Sukses

Operator Jaringan Perlu Mengubah Cara Berpikir untuk Hadapi Persaingan

Liputan6.com, Jakarta Bukan tentang siapa yang lebih cepat mencapai kemajuan teknologi melainkan siapa yang mampu beradaptasi dengan perubahan di mana pun di dunia.

Dengan populasi muda terbesar ketiga di dunia dan 130 juta pengguna media sosial aktif, Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Untuk meraih kesempatan tersebut, Sales Engineer Ciena Indonesia, Mufti Rachmat mengatakan peningkatan penetrasi infrastruktur dan internet akan sangat penting untuk mendorong peningkatan ekonomi. 

“Kita berada di titik ideal untuk memanfaatkan kesempatan mengubah kehidupan jutaan orang di Indonesia. Namun, operator jaringan memerlukan arsitektur yang cerdas, fleksibel, otonom, gesit, optimal, dan mudah diprogram, mereka perlu mengubah cara bermain,” kata Mufti Rachmat kepada Liputan6.com, Jumat (5/10).

Mufti menjelaskan bahwa Indonesia berada di ambang evolusi jaringan yang belum pernah dialami industri dalam negeri. Berbagai teknologi dan kemajuan membawa sasaran jaringan yang lebih terotomasi semakin mendekati nyata.

 “Lanskap digital di Indonesia telah berkembang beberapa tahun belakangan mulai dari penggunaan data besar dan internet seluler, hingga kebangkitan layanan keuangan digital dan e-commerce. Populasi muda kami yang bertumbuh mampu mengadopsi teknologi tersebut dengan cepat dan merupakan basis pelanggan yang signifikan untuk ekonomi digital,” kata Mufti.

Lebih lanjut Mufti mencontohkan kemunculan Go-Jek, yang didirikan tahun 2010 sebagai layanan panggilan angkutan sepeda motor lewat telepon dengan armada dua puluh pengemudi yang kini berubah menjadi platform seluler yang paling terkenal.

 “Super app” tersebut, kini menyediakan beragam layanan, termasuk transportasi, pembayaran seluler, dan jasa antar makanan dengan armada lebih dari 400.000 pengemudi. Dengan ribuan “super app” digunakan secara bersamaan oleh orang-orang di seluruh daerah, jumlah kapasitas yang diperlukan untuk mendukung lalu lintas data dengan volume sebesar itu sangat mencengangkan.

Lantas muncul pertanyaan, bagaimana operator jaringan bisa menyesuaikan, mengontrol, dan mengatur secara dinamis kapasitas optik dalam dunia on-demand, di mana 5G, IoT, penyampaian konten, dan cloud berkembang pesat mengubah persyaratan jaringan? Mufti memberikan jawaban bahwa Liquid Spectrum dari Ciena adalah solusinya.

Liquid Spectrum™ dari Ciena memantau semua aset jaringan yang tersedia sehingga operator dapat merespons permintaan bandwidth seketika dan mengalokasikan kapasitas dalam jalur mana pun secara real-time. Liquid Spectrum mencakup lapisan fotonika terpadu yang dapat disesuaikan milik Ciena, optik coherent WaveLogic Ai, perangkat lunak Blue Planet MCP (Manage, Control, and Plan), serta aplikasi perangkat lunak canggih baru,” jelas Mufti.

Sejalan dengan filosofi OP Ciena™ tentang jaringan, Liquid Spectrum yang memanfaatkan Open API dan antarmuka yang terstandarisasi untuk mendukung kebutuhan operator akan arsitektur yang terbuka dan dapat mudah diakses.

1. Performance Meter membantu operator secara proaktif memastikan kinerja sistem optimal dengan memberikan akses, untuk pertama kalinya, terhadap data perencanaan yang akurat secara real time bagi perangkat keras yang ada dan layanan baru yang direncanakan.

2. Bandwidth Optimizer menggunakan kebijakan layanan yang ditentukan pelanggan dan menyarankan kapasitas, konfigurasi perangkat lunak, dan penempatan spektral yang ideal untuk segala saluran, pada segala jalur jaringan.

3. Liquid Restoration meningkatkan ketersediaan layanan dengan pengaturan kapasitas optik koheren yang disebarkan secara fleksibel sesuai keperluan untuk menentukan rute layanan yang terpengaruh di segala jalur yang tersedia dalam jaringan.

4. Wave-Line Synchronizer mempercepat penyediaan layanan, mengurangi langkah penyediaan manual, dan menghilangkan kesalahan manusia di seluruh penyebaran optik berbagai vendor.

Liquid Spectrum memadukan penyempurnaan perangkat keras optik dengan portofolio Blue Planet. Hal ini membantu menyediakan kerangka kerja strategis untuk merancang ulang dan menentukan bagaimana operator jaringan dapat berubah untuk mencapai jaringan optik terotomatisasi," tutur Mufti.

 

 

(Adv)

Artikel Selanjutnya
Wawancara Ciena Indonesia: Jaringan Adaptif yang Mengubah Bisnis Anda