Cerita Basuki, Sutradara Tunanetra Menyajikan Film Inklusif Langit Tetap Sama

Basuki menjelaskan bahwa film inklusif bukanlah tentang isinya tetapi bagaimana film ini bisa diakses oleh semua orang tak terkecuali.

Diterbitkan 24 Juli 2026, 14:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Basuki, sutradara tunanetra, membuktikan kemampuannya lewat film "Langit Tetap Sama".
  • Film "Langit Tetap Sama" adalah film inklusif dengan audio description via Radio FM.
  • Perencanaan inklusivitas dari awal membuat produksi film lebih efisien dan terjangkau.

Liputan6.com, Jakarta - Di dunia hiburan ini, ada seseorang yang memiliki bakat di tengah keterbatasannya. Basuki namanya, beliau adalah seorang penyandang disabilitas tunanetra. Meskipun begitu, ia membuktikan bahwa keterbatasannya tidak bisa membatasinya untuk berkarya, lewat film Langit Tetap Sama yang ia sutradarai.

Hal ini ia sampaikan dana konferensi pers yang dihelat di auditorium Perpustakaan Nasional, pada Kamis (23/7/2026). Meski banyak orang yang tidak percaya bahwa tunanetra bisa membuat film, maka Basuki langsung menepis ketidakpercayaan itu. 

“Kita ingin membuktikan dan hari ini mudah-mudahan panjenengan semuanya bisa membuktikan ‘ini loh hasil akhirnya sebuah film yang disutradarai oleh tunanetra.  judulnya Langit Tetap Sama," kata dia.

Budi Sumarno, Ketua Umum Komunitas Cinta Film Indonesia mengatakan mengatakan bahwa Langit Tetap Sama adalah film yang Basuki sutradarai untuk pertama kalinya.

“Mas Basuki ini belum pernah belajar bikin film. Tapi sudah bisa bikin film yang sampai durasinya 70 menit,” kata Budi.

 

 

Makna Film Inklusif

Langit Tetap Sama menjadi salah satu film inklusif di Indonesia. Basuki menjelaskan bahwa film inklusif bukanlah tentang isinya tetapi bagaimana film ini bisa diakses oleh semua orang tak terkecuali.

“Film inklusi itu bukan bicara masalah konten, bukan masalah isi, bukan film yang bercerita tentang disabilitas, bukan. Tetapi masalah akses, bagaimana film itu, apa pun dia, mau film perang, drama Korea, mau apa pun, yang penting bisa diakses oleh tunanetra dan lain-lain.” Jelas Basuki.

Menyediakan Audio Description di Frekuensi Radio.

Dalam mewujudkan film inklusif, Basuki menyediakan audio description atau deskripsi dalam bentuk audio bagi para tunanetra yang bisa langsung diakses dengan handphone (HP) melalui Radio FM. Audio Description ini akan menjelaskan adegan adegan yang tidak memiliki dialog.

“Teman-teman Tunanetra, nanti kalau mau mendengarkan audio deskripsinya silahkan menggunakan HP, pakai headset, kemudian klik aplikasi radio FM. Radio FM ya, bukan radio streaming. kalau sudah cari frekuensi di 107.4. Nanti bisa mendengarkan ketika nanti ada adegan tanpa dialog, insyaallah ada audio deskripsinya yang menjelaskan itu sedang apa.” Jelasnya.

Basuki juga menjelaskan bahwa audio description itu pun juga bisa didengar oleh orang-orang awas atau orang dengan pengelihatan yang baik.

Lebih Efisien, karena Direncanakan dari Awal

Dibandingkan menyelesaikan film kemudian menjadikan film itu sebagai film inklusi, jauh lebih terjangkau jika dari awal sudah dirancang sebagai film inklusi. itu yang dikatakan Basuki. Hal ini pun juga sudah ia buktikan,

“Itu yang memang sudah kita rancang dari awal. Jadi bukan jadi dulu baru kita mau mikir gimana caranya, sejak awal kita berusaha gimana caranya film ini bisa akses (accessible). Alhamdulillah cara ini jauh lebih murah, jauh lebih terjangkau dibandingkan kalau sudah jadi duluan.” Kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Inul Daratista Masuk Rumah Sakit, Alami GERD dan Ungkap Penyebabnya

Afradhiya N. R, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan