Liputan6.com, Jakarta - Tatanan dunia sedang mengalami perubahan yang sangat cepat. Perang yang berkepanjangan di berbagai kawasan, meningkatnya rivalitas kekuatan besar, gangguan rantai pasok global, perubahan iklim, hingga kebijakan proteksionisme pangan yang ditempuh sejumlah negara telah melahirkan tantangan baru bagi hampir seluruh negara, termasuk Indonesia.
Dalam situasi seperti ini, keamanan sebuah negara tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau besarnya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuannya menjamin kebutuhan dasar rakyat, terutama pangan.
Berbagai peristiwa global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ketika konflik meningkat, komoditas pangan dapat berubah menjadi instrumen geopolitik. Sejumlah negara mulai membatasi ekspor bahan pangan strategis demi melindungi kepentingan domestiknya. Akibatnya, negara yang terlalu bergantung pada impor akan menghadapi risiko yang jauh lebih besar ketika krisis datang.
Advertisement
Di tengah perubahan tersebut, Indonesia dituntut membangun fondasi yang lebih kokoh. Ketahanan pangan bukan lagi sekadar agenda sektor pertanian, melainkan bagian dari strategi nasional untuk menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat ketahanan sosial, dan mempertahankan kedaulatan bangsa.
Kedaulatan Bangsa Dimulai dari Kemandirian
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah mengingatkan bahwa, "Soal pangan adalah soal hidup matinya suatu bangsa." Pernyataan tersebut tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan dari kesadaran bahwa bangsa yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan mudah terpengaruh oleh tekanan dari luar.
Pandangan itu sejalan dengan pemikiran Mohammad Hatta yang menempatkan ekonomi kerakyatan sebagai fondasi kemerdekaan nasional. Bagi Hatta, kekuatan bangsa tidak bertumpu pada segelintir kelompok, melainkan pada rakyat yang produktif, koperasi yang kuat, dan desa yang mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.
Dalam khazanah pemikiran Islam, Ibnu Khaldun juga menjelaskan bahwa kemajuan sebuah peradaban lahir dari masyarakat yang produktif, tata kelola yang baik, serta kemampuan negara mengembangkan sektor-sektor yang menopang kehidupan rakyat.
Kemandirian ekonomi dan produktivitas masyarakat merupakan fondasi lahirnya negara yang kuat dan berdaulat.
Karena itu, swasembada pangan tidak boleh dipahami hanya sebagai keberhasilan meningkatkan produksi beras atau menekan impor. Ketahanan pangan merupakan ekosistem yang memerlukan sinergi lintas sektor.
Produktivitas pertanian harus ditopang oleh riset dan inovasi. Petani harus memperoleh akses terhadap benih unggul, pupuk, irigasi, pembiayaan, serta kepastian harga yang adil. Hilirisasi hasil pertanian perlu diperkuat agar nilai tambah tidak berhenti pada produksi bahan mentah.
Koperasi desa perlu menjadi motor penggerak ekonomi lokal, sementara transformasi digital harus dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan distribusi pangan.
Pada saat yang sama, regenerasi petani menjadi pekerjaan besar yang tidak boleh diabaikan. Indonesia membutuhkan generasi muda yang memandang sektor pertanian sebagai ruang inovasi, kewirausahaan, dan pengabdian, bukan sebagai sektor yang tertinggal oleh perkembangan zaman.
SEMMI Mengambil Peran
Sebagai organisasi kader, Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) memandang bahwa ketahanan pangan merupakan bagian dari perjuangan mewujudkan kemandirian bangsa. Peran kader tidak berhenti pada penyampaian kritik ataupun dukungan terhadap kebijakan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk gagasan, riset, advokasi, dan pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kampus harus menjadi pusat lahirnya solusi atas persoalan pangan nasional. Kader SEMMI perlu mendorong lahirnya inovasi di bidang pertanian, memperkuat pendampingan terhadap koperasi dan kelompok tani, membangun literasi pangan di kalangan generasi muda, serta menjembatani kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
Selain itu, kader SEMMI harus mengawal agar setiap kebijakan pangan tetap berpihak kepada petani sebagai aktor utama. Pembangunan tidak boleh hanya mengejar target statistik, tetapi juga harus menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi mereka yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.
Ketahanan pangan sesungguhnya dibangun dari desa. Di sanalah lahan pertanian dikelola, hasil pangan diproduksi, dan roda perekonomian rakyat bergerak. Karena itu, pembangunan desa tidak boleh dipandang sebagai agenda pinggiran, melainkan sebagai strategi utama dalam memperkuat daya tahan bangsa.
Ketika desa tumbuh, koperasi berkembang, petani sejahtera, dan generasi muda kembali melihat pertanian sebagai masa depan, Indonesia akan memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh dalam menghadapi dinamika geopolitik global.
Meneguhkan Jalan Pengabdian
Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, organisasi kader dituntut untuk melampaui peran tradisionalnya.
SEMMI harus menjadi ruang lahirnya para pemikir, inovator, penggerak masyarakat, dan calon pemimpin yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam, keindonesiaan, serta keadilan sosial ke dalam solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Tantangan kader SEMMI saat ini bukan lagi sekadar menjaga idealisme, melainkan memastikan Indonesia mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.
Ketika pangan, ekonomi rakyat, ilmu pengetahuan, dan semangat gotong royong menjadi fondasi pembangunan, Indonesia tidak hanya akan mampu menghadapi gejolak geopolitik global, tetapi juga meneguhkan dirinya sebagai bangsa yang berdaulat, mandiri, dan bermartabat.
Oleh: Muhammad Senanatha, Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI)
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782357/original/057831900_1782883984-Cek_fakta-_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8807247/original/030320800_1782905548-ChatGPT_Image_Jul_1__2015__06_30_43_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937793/original/094395600_1725589798-AP24249749330750.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389971/original/012637700_1782270142-AP26174800285397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5465690/original/016658800_1767773884-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_14.34.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5290464/original/056522900_1753113336-WhatsApp_Image_2025-07-21_at_20.06.02_c2d8139b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260620/original/058988800_1781612925-2767bf8b-9f0e-4793-bd30-5c429e1c3826.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258652/original/015289500_1781397142-ChatGPT_Image_Jun_14__2015__07_02_18_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8232741/original/005897300_1781093139-WhatsApp_Image_2026-06-10_at_18.54.27.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571401/original/013579500_1777619034-WhatsApp_Image_2026-05-01_at_12.32.20.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4878682/original/015534800_1719648934-260529_opini_Laksamana_Sukardi___.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7747502/original/019153700_1780555291-260604_OPINI__EKO_200x-100__1_.jpg)