Menyingkap Keterlibatan Pekerja Kreatif Lokal di Balik Film Tarian Lengger Maut

Film ini menjadi lebih menarik karena ada banyak keterlibatan pekerja kreatif lokal yang bahu membahu mengangkat isu kedaerahan ke layar lebar.

Diterbitkan 16 Mei 2021, 09:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Selain talenta lokal, film Tarian Lengger Maut juga mengambil lokasi syuting di daerah ngapak tersebut. Sehingga tak heran suasana perdesaan begitu kental dalam film ini.

"Seratus persen, cuma beberapa shot ada di studio. Secara keseluruhan scene by scene, secara khusus di Purbalingga," kata Eye.

Dialek Bahasa Jawa Banyumasan atau yang biasa disebut Ngapak juga ditemukan dalam film ini. Bahasa yang lahir dari percampuran antara Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa ini jarang sekali ditemukan dalam media TV atau media mainstream lainnya.

Sebagai wong banyumasan, Eye pun merasa perlu mengangkat akan bahasa ini melalui karya dalam dialog dalam film.

"Tarian ini jelas dari Banyumas, jadi mau enggak mau ditampilkan dialek Banyumas," ucapnya.

Eye menambahkan, proyek film hasil kerja sama Aenigma Pictures membuat para pekerja kreatif lokal semakin bersemangat dalam menghasilkan karya.

"Jadi sampai saat ini mereka masih bersemangat karena ini baru pertama garap film layar lebar. Sampai saat ini ikatan keluarga juga masih terjaga dan sangat erat," ujarnya.

Terapkan Larangan Sampah Sekali Pakai

Aryanna Yuris, produser film dari Aenigma Pictures mengatakan, dalam proses pembuatan film Tarian Lengger Maut, seluruh kru dan pemeran menerapkan pengurangan sampah konsumsi. Selama 16 hari di kaki Gunung Slamet Proses pengambilan gambar film tersebut, mereka menerapkan pelarangan penggunaan sampah sekali pakai.

"Saya dan Eye sepakat untuk mencoba mengurangi sampah bungkus sekali pakai untuk makan dan minum. Walau kecil tapi kalau 100 orang selama 16 hari, mengurangi 3 botol plastik saja cukup ada pengaruh," kata Aryanna.

Perlu diketahui, film ini merupakan produksi film pertama di Indonesia yang menerapkan zero waste movement. Tim produksi berkomitmen untuk mengurangi sampah yang dihasilkan dalam produksi.

Adapun tim produksi menukar pemakaian alat makan dan gelas sekali pakai dengan peralatan yang dapat digunakan kembali. Air mineral dalam kemasan ditiadakan dan botol minum dibagikan ke kru dan pemain untuk mengisi ulang air minum.

Aryanna mengatakan, film ini juga menjadi bagian dari apresiasi budaya dan daerah di mana film tersebut diambil. Oleh karena itu, film ini menampilkan lengger, alat musik calung, bahasa ngapak, hingga kuliner berupa goreng mendoan yang menjadi ciri khas daerah tersebut.

"Karena kita memang membawa cerita yang latarnya di desa fiksi di Banyumas. Dari film ini kita ingin menampilkan Banyumas," ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Huyogo Simbolon, Telni RusmitantriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan