Resensi Serial Hitam: Pak Rahmat dan Paijo Hilang Diduga Dimakan Zombi, Kasus Ini Dilapisi Intrik Politik

Hitam, serial horor sebanyak empat episode yang disutradarai Sidharta Tata, ini dibintangi Sara Fajira dan Donny Damara.

Diperbarui 22 Juni 2021, 13:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Mudah saja untuk melabelinya penjahat meski kita tahu, ia tak mudah ditangkap. Yang mengundang empati, tentu performa Eka Nusa Pertiwi. Tipe gadis desa idealis yang bersuara lantang ketika hidupnya terusik.

Aksara Dena tipe polisi muda kebanyakan. Namun beban yang disangga Gilang berhasil dibawakan dengan pas. Sidharta Tata menggulir plot Hitam tanpa terasa berat sebelah.

Tak Seperti Kebanyakan Zombi

Kentara betul, ia tak mau Hitam menjadi serial atau film zombi generik dengan pola terinfeksi-makan orang-bikin onar-ulangi. Harus ada kearifan lokal meski zombi bukan “barang lokal.”

Kearifan lokal ini dipoles lewat dialog yang mayoritas menggunakan bahasa Jawa dari Ngoko sampai Krama Inggil. Kosakata yang jarang terdengar kembali familier. Gaman misalnya. Yang artinya, senjata tajam. Berikutnya, tata artistik berupa rumah dengan nuansa kayu.

Rumah warga desa Pak Dibyo mayoritas joglo dengan teras membentang dan banyak pintu. Pasar tradisional dengan penjual dan pembeli nyang-nyangan (tawar menawar -red), plus gali (preman) yang hobi keplek kertu lan ndem-ndeman (main kartu dan mabuk-mabukan).

Peran Penting Adegan Pembuka

Para premannya pun tipikal dengan perilaku ugal-ugalan, perangai sangar, sithik-sithik misuh sak karepe dhewe (sebentar-sebentar mengumpat seenak jidat -red).

Sidharta Tata terbilang berhasil menjaga tuturan sehingga konflik orang hilang diduga dimakan zombi ini bisa berjalan seiring dengan politik kampung yang dimulai dengan revitalisasi pasar berujung upaya pelengseran.

Keterbatasan episode dimanfaatkan sutradara dengan optimal. Menit-menit awal alias opening mengemban fungsi beragam dari mengenalkan latar belakang salah satu tokoh atau menyajikan adegan yang "hilang" untuk menjawab penasaran penonton.

Adegan Puncak Jadi Gong

Jika dibandingkan, tiap episode punya tensi ketegangan yang terus meningkat. Sara Fajira sebagai pendatang baru layak diapresiasi. Ia berani gila. Transformasi wajah dan gesturnya bikin deg-degan.

Sinematografi serial ini pun sejatinya standar layar lebar. Gambar-gambar dengan warna pucat menguatkan nuansa suram, mampu mewakili kondisi desa yang dipimpin Dibyo. Jangan lupa, adegan puncak serial ini benar-benar jadi gong.

Elemen akting, artistik, dan visualnya menjadi magnet yang menarik penonton masuk ke desa yang penuh dengan orang-orang “gila.” Selamat datang di desa Pak Dibyo. Anda bisa masuk lewat platform streaming Klik Film dengan biaya langganan hanya 10 ribu rupiah per minggu.

 

 

Pemain: Donny Damara, Sara Fajira, Eka Nusa Pertiwi, Aksara Dena, Seteng A. Yuniawan, Eka Wahyu Primadani, Nunung Rieta, Ernanto Kusumo, M.N. Qomaruddin

Produser: Ifa Isfansyah

Sutradara: Sidharta Tata

Penulis: Fajar Martha Santosa, Sandi Papuntungan

Produksi: Klik Film, Four Colours Films

Durasi: 4 episode

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan