6 Fakta Muhadkly Acho Main Film Children of Heaven, Sambil Magang Tipis-Tipis ke Hanung Bramantyo

Muhadkly Acho belajar banyak dari Hanung Bramantyo selama syuting Children of Heaven dari mengarahkan aktor cilik hingga bikin set lokasi tahun tertentu.

Diterbitkan 18 Mei 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

2. Belum Pernah Main Film Anak

Alasan kedua, Muhadkly Acho belum pernah membintangi film anak. Semua film yang digarap dan dibintangnya selalu dilabeli LSF 13 tahun ke atas. Ketika dapat proyek Children of Heaven, Muhadkly Acho tahu bisa mengajak anaknya melangkah ke gala premiere.

“Untuk pertama kalinya aku bisa memamerkan pekerjaanku ke anak bahwa ini lo, ayah main film. Mudah-mudahan sih bisa jadi sebuah kebanggaan buat anak dan memang kisahnya sangat reflektif,” ungkap sutradara film Agak Laen.

 

3. Perkara Pantun Dalam Naskah

Penampilan Slamet mencuri perhatian gara-gara pantunnya yang kocak. Rupanya, pantun itu bukan improvisasi melainkan tercantum dalam naskah yang dipoles Oka Aurora dan Hanan Novianti berdasarkan materi asli dari sineas Iran, Majid Majidi.

“(Pantun) tertera di naskah. Cuma kita olah lagi saat reading, mungkin ada konteks atau setting tahun 1980-an yang jadi treatment khususnya Mas Hanung. Ada beberapa diksi yang Mas Hanung ngeh, belum happening di tahun 1980-an. Lalu, diganti,” tutur Muhadkly Acho.

 

4. Intip Gaya Hanung Mengarahkan Pemain Cilik

Syuting film Children of Heaven benaran dimanfaatkan Muhadkly Acho untuk mencuri ilmu dari sutradara senior. Salah satunya, mencermati gaya Hanung Bramantyo mengarahkan aktor cilik Jared Ali dan Humaira Jahra. Muhadkly Acho belum pernah mengarahkan anak-anak.

“Ternyata Mas Hanung menjelaskan dengan memosisikan diri sebagai sahabat bagi aktor cilik. Tidak dengan bilang, pokoknya begini dan sebagainya. Jared Ali itu salah satu aktor yang kritis. Dia bisa menjawab balik: Kayaknya enggak begitu deh,” ia menyambung.

 

5. Belajar Bikin Film dengan Periode Waktu Tertentu

Muhadkly Acho belum pernah bikin film berlatar periode tahun dan zaman tertentu. Ndilalah, Children of Heaven mengisahkan Ali dan Zahra yang hidup di Jawa pada dekade 1980-an. Peralatan, bahasa, hingga kostum menyesuaikan era itu. Muhadkly Acho mempelajari hal ini.

“Aku belum pernah bikin film dengan setting tahun 1980-an. Selalu masa kini. Itu dari persiapan, kostum, dan detail lain, banyak yang harus dipahami sutradara untuk bisa bikin set yang meyakinkan, masuk akal, dan enggak terasa tumpang tindih,” kenang Muhadkly Acho.

 

6. Merasa Ditampar Naskah

Terang-terangan Muhadkly Acho merasa ditampar naskah film Children of Heaven. “Yang paling menampar, ternyata orang sulit sekali menjalankan apa yang disebut ikhlas. Ikhlas gampang diucapkan, tapi praktiknya susah,” ia menyimpulkan.

Ini tercermin dari tekat Ali sebagai kakak yang ikhlas ikut lomba tanpa memikirkan harus juara 1. Yang dipikirkan, bagaimana bisa dapat sepatu untuk adiknya. Padahal, untuk dapat hadiah sepatu baru harus juara 3. Muhadkly Acho tertegun membaca naskah ini.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan