Retrospeksi 2024: Dheeraj Kalwani, Sensasi Film Vina Sebelum 7 Hari dan Box Office 5,8 Jutaan Penonton

Terlepas dari kontroversi yang menyertai, Vina: Sebelum 7 Hari karya Anggy Umbara menjadi film horor terlaris tahun ini bersama lebih dari 5,8 juta penonton.

Diterbitkan 30 Desember 2024, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Jujur saja ini pop corn movie. Orang bisa merasakan beragam emosi. Ada horor, thriller yang menegangkan, drama keluarga, dan kesedihan. Beragam emosi ini membuat penonton terhubung di samping, tentu, peduli pada kasusnya,” ujar Dheeraj Kalwani.

Kontroversi Menjalar ke Ranah Politik

Vina: Sebelum 7 Hari dirilis 8 Mei 2024. Hari pertama tayang di bioskop, film yang dibintangi Nayla D. Purnama dan Lydia Kandou itu menyerap 335 ribuan penonton lalu berakhir di angka 5.815.945. Kesuksesan ini ditanggapi beragam.

Sejumlah pihak menilai Vina: Sebelum 7 Hari tak lebih dari upaya mengeksploitasi korban pemerkosaan dan pembunuhan. Kasusnya tetap mengambang sementara pembuatnya (maaf) bergemilang rupiah.

Ada pula yang membandingkannya dengan Perawan Dewa (1980), film yang dirujuk sebagai drama pengadilan terbaik dalam sejarah sinema Indonesia. Dibintangi Yatty Surachman, film ini panen 4 Piala Citra termasuk Sutradara dan Film Terbaik.

Dheeraj Kalwani tak menampik kenyataan ada kontroversi di balik sukses Vina: Sebelum 7 Hari. “Setelah film ini meledak, kasusnya kembali jadi perhatian publik. Perkembangannya kasus Vina Cirebon pun dipantau banyak pihak,” kenangnya.

Setelahnya, kasus Vina Cirebon memang kembali “ngegas.” Agustus 2024, sejumlah terpidana kasus Vina Cirebon mengajukan peninjauan kembali (PK). Hotman Paris pun sampai turun tangan hingga menyampaikan pesan terbuka kepada Jokowi agar dibentuk Tim Pencari Fakta.

“Benar, film ini memantik kontroversi. Saya tahu. Namun, saat kasus Vina Cirebon kembali dibuka, melibatkan sejumlah pengacara, melewati reli panjang persidangan hingga jadi isu nasional, maka ia telah menjadi topik politik dan hukum,” Dheeraj Kalwani menyambung.

Karena sudah masuk ke bidang lain di luar seni, Dheeraj Kalwani tak lagi berkomentar soal kasus Vina Cirebon. “Makanya saya menahan diri untuk tidak berkomentar lebih jauh kecuali performa filmnya,” ia menambahkan.

 

Regenerasi Penulis Naskah

Kembali ke soal angka, pencapaian 5,8 jutaan penonton bagi Dheeraj Kalwani adalah benchmark. Mencermati tangga box office tahun ini, ia melihat ada banyak warna. Fenomena ini mengindikasikan genre selain horor punya tempat luas di hati masyarakat.

“Benar, bahwa tangga box office tahun ini berwarna. Senang melihat Ipar Adalah Maut mendapat banyak cinta dari penonton hingga menyentuh 4,8 jutaan penonton. Bila Ibu Esok Tiada dengan 3,8 juta penonton jelas layak diapresiasi juga,” Dheeraj Kalwani berpendapat.

Setelahnya, ia menyorot Home Sweet Loan dengan 1,7 jutaan penonton dan menduduki posisi ke-9. Bagi Dheeraj Kalwani, ini kejutan. Ia senang. Dengan ragam genre yang disambut hangat, Dheeraj Kalwani optimistis tahun depan sinema Indonesia kian berjaya.

“Saya sepakat dengan Anda bahwa box office tahun ini berwarna. Saya sendiri bosan kalau film yang dirilis di bioskop dan mencapai box office horor melulu. Saya percaya film Indonesia bisa segemilang ini tahun depan,” beri tahunya.

Semringahnya wajah film Indonesia tahun ini bukan tanpa catatan kritis. Dheeraj Kalwani menyebut, salah satu yang mesti segera dicarikan solusi adalah regenerasi penulis naskah. Baginya, naskah adalah tulang punggung sekaligus nyawa film.

“Begini, saya sangat percaya pada naskah. Naskah adalah tulang punggung film. Konfigurasi pemain dan lain-lain bisa kita sesuaikan tapi kualitas naskah tak bisa ditawar. Itu sebabnya, saya dan tim bisa menggodok naskah bisa 6 sampai 8 bulan,” tutur Dheeraj Kalwani.

Naskah tak bisa lagi dikebut dan asal jadi mengingat penonton Indonesia makin cerdas sekaligus kritis. “Maka, regenerasi penulis naskah perlu digulir agar terbit generasi baru penulis naskah di masa mendatang,” ia mengakhiri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan