Wahyu Denis Kurniawan, Alumni UMB yang Jadi Salah Satu Kreator Visual Film Jumbo Makin Hidup

Wahyu Denis Kurniawan memiliki latar belakang sarjana Arsitektur, jadi kunci suksesnya Lighting & Compositing Artist andal.

Diperbarui 04 Mei 2025, 15:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Di balik visual kece film animasi Jumbo, ada tangan dingin seorang alumni Universitas Mercu Buana (UMB) yang ikut bikin dunia imajinasi jadi hidup. Wahyu Denis Kurniawan, pria kelahiran 1994, memang bukan jebolan sekolah film atau animasi. Tapi siapa sangka, latar belakang pendidikannya sebagai sarjana Arsitektur justru jadi kunci suksesnya jadi Lighting & Compositing Artist andal. 

Denis, begitu ia disapa, awalnya menempuh pendidikan SMK Multimedia dan sudah terjun ke dunia animasi sejak remaja. Tapi semangat belajarnya tak berhenti di situ. Ia memilih kuliah arsitektur di Universitas Mercu Buana, bukan untuk ganti jalur karier, tapi untuk memperluas cara pandangnya terhadap desain dan visual.

“Di arsitektur, saya belajar tentang ruang, cahaya, dan bagaimana membentuk suasana. Ternyata itu semua sangat kepakai waktu kerja di animasi,” kata Denis saat diwawancarai, baru-baru ini. 

 

Mata Kuliah Favorit

Kuliah di Program Studi Aristektur Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana, bukan cuma soal teori. Salah satu mata kuliah favoritnya, Studio Perancangan, menurutnya sangat melatih pola pikir konseptual. Di situ ia belajar merancang dari nol, riset, lalu membangun ide jadi bentuk visual. Pola kerja ini sangat mirip dengan proses produksi animasi, terutama saat ia harus mengatur mood lighting dalam adegan film. 

Selama menempuh pendidikan di Universitas Mercu Buana, Denis menemukan titik terang dalam mata kuliah Studio Perancangan mata kuliah yang menjadi favoritnya sekaligus pengalaman paling berkesan. Di sanalah ia ditempa untuk menyusun konsep, melakukan analisis, dan menerapkan desain dalam konteks yang lebih besar.

“Studio Perancangan melatih saya untuk berpikir sistematis. Setiap proyek dimulai dari riset, dilanjutkan dengan eksplorasi ide, lalu ditransformasikan ke dalam visual yang utuh. Pola ini saya terapkan dalam menyusun visual film, terutama saat menciptakan mood dan atmosfer melalui lighting,” ungkapnya. 

 

Pengaruh Besar

Tak hanya itu, para dosen di Universitas Mercu Buana pun memberikan pengaruh besar dalam membentuk cara pandangnya terhadap desain. Denis mengaku banyak belajar dari pendekatan para pengajarnya yang menekankan pentingnya narasi dalam desain arsitektur sebuah wawasan yang kini ia aplikasikan dalam storytelling visual di dunia animasi. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Kemampuan memahami ruang dan cahaya adalah warisan penting dari dunia arsitektur yang kini menjadi senjata utama Denis dalam pekerjaannya. Ia menjelaskan bahwa dalam arsitektur, cahaya dipelajari bukan sekadar elemen fungsional, melainkan sebagai pencipta suasana ruang. Pemahaman itu kemudian ia bawa dalam setiap proyek animasi. “Lighting dalam animasi bukan cuma soal terang dan gelap, tapi tentang bagaimana membuat penonton merasakan adegan. Cahaya bisa menyampaikan emosi, menunjukkan waktu, bahkan mendukung perkembangan cerita. Pemahaman ini sangat dipengaruhi oleh arsitektur,” jelas Denis.  

Halaman
Show All
Aditia Saputra, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan