Resensi Film The Pope's Exorcist: Tragedi Bocah Kerasukan Setan, Nekat Cekik Ibunya dan Menantang Pastor

Film The Pope’s Exorcist yangdiadaptasi dari buku An Exorcist Tells His Story dan An Exorcist: More Stories. Russell Crowe memerankan Pastor Gabriele Amorth.

Diterbitkan 07 April 2023, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Legion bersaksi bahwa Yesus sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi dan memohon agar Kristus tak menyiksanya. Saat diusir, Legion minta “izin” untuk pindah dari tubuh manusia yang dirasuk kepada kawanan babi di tebing.

Lebih Bahaya dari Legion

The Pope’s Exorcist mencatat ada iblis yang lebih berbahaya daripada Legion. Kehadirannya divisualkan dalam perubahan diri Henry. Sebagian besar film ini berisi perjuangan mengusir setan dan upaya dua pastor berdamai dengan masa lalu yang suram.

Russell Crowe mempresentasikan Gabriel sebagai pastor berjiwa bebas. Akrab dengan kopi pahit karena meyakini gula adalah pekerjaan setan. Ia juga tak mengharamkan miras, berani melawan saat disidang sejumlah petinggi Katolik Eropa.

Karakteristik ini mengubah wajah The Pope’s Exorcist yang mestinya seram dan gelap menjadi lebih santai sekaligus cair. Kerap mengundang tawa termasuk di momen yang seharusnya dramatis dan deep.

 

Visual Lelembut dan Kehadirannya

Horor identik dengan jumpscare dan penampakan mengerikan. Itu tak tampak dalam The Pope’s Exorcist. Tampaknya, Julius Avery berpijak pada prinsip setan sebagai lelembut. Tak terlihat oleh mata awam namun kehadirannya dapat dirasakan dalam sejumlah pertanda.

Sisi gelap karakterlah yang dimanfaatkan untuk mempresentasikan kehadiran setan. Babak akhir film ini menandai peralihan genre horor menjadi semi petualangan fantasi komplit dengan efek visual yang terasa nanggung alias kurang smooth.

 

Agak Bingung

The Pope’s Exorcist mencoba menjadi genre serbaada. Paket lengkap. Pada akhirnya, ia kurang klimaks. Momen mengerikan juga jarang ada kecuali satu dua kali dentuman musik yang bikin kaget. Patut disayangkan memang.

Di luar genrenya yang “bingung,” kita masih bisa berharap dari performa Russell Crowe yang santai, effortless, karismatik, dan bisa diandalkan. Pujian juga layak diberikan kepada aktor cilik Peter DeSouza-Feighoney yang sejak awal mencuri perhatian.

 

Bukan Film Sempurna

Wajah datar, tanpa suara, dengan postur cungkring, membuat audiens menaruh perhatian dan kepikiran dengan bocah ini. Daniel Zovatto yang sekilas mirip Tobey Maguire juga menjadi umpan sekaligus rekan sepadan untuk seniornya.

The Pope’s Exorcist bukan horor sempurna. Terkesan medioker. Namun semangat film ini jelas. Ia menghibur seraya mengingatkan bahwa dosa bisa mencari kita. Manusia harus selesai atau minimal berdamai dengan masa lalu.

Ini penting mengingat iblis lihai memanfaatkan lubang di hati kita untuk menjauh dari Sang Khalik. Usai menonton, saya jadi kepikiran: Sudahkah saya berdamai dengan masa lalu? Adakah lubang di hati yang mesti disumbat agar tak dimanfaatkan setan?

 

 

Pemain: Russell Crowe, Daniel Zovatto, Alex Essoe, Franco Nero, Peter DeSouza-Feighoney, Laurel Marsden

Produser: Doug Belgrad, Michael Patrick Kaczmarek, Jeff Katz

Sutradara: Julius Avery

Penulis: Michael Petroni, Evan Spiliotopoulos

Produksi: Screen Gems, 2.0 Entertainment, Loyola Productions

Durasi: 103 menit

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan