranya.

Berikut adalah tingkatan bahasa Jawa beserta variasi ungkapan terima kasih pada masing-masing level:

  1. Ngoko (Informal) — Tingkatan ini digunakan di antara teman dekat, keluarga, atau orang yang lebih muda, dengan sifat kasual dan langsung. Pada level ini, ucapan terima kasih cukup menggunakan "suwun" atau "nuwun" saja tanpa awalan "matur". Bentuk ini cocok untuk percakapan santai antar teman sebaya. Singkatan lucu bahasa Jawa yang akrab di telinga generasi muda pun biasanya menggunakan level ngoko.
  2. Krama Madya (Semi-formal) — Tingkatan ini merupakan bentuk sopan yang digunakan dalam situasi semi-formal, tepat untuk berbicara dengan kenalan atau orang yang seusia. Pada level ini, "matur nuwun" menjadi ungkapan standar yang seimbang antara kesopanan dan keakraban.
  3. Krama Inggil (Formal) — Ini adalah level kesopanan tertinggi, digunakan dalam situasi formal, saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau yang memiliki otoritas. Ungkapan terima kasih pada level ini menjadi "matur sembah nuwun" atau "matur nuwun sanget". Kata "sanget" mengintensifkan rasa syukur sehingga frasa menjadi lebih sopan dan tulus, sedangkan untuk kesempatan paling formal—terutama saat berbicara dengan tetua, guru, atau pejabat—digunakan "matur sembah nuwun".

Dalam konsep kesopanan linguistik Jawa, tuturan dianggap sopan jika sesuai dengan tingkat tutur yang benar, karena seseorang yang mampu menggunakan level tutur dengan tepat dianggap memiliki tingkat kesopanan tinggi dalam perilakunya. Matur suwun artinya bisa jadi rancu bila tidak memperhatikan konteks tingkat tutur ini.

Baca juga: Dari Ngoko hingga Krama, Ini 4 Tingkatan dalam Bahasa Jawa

Cara Membalas dan Etika Mengucapkan Terima Kasih dalam Budaya Jawa

Dalam budaya Jawa yang kaya akan kehalusan budi, mengetahui cara membalas ucapan terima kasih sama pentingnya dengan mengucapkannya. Berdasarkan data dari Talkpal, dalam budaya Jawa, rasa syukur juga ditunjukkan melalui gestur dan tindakan, bukan hanya kata-kata—misalnya menundukkan kepala sedikit saat berterima kasih sebagai tanda kerendahan hati dan rasa hormat. Berikut beberapa cara membalas dan etika dalam menyampaikan rasa terima kasih:

  1. "Sami-sami" (Sama-sama) — Ini adalah balasan paling netral dan aman untuk segala situasi. Frasa ini bisa digunakan kepada siapa saja, baik orang tua, rekan kerja, maupun teman, tanpa risiko terdengar berlebihan atau kurang sopan.
  2. "Inggih, sami-sami" (Iya, sama-sama) — Tambahan kata "inggih" memberikan nuansa lebih santun. Balasan ini tepat digunakan dalam situasi formal atau saat berbicara dengan orang yang lebih tua dan dihormati, seperti dalam acara halalbihalal atau pertemuan resmi.
  3. "Mboten punapa-punapa" (Tidak apa-apa) — Ungkapan ini merupakan teknik komunikasi Jawa yang penting karena berfungsi mengurangi beban psikologis di pihak yang berterima kasih. Dengan mengatakan ini, seseorang seolah menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan sama sekali tidak merepotkan.
  4. "Kanthi seneng ati" (Dengan senang hati) — Balasan yang lebih personal dan hangat ini cocok untuk momen yang melibatkan kedekatan emosional, seperti membantu keluarga atau sahabat. Frasa ini bukan sekadar jawaban manis, tetapi juga menguatkan relasi antarindividu.
  5. Gestur Menundukkan Kepala — Kata "sembah" menandakan rasa hormat dan penghormatan mendalam, yang sering disertai dengan gestur sopan seperti membungkuk sedikit sambil merapatkan kedua tangan. Gestur ini tidak terpisahkan dari ucapan verbal.
  6. Menyertai dengan Salim — Gestur salim, di mana orang yang lebih muda menyentuh punggung tangan orang yang lebih tua ke keningnya sebagai tanda penghormatan mendalam, lazim digunakan dalam sapaan dan ucapan terima kasih Jawa. Tradisi ini sangat dihargai terutama saat momen Idul Fitri dan acara adat.
  7. Memperhatikan Intonasi — Ucapkan dengan nada yang lembut dan penuh penghormatan, serta hindari nada yang terlalu keras atau terkesan terburu-buru. Ketulusan dalam intonasi lebih dihargai daripada kata-kata yang sempurna.

Baca juga: Ucapan Idul Fitri Bahasa Jawa yang Sopan Beserta Artinya

Makna Rasa Syukur dalam Budaya Jawa dan Perspektif Global

Beberapa kelompok etnis seperti masyarakat Jawa memiliki seperangkat perilaku etiket yang kompleks dan cenderung lebih tertata dalam mengekspresikan perasaan mereka. Hal ini tercermin jelas dalam tradisi mengucapkan terima kasih, di mana setiap kata dan gestur membawa makna yang jauh melampaui sekadar basa-basi. Dalam filosofi Jawa, terdapat konsep tepo seliro—kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain—yang menjadi landasan setiap ungkapan penghargaan. Ketika seseorang mengucapkan "matur nuwun" atau bahkan "matur suwun", ada empati dan penghormatan tulus yang disampaikan melalui ungkapan tersebut.

Mayoritas populasi dunia hidup dalam budaya yang dianggap lebih kolektivis, dan dalam budaya semacam itu, masyarakat menempatkan penekanan lebih besar pada harmoni serta penghormatan terhadap orang lain. Nilai-nilai ini sangat selaras dengan filosofi Jawa. Dalam budaya Jawa, kesopanan berarti mematuhi nilai sopan dan santun, di mana perilaku sopan diperkenalkan kepada anak-anak Jawa melalui perasaan isin (malu). Rasa malu ini bukan dalam arti negatif, melainkan sebagai pengingat untuk selalu menjaga tata krama dalam percakapan bahasa Jawa sehari-hari.

Secara luas dirasakan bahwa perilaku sosial masyarakat Jawa yang sangat halus—sebagai kelompok mayoritas—kurang-lebih menetapkan standar sosial di seluruh Indonesia. Konsep rukun atau keharmonisan dalam hubungan sosial menjadikan setiap ungkapan terima kasih sebagai alat untuk menjaga keseimbangan. Sebagian besar masyarakat Indonesia sangat menghargai harmoni sosial, sehingga konfrontasi langsung umumnya dihindari, dan ketidaklangsungan menjadi norma. Ungkapan seperti "matur nuwun" atau variasi balasan ucapan dalam bahasa Jawa adalah bagian dari mekanisme menjaga kerukunan ini. 

Baca juga: Ucapan Lebaran Bahasa Jawa: Panduan dari Krama hingga Ngoko

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Matur Suwun

Apakah matur suwun dan matur nuwun memiliki arti yang sama?

Secara linguistik, keduanya berbeda. Kata "suwun" berarti meminta, sehingga "matur suwun" lebih merujuk pada permintaan. Sementara "nuwun" berarti terima kasih atau penghormatan, sehingga "matur nuwun" adalah bentuk yang tepat untuk mengucapkan terima kasih. Namun, dalam percakapan sehari-hari terutama di Jawa Timur, keduanya sering digunakan secara bergantian untuk menyatakan rasa syukur.

Bagaimana cara membalas ucapan matur nuwun yang paling sopan?

Balasan paling aman dan universal adalah "sami-sami" yang berarti sama-sama. Jika ingin menambah rasa hormat, gunakan "inggih, sami-sami". Untuk menunjukkan kerendahan hati, "mboten punapa-punapa" (tidak apa-apa) merupakan pilihan yang tepat. Sesuaikan balasan dengan konteks situasi dan hubungan dengan lawan bicara dalam bahasa Jawa.

Kapan sebaiknya menggunakan "matur sembah nuwun" dibandingkan "matur nuwun" biasa?

Kata "sanget" mengintensifkan rasa syukur, sementara "matur sembah nuwun" digunakan untuk kesempatan paling formal, terutama saat berbicara dengan tetua, guru, atau pejabat. Gunakan "matur nuwun" dalam percakapan sehari-hari yang sopan, dan tingkatkan ke "matur sembah nuwun" saat acara resmi seperti halalbihalal, upacara pernikahan adat, atau saat bertemu tokoh yang sangat dihormati.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence