Resensi Film Cross The Line: Jungkir Balik Orang Susah, Rela Berbuat Kelewat Batas Demi Rp 35 Juta

Film Cross The Line karya sineas Razka Robby Ertanto menempatkan Shenina Cinnamon dan Chicco Kurniawan sebagai pemeran utama. Berikut ulasannya.

Diperbarui 28 Oktober 2022, 14:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Cross The Line mengisi slot Jakarta World Cinema Week 2022 alias WCW 2022. Karya sutradara Razka Robby Ertanto ini dibintangi Shenina Cinnamon dan Chicco Kurniawan.

Film Cross The Line mengisahkan Maya (Sheninna) dan Harris (Chicco) yang mengadu nasib dengan bekerja sebagai anak buah kapal atau ABK padahal bermimpi jadi TKI di negeri orang.

Harris menjadi petugas mekanik sekaligus mengecek muatan sejumlah truk yang menumpangi kapal. Maya menyambung hidup sebagai petugas kebersihan termasuk beres-beres di toilet.

Cross The Line yang diproduksi KlikFilm belum mengumumkan jadwal rilis apakah di platform streaming atau jaringan bioskop. Berikut resensi film atau review film Cross The Line.

 

Maya dan Kekecewaan

Maya kecewa karena janji bekerja sebagai TKW tak kunjung digenapi agen, padahal ia telah merogoh kocek belasan juta rupiah. Maksud hati ingin jadi pahlawan devisa di negeri orang malah jadi budak di negara sendiri.

Suatu hari, Cici (Oni Seroja), seorang muncikari yang beroperasi di kapal menawarinya “kerja sampingan.” Semula Maya menolak. Namun, saat menerima telepon adik yang mengabarkan ibunya dilarikan ke rumah sakit, pendirian Maya goyah.

Ia butuh duit 35 juta rupiah untuk pulang dan mengurus ibunda. Harris yang depresi karena nasib tak kunjung membaik tega makan teman sendiri. Ia membantu penyelundupan sejumlah cewek ke negara tetangga. Aksi Maya dan Harris melanggar batas berakibat fatal.

 

Bilik-bilik Kapal

Cross The Line menyajikan cerita dengan latar unik yakni kehidupan di pelabuhan dan bilik-bilik kapal. Ujung tombak film ini adalah karakter Maya dan Harris yang dibawakan dengan natural oleh duet maut Sheninna-Chicco.

Sejumlah adegan intim dieksekusi keduanya tanpa jarak, intens, seolah keduanya benar punya rasa saling memiliki. Dewasa, berani, tanpa tedeng aling-aling. Mereka tampak believable sebagai (maaf) orang susah.

 

Cinta Benci Rindu Ribut

Santai saja lari dari kondisi susah dengan berhubungan intim. Batas antara cinta, benci, rindu, dan ribut dalam hidup mereka setebal kulit bawang. Tarik ulur di antara keduanya adalah magnet film ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Daya tarik lain datang dari pendatang baru Oni Seroja. Baru sekali main film, penampilannya sebagai muncikari meyakinkan penonton bahwa peran itu ditakdirkan untuknya.  

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan