Sukses

Resensi Film Surga yang Tak Dirindukan 3: Paruh Kedua Proses Detail Mengurai Prasangka dalam Cinta

Liputan6.com, Jakarta Surga Yang Tak Dirindukan (SYTD) kali pertama dirilis pada Juli 2015, sebagai salah satu peserta kontes Lebaran. Ia bersaing dengan sejumlah film termasuk Comic 8: Casino Kings Part 1. Kalah di pekan pertama, SYTD membalap dengan hasil akhir box office 1,5 juta penonton.

Dirancang sebagai waralaba dengan Prasetya (Fedi Nuril) sebagai pusat universe, SYTD dibuat sekuel pada 2017. Kursi sutradara yang semula diduduki Kuntz Agus kala itu diambil alih Hanung Bramantyo. Dirilis Februari 2017, film ini menyedot 1,6 juta penonton.

Jilid ketiga film ini terhalang pandemi Covid-19. Surga Yang Tak Dirindukan 3 dirilis di platform streaming Disney+ Hotstar. Ditangani Pritagita Arianegara, akankah film ini lebih baik dari para pendahulunya? Berikut resensi film Surga yang Tak Dirindukan 3.

2 dari 7 halaman

Masa Lalu Meirose

Pras dan Meirose (Marsha Timothy) hidup bahagia bareng Nadia (Zara Leola) serta Akbar (Ali Fikry). Buat yang tak menonton film sebelumnya, Nadia adalah putri dari pernikahan Pras dan Arini (Laudya Cynthia Bella).

Akbar putra Meirose dengan laki-laki yang dulu berjanji akan menikahinya namun menghilang. Sepeninggal Arini, kehidupan keluarga Pras baik-baik saja. Musibah datang ketika staf keuangan melarikan uang dengan dalih umrah ke Tanah Suci. Masalah lain datang dari masa lalu Meirose.

Suatu hari, Ray Sastrowardoyo (Reza Rahadian) yang mengaku sebagai ayah kandung Akbar hadir menawarkan pinjaman tanpa bunga kepada Pras yang didemo para pekerja, menuntut pembayaran gaji. Kehadiran Ray membuat Meirose syok.

3 dari 7 halaman

Pras Sebagai Pusat Universe

Apalagi, Ray ketua Yayasan yang menaungi sekolah Akbar. Ray rupanya menghilang disertai alasan kuat. Ibunda Ray, Nungky (Lydia Kandou) berharap putranya menemukan cinta yang telah lama menghilang. Di sisi lain, Pras mencium gelagat tak sedap sejak Ray hadir.

Pras memang masih jadi pusat universe namun Meirose di tangan Marsha ternyata magnet terkuat. Ia lebih dewasa. Emosinya mapan. Drama ini disokong sejumlah konflik batin. Pertama, keyakinan Pras pada pasangan terguncang.

Kedua, Meirose di persimpangan. Persimpangan ini bisa ditafsirkan ke dalam banyak hal termasuk menyikapi kehadiran Ray dan upaya keluar dari bayang-bayang Arini untuk jadi diri sendiri.

4 dari 7 halaman

Performa Reza Rahadian

Reza seperti biasa tampil meyakinkan. Hanya, penampilannya sedikit banyak masih mengingatkan kita pada Dokter Syarif di jilid kedua. Gaya rambut dan warna vokal sebenarnya bisa dibuat lain agar garis perbedaan dua tokoh ini menebal.

Secara keseluruhan, SYTD terbagi dalam dua paruh. Paruh pertama terasa mengambang dan ada sejumlah catatan kritis. Dari kali pertama nama Ray disebut mestinya, Meirose menaruh curiga.

Termasuk ketika berinteraksi dengan jarak setipis pintu dan kaca jendela mobil. Kecurigaan Ray mestinya menguat. Namun kita tak merasakan itu hingga tatap muka yang paling dinanti terpampang di layar. Agak gimana, gitu.

5 dari 7 halaman

Pras dan Perputaran Karma

Sejumlah catatan di paruh pertama ini ditebus dengan penyelesaian konflik yang tersaji lebih detail sekaligus indah. Persoalan utama SYTD 3, dugaan yang belum terkonfirmasi kebenarannya.

Selain itu, ada perputaran karma di mana bibitnya ditabur tokoh utama lalu kini saatnya ia menuai. Dugaan ini dikonfirmasi dengan banyak teknik dari mendengar pendapat sahabat, bertanya ke hati nurani, hingga mencermati ulasan “pakar.”

6 dari 7 halaman

Pras Melangkah Jauh

Bagi yang mengikuti kisah Pras dari jilid pertama tentu tahu bahwa pria baik-baik ini telah melangkah sedemikian jauh. Di sini, Pras mencari jawaban di tempat kali pertama ia bertemu cinta.

Konfirmasi soal dugaan selingkuh dengan ulasan berbasis agama, introspeksi diri, dan gender menjadi bagian yang asyik. Dari sana, sang tokoh merefleksi diri. Penonton menjadi saksi bagaimana ia bertumbuh, mencerna, hingga memutuskan.

7 dari 7 halaman

Kelebihan Lain, Lagu Tema

SYTD 3 di paruh kedua memperlihatkan bagaimana para tokoh menyikapi prasangka tanpa banjir air mata atau teriakan histeris. Amarah, kecewa, hingga perpisahan tergambar secara dewasa.

Ini memungkinkan penonton merasakan perpisahan ketika hati masih bertaut. Kebencian berbalut rindu di saat yang sama. Merasa tak butuh namun kecarian di saat yang sama. Nyaris berakhir namun tak mau kehilangan di saat yang sama.

Kelebihan lain, soundtrack. Melly Goeslaw mengemas melodi sesuai rentang vokal BCL. “Selamanya Cinta” dibawakan dengan penuh perasaan. Di lagu ini, BCL seperti tak sedang bernyanyi melainkan membaca surat cinta. Lagu ini menajamkan suasana hati para karakter yang kita sayangi.

 

 

Pemain: Fedi Nuril, Marsha Timothy, Reza Rahadian, Zara Leola, Ali Fikry, Lydia Kandou

Produser: Manoj Punjabi

Sutradara: Pritagita Arianegara

Penulis: Alim Sudio

Produksi: MD Pictures

Durasi: 2 jam