Vidio Hadirkan My Stupid Boss: The Animated Series, Reza Rahadian dan BCL Reuni sebagai Pengisi Suara

Dalam My Stupid Boss: The Animated Series, Reza Rahadian kembali mengisi suara karakter Boss yang ikonik, dan nyentrik

Diperbarui 12 Juni 2025, 17:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Bagi Reza menjadi voice actor dengan berperan sebagai Bossman itu tidak mempunyai kesulitan berarti. “Karakter ini sudah pernah melekat, itu bank of memory-nya cukup besar. Jadi muscle memory saya juga langsung tuned in ketika harus menghadirkan kembali suaranya. Apalagi sebelumnya sudah 2 kali saya peranin jadi pas disini sudah lebih enak,” ungkapnya.

Tantangan Penggarapan

Meskipun begitu proyek ini tetap ada tantangannya, yaitu bagaimana mengandalkan hanya suara untuk menghidupkan karakter. “Biasanya saya bisa memainkan gestur, ekspresi wajah. Tapi di animasi, semuanya harus hadir lewat suara. Dan itu justru menyenangkan sekaligus menantang,” katanya sambil tertawa.

Bunga Citra Lestari atau yang akrab dipanggil BCL juga menyambut hangat kembalinya karakter Kerani. “Kerani di versi animasi ini lebih ekspresif, lebih ‘galak’, tapi tetap charming. Saya senang karena ini versi yang lebih ‘bebas’ dari dia,” ujar BCL.

Bagi BCL ada tantangan tersendiri saat proses mengisi suara karakter animasi. “Tantangannya mungkin lebih karena kita tidak tahu visualnya seperti apa, sehingga kita harus mempunyai kemampuan berimajinasi lebih untuk bisa menghidupkan karakter itu lewat suara,” katanya.

BCL juga menilai baik versi live action maupun versi animasi masing-masing mempunyai keunikan. Meskipun secara karakter Kerani itu sama, yaitu menjadi korban ulah suka suka nya Bossman, tetapi di versi animasi ruang gerak untuk mengeksplorasi gambarnya sendiri menjadi lebih besar.

Dipertemukan kembali dengan Reza juga menjadi hal menyenangkan bagi BCL. Meskipun rekamannya dilakukan terpisah, tetapi tetap terasa nyambung, karena memang chemistry antara BCL dan Reza sudah terbentuk sejak film pertama.

Format Animasi = Ruang Baru untuk Komedi Tanpa Batas

Kilas balik tentang My Stupid Boss. IP ini adalah hasil adaptasi dari 5 buku yang ditulis oleh chaos@work berdasarkan pengalaman pribadinya. Kisah tersebut awalnya ditulis di blog pribadi pada tahun 2005, lalu mendapat respons positif dari teman-temannya hingga akhirnya dibukukan pada 2013 menjadi lima volume. Dari novel diangkat menjadi layar lebar, kemudian menjadi series Animasi.

Serial animasi ini diproduksi kurang lebih selama 2 tahun secara total mulai dari penggarapan konsep series, penulisan naskah hingga selesai produksi animasinya yang melibatkan lebih dari 200 tim kreatif dan profesional.

“Dari awal proses pra-produksi kami membuat batasan jumlah lokasi yang akan digunakan dalam cerita karena pada produksi serial animasi dengan menggunakan teknik 3D, seluruh aset digital harus dibuat terlebih dahulu untuk menciptakan lokasi yang akan digunakan dalam cerita,” ungkap sutradara Daryl Wilson .

Adapun dalam proses pengerjaannya script dan dialog pertama ditulis dalam bahasa Indonesia kemudian diterjemahkan ke bahasa Melayu untuk dialog karakter-karakter Malaysia. Rekaman suara dilakukan lebih dulu, setelah itu baru animasinya dibuat. Sehingga tim animasi menyesuaikan ekspresi dan gerakan karakter dengan intonasi dan emosi para pengisi suara.

“Visual treatment yang diterapkan ke dalam serial ini mengacu pada karakter My Stupid Boss live action, namun karena ini adalah serial animasi maka kami pun secara kreatif menyiapkan desain karakter untuk bisa mengeksplore salah satu ciri dari animasi yaitu bisa menampilkan sesuatu yang tidak masuk akal menjadi masuk akal. Contohnya adalah di mana setiap Kerani membayangkan kekesalannya kepada Bossman dalam bentuk visual yang imajinatif dan tak terbatas karena itu ruang khayalan Kerani. Komedi bisa lebih ‘over the top’, dan satir sosial yang dulu hanya tersirat kini bisa jadi lebih eksplisit, tapi tetap lucu,” tambah Daryl Wilson.

My Stupid Boss: The Animated Series bukan hanya adaptasi ulang, tetapi reinterpretasi penuh energi baru. Dengan skenario segar, desain visual yang khas, dan dinamika cerita yang mendekati kartun slapstick ala barat namun tetap berakar pada budaya Asia Tenggara, serial ini menghadirkan pengalaman menonton yang unik bagi semua kalangan usia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan