Perwira Masa Depan Harus Paham Geopolitik dan Disrupsi Teknologi

Para taruna harus memahami perubahan geopolitik global, disrupsi teknologi, dan dampaknya terhadap kepentingan nasional Indonesia.

Diterbitkan 12 Juli 2026, 02:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa tantangan yang akan dihadapi perwira TNI di masa depan tidak lagi terbatas pada ancaman militer konvensional.

Karena itu, para taruna harus memahami perubahan geopolitik global, disrupsi teknologi, dan dampaknya terhadap kepentingan nasional Indonesia.

Dalam kuliah umum di Akademi Militer Magelang, Sabtu (11/7), AHY memaparkan berbagai tren global yang sedang membentuk dunia saat ini, mulai dari perubahan konfigurasi kekuatan global, persaingan rantai pasok dunia, kompetisi teknologi, hingga perebutan sumber daya strategis.

Menurut AHY, seorang perwira modern harus mampu membaca hubungan antara keamanan, ekonomi, dan pembangunan. Sebab, ancaman terhadap negara tidak selalu datang dalam bentuk agresi militer, tetapi juga bisa muncul melalui krisis energi, gangguan logistik, serangan siber, hingga persaingan teknologi.

"Perwira masa depan harus memahami bahwa pertahanan negara tidak hanya dibangun dengan senjata. Ketahanan bangsa juga ditentukan oleh ekonomi yang kuat, infrastruktur yang andal, energi yang cukup, dan kemampuan membaca perubahan geopolitik dunia," kata AHY.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, garis pantai sekitar 108.000 kilometer, dan perairan yang menjadi jalur penting perdagangan global.

Karena itu, keamanan nasional harus dipahami secara lebih luas dan terintegrasi.

 

Infrastruktur

AHY juga mengaitkan pentingnya pembangunan infrastruktur dengan strategi pertahanan negara.

Infrastruktur yang kuat akan meningkatkan konektivitas, memperkuat ketahanan wilayah, mempercepat mobilitas, serta memperluas akses ekonomi dan pelayanan publik di seluruh Indonesia.

"Membangun jalan, pelabuhan, bandara, bendungan, dan konektivitas bukan hanya agenda pembangunan. Dalam perspektif yang lebih luas, itu adalah investasi untuk memperkuat daya tahan dan daya saing bangsa," tegas AHY.

Menurutnya, pemimpin militer masa depan harus mampu melihat keterkaitan antara pertahanan, pembangunan, dan kesejahteraan rakyat sebagai satu kesatuan strategi nasional.