Demi Transformasi Energi Hijau, Persiapan SDM Jadi Elemen Utama yang Harus Disorot

Dalam sebuah seminar bertema transisi energi hijau yang digagas Hioki Indonesia, ditekankan bahwa salah satu elemen terpenting untuk mendukungnya adalah persiapan sumber daya manusia atau SDM.

Diperbarui 04 Juni 2024, 14:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Indonesia sedang mengusung komitmen terhadap transisi energi ramah lingkungan agar bisa mencapai Net-Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat dari itu. Salah satu elemen terpenting untuk mendukung transisi energi hijau menuju Net Zero Emission (NZE) adalah persiapan sumber daya manusia atau SDM.

Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh PT. Hioki Electric Indonesia (Hioki Indonesia) bertema "Leading the Future: Expanding Horizon of Indonesia Energy Transition", di hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta (27/5/2024), hal tersebut ditekankan sebagai materi utama.

Seminar ini disampaikan oleh para pakar di industri energi hijau. Para pembicara yang turut menyampaikan materi, terdiri dari President Director Hioki Indonesia - Tisna Irawan, President Hioki E.E Corporation - Takahiro Okazawa, Perwakilan ITB - Dr. Ir. Agus Purwadi.

Hadir juga M.T, Hioki Indonesia Training Center Advisor - Ir. Syahirul Hakim Ad Dairi, VP Hidrogen & Dekarbonasi PT. PLN (Persero) - Ricky Cahya Andrian, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional - Dr. Ir. Djoko Siswanto, M.B.A, dan Koordinator Penerapan Teknologi Konservasi Energi EBTKE ESDM - Nurcahyanto, S.T., M.Sc.

“Transisi energi hijau menuju energi bersih dan ramah lingkungan telah menjadi kesepakatan global dan akan mengubah banyak hal, seperti perubahan lapangan kerja, skenario pembangunan, orientasi bisnis dan lain-lain, baik dalam skala global/regional maupun nasional,” ungkap Agus Purwadi dalam keterangannya belum lama ini.

 

Diperlukan pemahaman hingga mekanisme yang tepat

Lebih lanjut, disampaikan bahwa ekosistem transisi energi hijau juga membuka peluang dan tantangan baru. Sehingga, diperlukan pemahaman, strategi, dan mekanisme yang tepat untuk mengidentifikasi tantangan/peluang saat ini dan tantangan/peluang masa depan. Sehingga, transisi energi rendah karbon yang adil dan merata dapat terlaksana dengan baik.

“HIOKI mengambil peranan cukup penting untuk menuju energi hijau. Alat-alat kalibrasi dan pengukuran yang kami miliki, bertujuan untuk menjaga standar kualitas dari produk baterai yang dipakai pada kendaraan listrik dan juga produk-produk industri lainnya,” Tisna Irawan mengatakan.

 

Tantangan Implementasi Kebijakan Energi Nasional

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Djoko Siswanto memberikan materi terkait “Tantangan Implementasi Kebijakan Energi Nasional dan NZE”. Ia menyampaikan upaya untuk mencapai transisi energi harus bisa melakukan langkah-langkah seperti Pembangunan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) harus dilakukan sesuai potensi daerah atau setempat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Pembangunan infrastruktur jaringan listrik yang menjangkau daerah terpencil. Penerapan pajak karbon untuk meningkatkan daya saing EBT, serta mendorong perbankan untuk pengembangan EBT dengan bunga rendah. “Selain itu perlu dibangun industri pendukung di dalam negeri antara lain: solar cell, baterai, mobil dan motor listrik, pabrik hidrogen, dan lain-lain yang memiliki potensi keberlanjutan tinggi dan prospek di dalam industri energi,” lanjut Djoko.

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan