Bilal Indrajaya Bawakan Kaus Kaki Merah di Jazz Goes to Campus 2025, untuk Kenang Mendiang Ade Paloh

Bilal Indrajaya tampil hangat di Jazz Goes to Campus, mengenang Ade Paloh lewat lagu dan kisah perjalanan musiknya.

Diterbitkan 10 November 2025, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Menariknya, sebelum benar-benar fokus bermusik, Bilal sempat bekerja di sebuah perusahaan sejak masa kuliah.

“Sebenernya saya sebelum berkarier di musik pernah kerja di perusahaan dari zaman kuliah. Dari kecil yang saya suka itu simple saya suka musik dan sepak bola,” ujarnya sambil tersenyum. Meski sempat menekuni dunia kerja kantoran, musik tak pernah benar-benar hilang dari kesehariannya.

“Dari dulu pun selagi saya bekerja di bidang lain, musik selalu ada. Di setiap hari raya, nge-band sama teman-teman, bikin lagu di kamar, pasti selalu ada musik di mana pun,” tambahnya.

Kin

i, Bilal bersyukur karena musik memberinya ruang untuk terus tumbuh dan belajar.

“Alhamdulillah ada jalannya untuk mencoba berkarya di musik. Mungkin sekarang masih belajar banget, masih banyak yang saya pelajari. Jadi mungkin kalau enggak di musik, ya masih di pekerjaan kantor,” ungkapnya.

Ceritanya menjadi cerminan bahwa perjalanan menuju panggung besar tidak selalu lurus, namun bisa berawal dari tempat yang sederhana.

Setlist yang Berbeda dan Inspirasi dari The Beatles

Setiap kali tampil, Bilal selalu punya tantangan tersendiri dalam menyiapkan penampilan. Ia mengatakan bahwa hal tersulit bukan membawakan lagu, tetapi menyusun urutan lagu yang akan dimainkan.

“Sebenernya yang susah bukan bawain lagunya, tapi bikin setlist-nya karena ada part di mana kita harus rolling dengan lagu-lagu lain, nentuin-nya yang susah.”

Bilal juga menambahkan bahwa ia selalu berusaha memberikan pengalaman berbeda di setiap penampilan.

“Saya berusaha untuk tidak membawakan setlist yang sama persis di setiap manggung,” lanjutnya.

Dari sekian banyak karya, Bilal memiliki beberapa lagu yang menjadi favoritnya untuk dibawakan di atas panggung. Ada "Saujana," kemudian "Darah," lalu ada "Nelangsa Pasar Turi", sama "Niscaya."

“Saya punya beberapa lagu kesayangan. Ada 'Saujana,' kemudian 'Darah' yang sangat menyenangkan dibawakan, 'Nelangsa Pasar Turi,' sama 'Niscaya.' Itu mungkin empat atau lima lagu yang pasti saya bawakan ketika manggung,” ujarnya.

Dalam momen yang sama Bilal menyebut siapa sosok pahlawan musiknya yang paling berpengaruh.

“Pahlawan saya dalam musik itu The Beatles, band terbaik di dunia. Jadi kalau ngomongin pahlawan di musik, ya The Beatles,” ujarnya mantap.

Baginya, The Beatles bukan hanya inspirasi, tapi juga contoh bahwa musik yang jujur dan sederhana bisa bertahan lintas zaman  sama seperti semangat yang ia bawa setiap kali naik ke atas panggung.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Zikrah Nur Amalah, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan