Resensi Film Force Majeure: Liburan Hari Pertama Asyik, Besoknya Salju Longsor dan Papa Mama Ribut

Film Force Majeure punya rekam jejak ciamik di kancah festival. Menang di Festival Film Cannes, ia dinominasikan di Golden Globe Awards hingga BAFTA.

Diterbitkan 08 November 2022, 22:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Force Majeure dirilis pada 2014 dan kini bisa diakses secara legal lewat platform streaming KlikFilm mulai November 2022. Meski diluncurkan sewindu silam, tema film Force Majeure langgeng.

Karya sineas Ruben Ostlund membahas cinta diuji saat melewati masa sulit, apalagi jika fase pahit itu terkait dengan nyawa. Ego kadang meledak di sana. Cinta kemudian dipertanyakan eksistensinya.

Force Majeure yang dirilis dengan judul internasional Turist punya rekam jejak ciamik di kancah festival. Menang di Festival Film Cannes, ia dinominasikan di Golden Globe Awards dan BAFTA untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

Sayang, komite Oscars kala itu tak meliriknya. Jika punya waktu senggang dan ingin mengulik koleksi film lawas di OTT, Force Majeure dengan alur yang tidak njelimet layak tonton. Berikut resensi film atau review film Force Majeure.

 

Salju Longsor, Bapak Kabur

Pasutri Tomas (Johannes Bah Kuhnke) dan Ebba (Lisa Loven Kongsli) mengajak putra-putri mereka, yakni Vera (Clara Wettergren) serta Harry (Vincent Wettergren) liburan ke resor mewah French Alps.

Mulanya, liburan tampak menyenangkan. Suatu pagi, mereka sarapan menghadap bukti berlapis es. Mendadak terdengar suara gemuruh. Beberapa detik kemudian salju longsor. Harry histeris ketakutan.

Tomas meyakinkan anak dan istri tak perlu pindah tempat. Semua akan baik-baik saja. Apes, salju dari ketinggian 50 meter rontok hingga nyaris menerjang restoran. Butir-butir es berhamburan. Ebba refleks melindungi Vera dan Harry.

Tomas kabur membawa sarung tangan dan ponsel yang dipakai merekam longsoran salju. Mendapati fakta ini, Ebba naik pitam. Pertengkaran keduanya meledak di depan kamar hingga Vera dan Harry ketakutan.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Terma Simpel Yang Berkembang

Di tangan Ruben Ostlund, tema simpel ini berkembang menjadi drama keluarga yang bikin kepikiran. Sang sineas menempatkan kita sebagai saksi kejadian suami kabur saat nyawa istri dan anak terancam.

Aksi kabur ini tak dibingkai dengan kamera closeup atau adegan super-detail tapi kita tahu, tak ada perlindungan dari kepala keluarga dan karenanya, penonton merasa ini janggal.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan