Meneropong Fenomena Penjualan Album K-Pop, Merosot untuk Pertama Kalinya dalam 1 Dekade Terakhir pada 2024

Penurunan penjualan album K-Pop pada 2024 terutama nampak pada artis pria.

Diterbitkan 06 Januari 2025, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Industri K-Pop terus mengalami dinamika. Salah satu perkembangan menarik yang terjadi pada tahun 2024 kemarin, adalah penurunan penjualan rilisan fisik K-Pop.

Dilansir dari Allkpop, pada akhir tahun lalu Circle Chart dari Korea Music Content Association (KMCA) merilis data akhir tahun yang menunjukkan penurunan kumulatif penjualan album fisik sebesar 19,5 persen dibandingkan tahun 2023. Penjualan pada Januari sampai November pada 2024 "hanya" mencapai 93,14 juta kopi, jatuh dibandingkan 116 juta kopi pada 2023, diwartakan The Korea JoongAng Daily. Bahkan bila penjualan Desember 2024 ikut dihitung, angkanya dipastikan tak menembus 100 juta kopi. 

Data ini kontras dengan penjualan album fisik yang selalu menunjukkan peningkatan  dalam satu dekade terakhir. Penurunan penjualan, terutama nampak di antara para artis pria.

Seventeen misalnya, yang duduk di peringkat pertama pada 2024 dengan mencatat penjualan 8,9 juta kopi. Hanya saja, angka ini jauh mengalami penurunan ketimbang tahun 2023 yang mencapai angka penjualan 16 juta kopi. Begitu pula dengan Stray Kids yang berada di peringkat kedua, yang mengalami penurunan sekitar lima juta album dibandingkan tahun 2023. 

Berbeda dengan para artis pria, penjualan album untuk para artis wanita disebutkan tak berubah jauh. Artis seperti NewJeans, (G)I-DLE, dan aespa, mendominasi daftar ini. 

Fakta lain yang terungkap dalam data ini, sepanjang 2024 hanya ada 20 album yang menembus penjualan sejuta kopi, turun dari 33 album yang meraih catatan serupa pada 2023. 

Penurunan Sudah Diprediksi, tapi....

Penurunan penjualan album K-Pop ini ternyata sudah diprediksi sebelumnya. Apalagi, penjualan pada album tahun 2023 memang naik secara sangat pesat.

"Kami sudah memperkirakan soal perubahan penjualan pada tahun ini (2024) karena pada tahun lalu mengalami overheating. Namun kami tak menduga akan turun sejauh ini," kata Sekjen KMCA Choi Kwang Ho kepada JoongAng Ilbo.

Ia menambahkan, "Penurunan 20 persen dalam setahun bisa dianggap sebagai krisis dalam industri."

Di sisi lain, ada pendapat berbeda mengenai kondisi ini. "Ini adalah tanda bahwa kompetisi yang mengalami overheating dalam penjualan album pada (2023) telah mulai stabil dan menuju normal," kata seorang pengamat musik kepada The Chosun Daily.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Sesungguhnya, penjualan rilisan fisik di industri K-Pop di era digital ini memang merupakan anomali. Billboard mencatat bahwa banyak penggemar K-Pop di Korea yang bahkan tak memiliki pemutar CD.  Lantas, mengapa industri album fisik masih berjalan di Korea? The Chosun Daily mencatat, dari segi industri, penjualan album fisik memang mesin pengepul cuan yang gacor. "Perusahaan hiburan menyukai penjualan album, karena ongkos produksinya lebih rendah dibanding saluran pendapatan yang lain seperti pertunjukan live," kata Kim Gyuyeon, analis dari Mirae Asset Securities. Tak heran, penjualan album fisik tetap "dipelihara" agensi K-Pop saat pasar di negara lain kompak bergerak menuju dunia digital. Taktik yang mereka gunakan, adalah menyelipkan sejumlah merchandise yang bisa dikoleksi seperti photo card, merilis beberapa versi album, hingga kesempatan fan meeting dengan artis. The Chosun Daily juga menyorot sejumlah penggemar yang memiliki mentalitas idolanya mesti terlihat lebih baik dari artis lain--dan alasan ini ikut menggenjot penjualan album fisik.

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan