Sukses

Mengenang Nurnaningsih, Aktris Film Harimau Tjampa yang Semasa Hidupnya Pernah Tampil Berani dan Menimbulkan Pertentangan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia pernah memiliki seorang aktris berbakat pada pertengahan abad 20 silam. Mendiang Nurnaningsih yang mengawali kariernya sejak 1953 melalui film Krisis, kerap menjadi sorotan masyarakat setelah ia tampil dalam film Harimau Tjampa yang rilis setahun setelahnya, yakni pada tahun 1954.

Film karya mendiang sineas D. Djajakusuma yang bergenre drama dan laga itu mennyorot masyarakat Minang sebagai latar belakang ceritanya. Bahkan Harimau Tjampa sukses meraih penghargaan kategori Skenario Terbaik di Festival Film Indonesia pada 1955 silam.

Dalam film Harimau Tjampa, Nurnaningsih secara berani tampil nyaris tanpa busana di salah satu adegannya. Keberaniannya itu membuatnya menjadi aktris keturunan pribumi pertama yang berani melakukannya di depan kamera.

Atas keputusannya itu, terjadilah pertentangan antara para seniman dan badan sensor. Namun yang lebih menghebohkan lagi adalah tersebarnya foto tanpa busana sang aktris yang beredar di Jakarta pada pertengahan 1954. Kejadian ini sempat mempengaruhi kariernya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Maksud Sang Aktris

Dalam buku A to Z about Indonesian Film karya penulis Ekky Imanjaya yang diterbitkan Mizan, Bandung pada 2006 (melansir Wikipedia), Nurnaningsih pernah berujar bahwa kala itu ia bermaksud untuk mengubah sudut pandang masyarakat terhadap dunia seni.

"Saya tidak akan memerosotkan kesenian, melainkan hendak melenyapkan pandangan-pandangan kolot yang masih terdapat dalam kesenian Indonesia," begitu disampaikan sang aktris dalam kutipan di buku tersebut.

 

3 dari 4 halaman

Terkena Cancel Culture pada Masanya

Setelah melontarkan pernyataan tersebut, pada 1954, potret Nurnaningsih tanpa busana yang diambil oleh fotografer tak dikenal beredar di ibu kota. Hal ini menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat hingga sang aktris sempat diperiksa polisi pada awal Oktober 1954.

Nurnaningsih pun diboikot oleh masyarakat yang pada zaman sekarang juga dikenal dengan cancel culture. Ia dinilai telah melanggar adat-adat ketimuran. Film-film yang dibintanginya juga dilarang tayang di Kalimantan Timur dan tak muncul lagi di media massa setelah tampil dalam film Kebun Binatang setahun setelahnya.

 

4 dari 4 halaman

Tampil Lagi

Pergantian kepemimpinan di Indonesia yang lebih cenderung ke Barat tampaknya membuat Nurnaningsih percaya diri kembali untuk terjun ke dunia film. Setelah 12 tahun keliling Indonesia menjadi seniman sketsa, aktris panggung, penyanyi, bahkan guru dan penjahit, ia muncul lagi di film Djakarta, Hongkong, Macao pada 1968.

Tak kurang dari 10 film yang dibintanginya setelah itu termasuk judul-judul yang cukup terkenal yaitu Nafsu Gila (1973), Bayang-Bayang Kelabu (1979), dan Malam Satu Suro (1988).

Nurnaningsih yang lahir di Surabaya, Jawa Timur saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda pada 5 Desember 1925 silam, meninggal dunia pada 21 Maret 2004 di usia 78 tahun. Semasa hidup ia dikaruniai dua orang anak.