Kisah Haru Najwa Shihab Kenang Momen Pernikahan, Tunjukkan Kertas Undangan hingga Souvenir

Najwa Shihab mengenang pernikahan 1997 dengan Ibrahim Assegaf, dari usia muda, adat Solo, hingga undangan bernuansa Al-Qur’an.

Diperbarui 21 Mei 2025, 09:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Najwa Shihab, jurnalis senior sekaligus figur publik yang dikenal luas karena keberaniannya di layar kaca, baru-baru ini membagikan momen emosional melalui media sosial. Dalam unggahan tersebut, ia mengajak publik menyelami kembali perjalanan cintanya dengan sang suami, Ibrahim Sjarief Assegaf, yang baru saja wafat pada 20 Mei 2025.

Dalam video singkat yang diunggah, Najwa memperlihatkan memorabilia pernikahannya, termasuk undangan nikah, buku karya ayahnya sebagai souvenir, hingga dokumentasi akad yang masih terjaga rapi. Tak hanya menyentuh, unggahan ini menjadi pengingat bahwa cinta sejati tak lekang oleh waktu, bahkan setelah maut memisahkan.

Pernikahan yang berlangsung pada 11 Oktober 1997 itu kini telah melewati dua dekade lebih. Bagi Najwa, momen tersebut bukan hanya tentang sebuah acara seremonial, melainkan juga simbol dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama.

1. Undangan Bernuansa Spiritual: Antara Warna dan Makna

Dalam dokumentasi yang diunggah Najwa, tampak undangan pernikahan mereka didominasi warna biru dan silver, sebuah nuansa yang belakangan disebut-sebut sebagai simbol dari perayaan "silver wedding."

Namun yang paling menyentuh adalah bagaimana undangan tersebut mencerminkan kepribadian dan akar spiritual keduanya. Nama panggilan “Nana” dan “Baim” digunakan sebagai identitas penuh kehangatan, sementara souvenir pernikahan berupa buku tafsir karya Quraish Shihab menunjukkan kedalaman nilai religius yang dipegang keluarga ini.

2. Menikah Muda dengan Keteguhan Hati

Najwa mengungkap bahwa ia dilamar dalam usia 19 tahun dan menikah pada usia 20. Di masa kini, angka tersebut mungkin terdengar mengejutkan, tapi kala itu keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan matang dan didasari cinta yang tulus.

Meski usia muda kerap dikaitkan dengan emosi yang labil, kisah Najwa membuktikan bahwa dengan fondasi kuat seperti saling percaya dan nilai-nilai keagamaan yang kokoh, usia bukanlah penghalang untuk membina rumah tangga harmonis.

3. Perpaduan Tradisi Arab dan Adat Solo

Meski keduanya berasal dari keluarga keturunan Arab, Najwa dan Ibrahim memilih untuk melangsungkan pernikahan dengan adat Solo, tempat kelahiran sang suami. Ini menjadi penanda bahwa cinta juga berarti menyatukan dua budaya dalam satu ikatan yang penuh rasa hormat.

Pemilihan busana adat Solo saat prosesi pernikahan memperlihatkan keterbukaan dan fleksibilitas dalam menjunjung keberagaman. Momen tersebut terekam dalam foto lama yang kini menjadi dokumen sejarah penuh makna.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Dalam video kenangan tersebut, Najwa tidak hanya menunjukkan undangan, tapi juga penunjuk tanda parkir serta rangkaian foto-foto akad nikah yang masih utuh. Keutuhan dokumen ini menyiratkan bagaimana kenangan tersebut disimpan dengan penuh cinta dan penghormatan. Bukan hanya arsip fisik, tetapi juga ingatan emosional yang menyatu dalam setiap detail pernikahan, mulai dari susunan tempat duduk, desain dekorasi hingga siapa saja yang hadir dalam acara penting itu.

Halaman
Show All
Andre Kurniawan Kristi, Alieza NurulitaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan