Perkembangan AI di Industri Musik Saat Ini, Memicu Senjakala Karya Manusia?

Muncul kekhawatiran hingga penolakan dari musisi dunia mengenai penggunaan AI yang melanggar hak para seniman.

Diterbitkan 27 Februari 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Sementara pentolan Beatles, Paul McCartney, menyambut AI, tapi dengan sebuah catatan penting.

"AI adalah hal yang sangat hebat, tapi itu seharusnya tak merampok para orang kreatif. Pastikan Anda melindungi para pemikir kreatif, seniman kreatif, bila tak mau kehilangan mereka. Sesederhana itu," kata dia pada Januari lalu dalam wawancara BBC, dilansir dari USA Today.

Bakal Lebih Menantang pada Masa Mendatang

Pengamat musik Virginie Berger dalam kolom Forbes Desember 2024 lalu, memprediksi bahwa mencatat generative AI bakal menghadirkan tantangan yang kian besar pada masa mendatang di industri musik. Apalagi komposisi lagunya sudah sulit dibedakan dengan buatan manusia.

AI disebut melatih modelnya dengan sangat cepat dari data yang dikumpulkan di internet, tapi akuntabilitasnya masih belum jelas.  

Inggris adalah salah satu negara yang berniat untuk melakukannya. Pemerintahnya tengah menggodok rencana perubahan undang-undang hak cipta terkait generative AI.

BBC mencatat, pemerintah Inggris mempertimbangan kemungkinan perusahaan AI untuk bisa menggunakan materi yang tersedia secara daring tanpa mempertimbangkan hak cipta, bila digunakan untuk pengumpulan teks atau "menambang" data.

Sementara para seniman atau pencipta memiliki hak untuk memilih tidak ikut menyertakan karyanya dalam proses ini.

Is This What We Want?

Hanya saja, sejumlah pihak meragukan para seniman atau artis bisa menghubungi ribuan penyedia AI satu demi satu bila ingin melarang penggunaan karyanya--atau memonitor penggunaan hasil ciptaan mereka yang beredar di internet.

Alhasil, seribu lebih artis Inggris merapatkan barisan dan merilis album bertajuk Is This What We Want pada Selasa pekan ini. Album ini berisi 12 lagu yang bila judulnya dibaca sesuai urutan, maka akan mengungkap pesan: "The British Government Must Not Legalise Music Theft to AI Companies (Pemerintah Inggris Tak Boleh Melegalkan Pencurian Musik oleh Perusahaan AI). 

Imogen Heap, Yusuf Islam atau Cat Stevens, Tori Amos, Hans Zimmer, Kate Bush, Damon Albarn, Annie Lennox, Billy Ocean, Ed O'Brien dari Radiohead, Dan Smith dari Bastille, Jamiroquai dan masih banyak lagi, ikut serta dalam pembuatan album ini.

Rollingstones mewartakan bahwa album ini berisi rekaman studio kosong maupun gedung pertunjukan yang kosong. Ini menjadi simbol yang ingin mereka sampaikan, soal kekhawatiran mengenai senjakala karya lagu manusia pada masa mendatang.

"Apakah dalam musik pada masa mendatang, suara kami tak akan terdengar?" kata Kate Bush dalam pernyataannya. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan