Trend Asia Kampanyekan #BersuaraTiapHari dan Rilis Video Klip Prahara Jenggala Bersama Down For Life di Rock in Solo

Kampanye #BersuaraTiapHari dalam ajang musik tahunan Rock in Solo pada Sabtu, 14 Desember 2024 melalui Trend Asia Corner. 

Diperbarui 17 Desember 2024, 23:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Trend Asia membawa kampanye #BersuaraTiapHari dalam ajang musik tahunan Rock in Solo pada Sabtu, 14 Desember 2024 melalui Trend Asia Corner. Kampanye ini mengajak penikmat musik metal-rock untuk terus bersuara dan menyuarakan setiap krisis yang dihadapi, khususnya krisis iklim yang semakin mengancam. 

“Kampanye #BersuaraTiapHari sudah kami mulai sejak Pilpres 2024 lalu. Namun, kami ingin menegaskan bahwa suara rakyat tidak boleh berhenti hanya saat pemilu, melainkan harus lantang setiap saat. Terlebih sekarang, suara kritis dari rakyat sangat dibutuhkan untuk mengawal kebijakan pemerintah,” ujar Irfan Alghifari, Tim Kampanye dan Advokasi Trend Asia.

Krisis iklim semakin terasa di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Jawa Tengah. Banyak masyarakat, terutama petani, mengalami penurunan pendapatan akibat cuaca yang tidak menentu. Sementara itu, banjir bandang kerap melanda berbagai daerah di musim hujan. 

Di pesisir utara Jawa Tengah, ancaman tenggelamnya ruang hidup semakin nyata. Situasi diperparah oleh ketidakpastian ekonomi, rendahnya kesejahteraan pekerja, rezim upah murah, serta kenaikan kebutuhan hidup dan ancaman pajak yang semakin membebani.

Dalam Trend Asia Corner, pengunjung Rock in Solo disuguhkan berbagai aktivitas menarik seperti pemutaran film dokumenter, diskusi bersama masyarakat adat dan musisi, stand-up comedy, serta permainan interaktif. Selain itu, ada juga fasilitas photo box gratis dan layanan sablon kaos gratis dengan pesan #BersuaraTiapHari.

 

Peluncuran Video Klip “Prahara Jenggala” Kolaborasi dengan Down For Life

Momentum Rock in Solo juga dimanfaatkan oleh Trend Asia untuk meluncurkan video klip "Prahara Jenggala" hasil kolaborasi dengan Down For Life, grup musik metal asal Surakarta, Jawa Tengah. Video klip ini menyoroti kehidupan masyarakat adat Dayak Kualan Hilir di Kalimantan Barat yang menghadapi ancaman serius akibat konsesi perusahaan.

Stephanus Adjie, perwakilan dari Down For Life, menyatakan bahwa fenomena kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial di Indonesia harus terus disuarakan. “Kami sebagai musisi metal merasa kondisi negara dalam 2-3 tahun terakhir memantik amarah. Melalui karya ini, kami ingin berteriak lantang atas apa yang terjadi. Bahkan di pinggir Kali Pepe, kita bisa melihat kontras antara kekuasaan orang kaya dan potret kemiskinan,”ungkap Adjie.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Adjie menambahkan bahwa meskipun Down For Life berasal dari Jawa Tengah, mereka memilih Kalimantan Baratsebagai lokasi video klip untuk menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan adalah masalah yang terjadi di seluruh Indonesia. “Kami ingin pendengar kami sadar bahwa perusakan lingkungan memicu ketimpangan sosial. Pemerintah yang kecanduan pembangunan sering kali mengabaikan kemanusiaan dan merampas ruang hidup masyarakat adat,” tegas Adjie. Saat ini, masyarakat adat Dayak Kualan Hilir di Desa Kualan Hilir, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, tengah menghadapi ancaman besar. Hutan yang turun-temurun menjadi sumber kehidupan mereka kini diincar oleh perusahaan hanya berjarak 1 kilometer dari desa. “Hutan kami dicuri oleh perusahaan. Padahal hutan itu sudah kami kelola sejak lama. Hutan adalah sumber penghidupan kami. Di sana kami menanam durian, bambu, sawit, tengkawang, karet, dan banyak tanaman lainnya. Bahkan obat-obatan alami pun kami dapat dari hutan,” ungkap Ratius, warga Dayak Kualan Hilir.

Halaman
Show All
Aditia Saputra, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan