Bilal Indrajaya Bawakan Kaus Kaki Merah di Jazz Goes to Campus 2025, untuk Kenang Mendiang Ade Paloh

Bilal Indrajaya tampil hangat di Jazz Goes to Campus, mengenang Ade Paloh lewat lagu dan kisah perjalanan musiknya.

Diterbitkan 10 November 2025, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Acara tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Jazz Goes to Campus (JGTC), kembali sukses digelar tahun ini. Festival tahun ini menghadirkan lima stage dengan konsep berbeda, dari panggung ke panggung, musisi bergantian menampilkan energi dan warna musik yang beragam.

Di antara banyaknya penampilan hari itu, nama Bilal Indrajaya mencuri perhatian dengan ciri khas vokalnya yang lembut dan penampilan yang penuh makna. Ia tampil membawakan sembilan lagu selama empat puluh menit dan berhasil membuat suasana panggung terasa penuh emosi. 

“Sangat menyenangkan main ke JGTC, ini kali kesekian saya main ke sini,” ujar Bilal Indrajaya di press room, Jazz Go to Campus, Universitas Indonesia, Depok, Minggu (09/11/25)

Kehadirannya bukan hanya sekadar hiburan, tapi juga bentuk penghargaan terhadap perjalanan musik dan kenangan yang ia bawa ke atas panggung.

Bilal Indrajaya Persembahkan Lagu untuk Arya Paloh

Salah satu momen paling berkesan dari penampilan Bilal di The 48th Jazz Goes to Campus adalah ketika ia membawakan lagu yang jarang dinyanyikannya di depan publik.

 “Tadi saya bawakan lagu judulnya 'Kaus Kaki Merah,' itu adalah lagu yang saya tulis sebagai tribute untuk almarhum Ade Paloh dari band Sore,” ujarnya.

Lagu tersebut ia ciptakan sebagai bentuk penghormatan bagi sosok yang punya pengaruh besar dalam hidup dan perjalanan karier musiknya.

Bilal mengenal Ade Paloh secara pribadi selama sembilan tahun. Dari hubungan itu, ia banyak belajar tentang kehidupan dan seni bermusik.

“Kalau ngomongin musik, saya tumbuh besar dari karier-karier beliau. Banyak sekali yang saya dapatkan tentang kehidupan, seputar berkarya, seputar musik. Jadi memang itu sebagai bagian terima kasih dari apa yang beliau berikan,” kata Bilal dengan nada lembut.

Dari Dunia Kantor ke Dunia Musik

Dalam perbincangan santai setelah penampilannya, Bilal membagikan sedikit cerita tentang perjalanan panjang menuju karier musiknya.

“Sebenernya seperti penikmat musik lainnya, saya tumbuh besar dengan banyak kesukaan. Saya suka dengerin musik, saya tumbuh dengan banyak musisi yang saya kenal dari kecil,” tuturnya.

Menurutnya, warna musik yang ia miliki saat ini adalah hasil refleksi dari berbagai pengaruh musik yang ia dengarkan sejak masa kecil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Menariknya, sebelum benar-benar fokus bermusik, Bilal sempat bekerja di sebuah perusahaan sejak masa kuliah. “Sebenernya saya sebelum berkarier di musik pernah kerja di perusahaan dari zaman kuliah. Dari kecil yang saya suka itu simple saya suka musik dan sepak bola,” ujarnya sambil tersenyum. Meski sempat menekuni dunia kerja kantoran, musik tak pernah benar-benar hilang dari kesehariannya. “Dari dulu pun selagi saya bekerja di bidang lain, musik selalu ada. Di setiap hari raya, nge-band sama teman-teman, bikin lagu di kamar, pasti selalu ada musik di mana pun,” tambahnya. Kini, Bilal bersyukur karena musik memberinya ruang untuk terus tumbuh dan belajar. “Alhamdulillah ada jalannya untuk mencoba berkarya di musik. Mungkin sekarang masih belajar banget, masih banyak yang saya pelajari. Jadi mungkin kalau enggak di musik, ya masih di pekerjaan kantor,” ungkapnya. Ceritanya menjadi cerminan bahwa perjalanan menuju panggung besar tidak selalu lurus, namun bisa berawal dari tempat yang sederhana.

Halaman
Show All
Zikrah Nur Amalah, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan