Serial Netflix Adolescence Jadi Sebuah Cerminan Isu Parenting yang Pas di Era Digital

Serial Netflix berjudul Adolescence mengungkap dampak media sosial dan tekanan remaja modern, membuka diskusi penting tentang tantangan parenting di era digital dan bagaimana orang tua dapat menghadapinya.

Diterbitkan 13 Mei 2025, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Serial drama kriminal Netflix, 'Adolescence', menyoroti kasus pembunuhan yang dilakukan seorang remaja 13 tahun bernama Jamie Miller. Kisah ini bukan hanya sekadar thriller, tetapi juga refleksi tajam terhadap isu-isu parenting di era digital dan dampaknya pada anak muda.

Serial ini mengeksplorasi bagaimana tekanan dari media sosial, ekspektasi maskulinitas, dan budaya online tertentu dapat membentuk perilaku remaja, bahkan berujung pada tindakan ekstrem.

Teknik one-shot yang digunakan dalam pengambilan gambar, menciptakan suasana mencekam dan imersif, membuat penonton seakan turut merasakan tekanan yang dialami Jamie dan keluarganya. Peristiwa ini juga turut mengungkap bagaimana sistem peradilan pidana menangani kasus yang melibatkan anak di bawah umur.

Popularitas Adolescence bahkan memicu diskusi publik dan dibahas di parlemen Inggris, mendorong komitmen Perdana Menteri untuk mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.

Lebih dari sekadar drama kriminal, Adolescence menjadi cerminan tantangan parenting di era modern. Beban orang tua masa kini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya.

Tekanan ekonomi, tuntutan 'over-parenting', ekspektasi masyarakat yang tinggi, dan perbandingan tak sehat di media sosial turut menambah beban tersebut. Di Amerika Serikat, stres parenting bahkan telah ditetapkan sebagai isu kesehatan masyarakat yang serius.

Tekanan Media Sosial dan Generasi Muda

Media sosial yang seharusnya menjadi alat komunikasi, justru menjadi sumber tekanan tersendiri bagi remaja. Perbandingan yang tak sehat, cyberbullying, dan paparan konten negatif dapat membentuk persepsi diri yang buruk dan memengaruhi perilaku mereka.

Adolescence secara efektif menggambarkan bagaimana lingkungan online dapat membentuk kepribadian dan tindakan anak muda, khususnya pengaruh budaya 'incel' yang misoginis.

Serial ini juga mengangkat tema maskulinitas. Ekspektasi masyarakat terhadap laki-laki muda seringkali kaku dan tidak realistis, menciptakan tekanan yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan perilaku mereka. Kurangnya ruang untuk mengekspresikan emosi dan mencari bantuan juga menjadi masalah yang perlu diperhatikan.

Orang tua dituntut untuk lebih peka dan proaktif dalam mengawasi aktivitas online anak-anak mereka, serta menciptakan komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman untuk berbagi masalah. Penting juga untuk mengajarkan literasi digital dan bijak dalam menggunakan media sosial.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Selain tekanan media sosial, orang tua juga menghadapi berbagai tantangan lain. Keterbatasan waktu berkualitas bersama anak akibat tuntutan pekerjaan, kurangnya skin-to-skin contact, dan trauma masa kecil yang belum terselesaikan dapat memengaruhi gaya parenting. Banyak orang tua yang merasa terbebani untuk memenuhi semua kebutuhan dan harapan anak, seringkali lupa untuk merawat kesehatan mental mereka sendiri. Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan strategi parenting yang lebih holistik. Komunikasi yang terbuka dan jujur antara orang tua dan anak sangat penting. Orang tua juga perlu mencari dukungan dari keluarga, teman, atau profesional jika diperlukan. Menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak untuk mengekspresikan diri juga sangat krusial. Belajar untuk tidak terlalu perfeksionis dan menerima ketidaksempurnaan juga penting. Orang tua perlu menyadari bahwa mereka tidak perlu serba bisa dan tidak perlu merasa bersalah jika tidak dapat memenuhi semua harapan. Prioritaskan waktu berkualitas bersama anak dan fokus pada membangun ikatan emosional yang kuat.

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan