Dukung Zero Emission 2060, Ceria Garap Energi Hijau dan Baterai Kendaraan Listrik

Ceria kembangkan lima tahap pengolahan dan pemurnian nikel untuk energi hijau.

Diperbarui 12 Maret 2023, 23:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah punya keinginan kuat agar Indonesia berperan dalam energi hijau yang belakangan populer karena dijawantahkan melalui program pemanfaatan kendaraan listrik. Apalagi, Indonesia kaya dengan nikel yang merupakan bahan penting pembuatan baterai kendaraan listrik. Diperkirakan, Indonesia punya 11,7 miliar ton bijih nikel dan cadangannya yang mencapai 4,5 miliar ton.

Dalam Mining and Finance Forum di The Dharmawangsa, Rabu (8/3/2023), Presiden Direktur PT. Ceria Nugraha Indotama, Derian Sakmiwata mengatakan, Indonesia adalah raja nikel. Oleh sebab itu, dia serius dalam menggarap potensi nikel di Indonesia. “Kami ingin membuat sampai lini baterai,’’ ujarnya.

Ceria akan mengembangkan fasilitas pengolahan dan pemurnian yang dapat mengokah bijih nikel kadar tinggi (saprolite) dan bijih nikel kadar rendah (limonite) yang memiliki kandungan cobalt yang baik dengan menggunakan dua teknologi.

Bijih saprolite diolah menggunakan teknologi RKEF terkini, yaitu rectangular RKEF dengan kapasitas 72MVA untuk setiap linenya. Sementara bijih limonite akan diolah dengan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).

Saat ini, dia menyebut Ceria sedang membangun line 1 smelter dari target 4 smelter RKEF dengan tungku persegi panjang 72 MVA dengan kapasitas produksi FeNi 252.700tpa dengan kadar 22 persen nikel. Nanti, kapasitas produksi smelter itu akan mengandung logam Nikel sebanyak 55.600 ton pada produknya.

Fasilitas HPAL akan dibangun secara bertahap dan diharapkan dapat memiliki kapasitas produksi total sebesar 312,000 ton mixed hydroxide precipitation (MHP) yang di dalamnya terkandung 120,000 ton nikel dan 12,300 ton cobalt.

 

Tahapan Pengembangan Awal Menuju Hilirisasi Nikel

Ceria melihat pengembangan smelter RKEF dan HPAL sebagai tahapan pengembangan awal menuju hilirisasi nikel. Ceria merencanakan pengembangan yang terdiri atas 5 tahapan pengembangan proyek pengolahan dan pemurnian bijih nikel.

Untuk bijih nikel saprolite yang diolah melalui smelter RKEF dan memproduksi ferronickel akan dilanjutkan pengolahannya hingga memproduksi nickel matte sampai produk pengolahan antara akhir nickel sulphate.

Sementara bijih limonite yang diolah melalui pabrik HPAL untuk memproduksi MHP akan dilanjutkan sampai nickel sulphate, lalu dilanjutkan menjadi precursors (katoda dan anoda) yang hasil akhirnya adalah battery cells dan battery pack.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

’’Kami berkomitmen untuk mendukung program net zero emission pemerintah pada 2060. Kami dalam proses membangun pabrik untuk baterai,’’ imbuh Derian Sakmiwata. Lebih lanjut dia menjelaskan, Ceria punya tujuan untuk menjadi pemain integral dalam upaya Indonesia untuk menjadi pusat produksi kendaraan listrik dan baterai global. Oleh sebab itu, dia juga berkomitmen pada praktik berkelanjutan dan inovasi teknologi.

Halaman
Show All
Surya Hadiansyah, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan