LSF Gandeng Akademisi hingga Kaum Ibu, Gaungkan Gerakan Budaya Sensor Mandiri di Depok

Ketua LSF Naswardi mengungkap makna penting di balik sosialisasi budaya sensor mandiri di kalangan ini.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 23:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Jadi sudah nontonnya tidak sesuai umur, terpapar iklan judi online, sampai perangkatnya bisa terkena virus. Hal ini yang mesti diperhatikan, dan juga ikut menjadi tugas orang tua,” kata Fauzan.

Dukungan Akademisi dan Pemerintah Daerah

GBSM mendapat dukungan kuat dari sejumlah elemen masyarakat. Salah satunya dari pemerintah setempat.

“Gerakan nasional ini patut kita dukung bersama, sebab ini mengajarkan literasi pada penonton untuk mengetahui segmen mana yang menjadi kelompok usianya,” kata Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, yang menghadiri acara ini. Ia juga menyorot salah satu fungsi film, yakni memberikan edukasi. “Dengan memilih film dalam kelompok usia yang tepat, akan memberikan edukasi yang tepat untuk masyarakat,” tuturnya.

Dukungan serupa juga disampaikan oleh Dosen UI, Saraswati Putri. “Film bukan hanya sekadar hiburan, tapi dia adalah sebuah produk budaya, dan di situ ada praktik budaya yang sangat kompleks dengan melibatkan banyak orang,” ujarnya.

Dengan menonton tayangan yang sesuai dengan usia, maka ia bisa  mencerna dan mengapresiasi film tersebut sebagai produk budaya dengan sehat.

Nobar sebagai Bentuk Dukungan

Adapun segmen nobar dalam event ini dihelat sebagai bentuk dukungan LSF terhadap industri film nasional, terutama yang sedang maupun akan tayang di bioskop Indonesia.

“Kami juga terus memberikan bantuan kepada film-film nasional yang saat ini tengah tumbuh dengan pesat, dan tahun lalu mencapai 80,2 juta penonton,” ujar Naswardi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan