Resensi Film Not Friends: Bicara Persahabatan dan Bukan Cinta Melulu, Segar Karena Kaya Romantika

Not Friends karya sineas Atta Hemwadee adalah wakil Thailand di ajang Oscar 2024 kategori Film Internasional Terbaik alias Film Berbahasa Asing Terbaik.

Diterbitkan 21 Januari 2024, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ada tema status sosial, putus cinta, perundungan, hingga cita-cita. Tema yang tidak jauh dari pergaulan SMA di belahan negara manapun hingga audiens (termasuk Indonesia, tentunya) bisa terkoneksi dengan mudah.

Panjang Umur, Sinema!

Topik-topik serius ini dijahit dalam desain komedi. Kadang, karakternya tampak komikal. Konyol. Serius. Selengekan kalau tak mau dibilang absurd. Celetukannya pun terkesan spontan hingga penonton curiga ini improvisasi.

Atta Hemwadee menjadikan Not Friends sebagai surat cinta kepada sinema. Ia layaknya Super 8 (JJ Abrams, 2011) atau malah Hugo (Marten Scorsese, 2011) di level yang lebih ringan sekaligus renyah.

Suasana kocak didapat dari proses pembuatan film pendek dengan Christopher Nolan dan Mission Impossible sumber acuan. Penghormatan terhadap Hollywood sebagai salah satu kiblat film dunia digarisbawahi dengan celetukan: Panjang umur, sinema!

 

Tema Persahabatan Sebagai Jantung Film

Not Friends dari aspek tema terasa fresh. Tema persahabatan adalah jantungnya. Penghormatan terhadap sinema adalah semangatnya. Keduanya dieksekusi dengan performa para bintang yang bersinar terang.

Anthony Buisseret sebagai karakter abu-abu terasa believable sekaligus konyol. Kadang, tak berpikir panjang. Kadang, idealis dalam menghadapi konflik tak terduga. Fluktuasi emosinya merefleksikan anak SMA pada umumnya. Dekat dan nyata.

Bokeh Bukan Pemanis

Di sisi lain, ada Pisitpol Ekaphongpisit yang berhasil membawakan Joe sebagai “biang kerok” sekaligus sumber motivasi pertemanan. Tanpa karakter ini, Not Friends dengan romantika masa sekolahnya, tak akan ada.

Catatan khusus untuk karakter Bokeh. Ia bukan sekadar pemanis lantaran cantik dan gemas. Di tangan Thitiya Jirapornsilp, ia menjadi polisi moral lalu di tengah jalan malah bingung sendiri oleh konsep persahabatan yang diyakini sejak awal.

 

Layak Disebut Mahakarya

Separuh pertama Not Friends terasa penuh warna dan hura-hura kalau tak mau dibilang ugal-ugalan. Setelahnya, ia memotret romantika pertemanan secara serius seraya mengajak penonton mendefinisikan ulang sahabat hingga integritas.

Fakta di beberapa adegan ada sejumput kisah cinta, memang tak terelakkan. Namanya juga anak sekolah. Namun, menu utama Not Friends tetap pertemanan yang dikemas, diolah, dan disajikan dalam takaran pas.

Tidak terlalu manis. Tidak terlalu getir oleh tragedi. Penuh warna tapi tak sampai bikin sakit mata. Ditegakkan dengan fondasi drama tanpa kesan lebay. Karenanya, tidak sulit untuk menyebut Not Friends sebagai mahakarya.

 

 

Pemain: Anthony Buisseret, Pisitpol Ekaphongpisit, Thitiya Jirapornsilp, Duangjai Hiransri, Ingkarat Damrongsakkul, Natticha Chantaravareelekha

Produser: Vanridee Pongsittisak, Baz Poonpiriya

Sutradara: Atta Hemwadee

Penulis: Atta Hemwadee

Produksi: Houseton Films

Durasi: 13 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan